Seberapa banggakah anda menjadi pharmacist…?

Seberapa banggakah anda menjadi pharmacist…? Sebenarnya ini bukan masalah bangga menjadi A atau bangga menjadi B, pun juga bukan perihal bangga karena menjadi apa dan siapa, dan juga bukan masalah malu karena menjadi C ataupun D. Tapi ini adalah masalah bagaimana meyikapi keadaan dan mengatasi persoalan.

Menarik memang kalau kita sesekali mencoba melihat ke dalam (katanya: ”take a closer look deep inside ur self”) dan menyadari siapa diri kita sebenarnya plus dengan fungsi dan tanggung jawab kita. Saya sangat tertarik sekali (kalau tau guru bahasa Indonesia, berang nyo mah: alah ado ‘sangat’ pakai lo ‘sakali’, mubazir..) dan merasa tertantang dengan catatan seorang teman tentang Aku malu menjadi pharmacist. Mudah-mudahan kalaupun memang malu, semoga saja malunya masih terkategorikan malu yang menjadi bagian dari iman, sebab malu atas dasar keimanan biasanya melahirkan serentetan konsekuensi dan tanggung jawab. Tulisan Fathel tersebut tidak berlebihan mungkin (walaupun agak lebay… *berlebihan≠lebay… hehe.. piiis ^_^V) bahwa memang apa yang diuraikan adalah kenyataan di lapangan atau mungkin juga pengalaman pribadi sebagian di antara kita.

Got a question…. kira-kira, dimana ya letak permasalahannya sehingga kondisi dunia kefarmasian tidak/ belum sepenuhnya membahagiakan (sebagaimana yang diceritakan Fathel…)? Nah, let me just