Belajar lagi… ujian lagi (lagi-lagi)

Saya tertarik dengan sebuah tulisan seorang teman yang menceritakan tentang begitu mudahnya pelajaran yang sudah ia pahami menjadi lenyap dari kepalanya hanya berselang 2-3 hari setelah ujian dilaksanakan. Sedangkan seorang teman lainnya yang mengatakan bahwa pelajaran tersebut tidak pernah hilang dari ingatannya, bukan karena memorinya yang bagus atau karena gaya belajarnya yang baik, tapi karena memang ia sama sekali tidak belajar dan tidak memasukkan pemahaman apa pun ke dalam kepalanya sehingga memang benar, tidak ada pelajaran yang hilang dari ingatannya.

Menyoal gaya belajar dan beberapa tanggapan kurang puas dari pelajar/ mahasiswa terhadap metode belajar dan penilaian terhadap hasil pelajaran saat ini, sepertinya ada beberapa hal yang harus didudukkan terlebih dahulu. Mungkin akan lebih baik kalau hal ini kita runut dalam bentuk pertanyaan

# Mengapa kita harus belajar

Beberapa versi jawaban sudah pernah saya terima tentang mengapa kita harus belajar dan mengapa kita harus kuliah. Ada yang mengatakan bahwa kita belajar supaya kita tidak tertinggal (bukan hanya sekedar tinggal kelas, tapi tertinggal dalam hal tingkat peradaban). Selain itu, tidak sedikit juga yang mengatakan bahwa kita harus belajar supaya mudah dalam mencari pekerjaan. Atau mungkin masih banyak latar belakang dan alasan lain yang akan diungkapkan oleh teman-teman tentang mengapa kita harus belajar (di sekolah maupun kuliah). Mungkin tidak ada jawaban yang salah, tapi saya lebih suka mengatakan bahwa sedikit sekali jawaban teman-teman yang tepat.

Nah… sepertinya perlu saya sampaikan dan luruskan, terutama bagi saudara-saudaraku seiman, bahwa kita belajar/ kuliah KARENA PERINTAH ALLAH DAN RASULULLAH, bukan karena yang lain. Tholabul ‘ilmi fariidhotan ‘alaa kulli muslimin wa muslima. Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap diri muslim dan muslimah. Terserah mau ilmu apa aja (mo ilmu farmasi, kedokteran, sosial, sains, dll… pokoke ilmu yang berguna). Latar belakang ini menjadi sangat penting untuk kita dudukkan. Mengapa? karena kalau dasar kita belajar bukan karena Allah, sepertinya ada yang kurang pas kalau kita menyebut bahwa kita kuliah adalah dalam rangka ibadah, karena yang namanya ibadah haruslah Lillahi ta’aala. So, change ur mind about why u should study n try to explore the knowledge…

READ ALSO:  Pharmacology ain't that difficult...

# Mengapa harus ada ujian (UTS & UAS)

Dalam mempelajari suatu ilmu, ada yang suatu istilah yang mungkin agak jarang kita wacanakan, yakninya ASSESMENT. Secara sederhana mungkin dapat kita bahasakan MENGETAHUI TINGKAT PEMAHAMAN PELAJAR. Suatu ilmu biasanya mempunyai tingkatan. Misalnya: kimia organik 1 dan kimia organik 2 (koq jadi langsung teringat kimia organik ya…?), farmakologi 1 dan farmakologi 2, dsb. Nah… biasanya, yang namanya 2 pasti adalah lanjutan dari 1 (ada yang tidak sepakat…?). Rasanya agak mustahil kita bisa mengerti bagaimana reaksi-reaksi kimia terjadi kalau kita tidak memahami bagaimana ikatan-ikatan yang terjadi dalam suatu molekul. Dengan kata lain, kita harus mengerti dulu KO 1, barulah kita bisa mempelajari KO 2. Agak mustahil juga kita mengerti bagaimana mekanisme kerja obat-obat saraf otonom kalau kita tidak memahami terlebih dahulu bagaimana normalnya saraf otonom itu bekerja. Dengan kata lain, kita harus terlebih dahulu mengerti…. (ada yang bisa melanjutkan…? hehe…)

Nah… untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta didik terhadap suatu subjek pengajaran, tidak ada cara lain kecuali adanya assesment, atau yang saat ini kita kenal dengan ujian. Dengan kata lain, ujian adalah salah satu cara untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta didik.

Saat ini mungkin banyak di antara kita yang protes tentang entity dari ujian itu sendiri. Misalnya: soal ujian yang tidak representatif (tidak mewakili bahan perkuliahan), waktu ujian yang kurang pas, metode penilaian yang tidak fair, dll. Dari berbagai permasalahan ini, saya tertarik untuk mengomentari salah satu komentar dari sahabat yang mengatakan “rasanya tidak fair kalau proses belajar kita yang 1 semester hanya ditentukan/ divonis dalam waktu 1 hari (yaitu pas UAS)”.

Tanggapan dan protes seperti ini saya pikir tidak ada salahnya. Tapi sepertinya kita harus ingat suatu kaidah umum bahwa kalau kita mau fair,

KITA HARUS PUNYA SOLUSI UNTUK SUATU HAL YANG TIDAK KITA SEPAKATI. Artinya, kritikan harus dibarengi dengan solusi. Pertanyaannya adalah: IS THERE ANY OTHER ASSESSMENT METHOD WHICH IS BETTER THAN THE CURRENT ONE…? (bagi yang kurang mengerti pertanyaannya, nih ditranslete-in “apakah ada metode assesment yang lebih baik dari pada metode ujian yang digunakan saat ini…?).

Jawabannya adalah: untuk saat ini, dengan kondisi seperti ini, dan dengan fasilitas pendidikan seperti ini, dan dengan kondisi sivitas akademika seperti ini, metode assesment yang kita gunakan saat ini adalah metode yang paling memungkinkan. Penilaian terhadap pemahaman mahasiswa dalam suatu objek perkuliahan akan representatif 100% jika diadakan ujian lisan dengan dipanggil satu-satu oleh dosennya, lalu diberikan pertanyaan2 yang sudah disiapkan dosen. Tapi mungkin g ya…? butuh waktu berapa lama? Butuh dosen berapa orang? Mahasiswanya mau apa enggak? Tempatnya dimana ya? Dan berbagai macam kendala teknis lainnya yang akan jadi hambatan. Sebagai pertanyaan tambahan, kira-kira metode ujian di kampus-kampus top di luar negeri kayak apa ya…? (sepertinya g jauh beda tuh…)

READ ALSO:  PKM-PIMNAS 2010: Apa Kabar UNAND? Apa Kabar Farmasi?

# Mengapa tidak boleh nyontek/ cheating pas lagi ujian

Mungkin sering kita temui di lapangan (atau jangan-jangan pengalaman pribadi sebagai pelaku) bahwa kecurangan sering terjadi ketika kita ujian. Bentuk yang paling umum adalah mencontek, disamping metode lainnya seperti: dengan terang-terangan membuka buku (khusus untuk tipe dosen pengawas tertentu hal ini tidaklah fatal), saling berkomunikasi depan belakang kiri kanan, bikin jimat, dll… (kabarnya metode ini senantiasa dikembangkan dengan pemanfaatan teknologi IT, mau bocoran…?). The main question wil be: bolehkah curang dalam ujian? (pertanyaannya konyol sekali… hehe…). Yang namanya curang biasanya g boleh…

Salah satu item assessment yang sepertinya kurang mendapat perhatian dari stakeholder pendidikan adalah tentang validitas penilaian (stakeholder apaan hayo…? liat di kamus ya…!). Pihak yang berwenang (dalam hal ini lebih tepatnya adalah dosen) sepertinya kurang maksimal dalam mengusahakan bagaimana supaya nilai mahasiswa yang mereka dapatkan nantinya adalah betul-betul representasi dari pemahaman mereka. Hal ini penting supaya angka yang mereka berikan layak untuk dikatakan sebagai cerminan dari pemahaman mahasiswa, dan representasi dari kualitas mahasiswa, sehingga layak juga untuk menentukan kelulusan mahasiswa.

Mungkin pihak kampus sudah melakukan berbagai upaya supaya proses quiz, UTS dan UAS dapat dilaksanakan dengan baik. Dengan kata lain supaya proses ujian berlangsung dengan jujur. Misalnya: dengan pengawasan yang baik, ancaman sanksi yang cukup berat, model soal yang tidak memungkinkan untuk curang, dsb.

Namun, jarang sekali atau bahkan tidak pernah pihak kampus membangun pemahaman dan kesadaran kepada mahasiswa tentang pentingnya berlaku jujur, tentang harusnya bersikap benar, dan tentang tingginya derajat kejujuran.

Terlebih khusus lagi, kampus jarang/ tidak pernah membangun pemahaman tentang mengapa kita secara akademis tidak boleh curang dalam ujian (secara normatif kita tau bahwa curang dalam ujian adalah melanggar norma, atau secara agama kita juga tau bahwa curang dalam ujian adalah dosa, tapi secara akademis kita mungkin tidak difahamkan mengapa curang dalam ujian adalah gak akademis banget).

READ ALSO:  Contoh Soal Ujian Farmakologi

So the conclusions are:

1. Belajar adalah suatu keharusan (kewajiban), belajar untuk mengejar ketertinggalan, belajar untuk membangun peradaban. Belajar adalah aktivitas yang menyenangkan, belajar adalah fitrah manusia.

2. Ujian adalah suatu keniscayaan, ujian untuk mengetahui kualitas diri. Seorang hamba akan diuji oleh Tuhannya supaya derajat hamba tersebut meningkat. Seorang mahasiswa akan diuji supaya kualitas akademiknya meningkat.

3. Kejujuran adalah kemestian. Kalau kita membenci korupsinya para pejabat, kita mestinya juga membenci kecurangannya para mahasiswa peserta ujian. Kejujuran adalah harga diri, kejujuran adalah harga mati. Pemuda yang jujur adalah harapan agama, harapan bangsa, dan harapan pemudi 😀

SELAMAT UJIAN, DO YOUR BEST…!

Yori Yuliandra
Follow me

Yori Yuliandra

A lecturer and researcher in the Faculty of Pharmacy, Andalas University, majoring pharmacology "the study of drugs" | A blogger (and webmaster at RankMudo.Net) | An enthusiast in higher education
Yori Yuliandra
Follow me

5 thoughts on “Belajar lagi… ujian lagi (lagi-lagi)

  1. Rosie says:

    Hey there! I know this is kind of off-topic but I needed to ask.
    Does managing a well-established website such as yours require a
    lot of work? I am completely new to writing a blog but
    I do write in my diary everyday. I’d like to start a blog so I will be able to share my own experience and views online. Please let me know if you have any recommendations or tips for brand new aspiring bloggers. Appreciate it!

  2. resa says:

    good writing

    i definitely agree

    but what is the solution?

    1. I used to challenge students n friends about how to solve the problem. But we couldn’t make a simple one.

      According to me, the most powerful solution (and may also be the most difficult one) is by CHANGING THE STUDENT MIND about (1) why they should study, (2) why the assessment process is important and compulsory, (3) why they should ‘academically’ be honest

      That’s it…

  3. yora says:

    da yori.,.,. makasih ya da sdh mengingatkan,..,

    about cheating, itu kan sudah membudaya da…,susah sekali utk merobah.,.,.
    mungkin satu atau dua orang bisa.., tapi utk byk orang kyknya impossible da,.,.,
    seperti hafalan atau text book, kalau lupa kata2 awal atau kalimat awanya, atw kalimat intinya, n kita bs baca tulisan teman di depan, pasti dengan reflek mata tertuju kesana.

    1. Cheating sudah membudaya, yes.. it already has. Padahal mengubah budaya itu perlu “rekonstruksi sosial”, emang tidak mudah. Perlu sistem yang interconnected dan saling mendukung (pengamat mode: on)

      “Adalah sangat sulit meninggalkan perbuatan jahat dimana peluang untuk mengerjakan perbuatan tersebut sangat terbuka dengan lebarnya”

      So, peluangnya yang harus diperkecil. Misal: bikin aturan, sanksi, pengaturan teknis ujian, dll

      Tapi mulai dari diri sendiri dulu, dan lingkungan terdekat…

Don't forget to give comment and questions :)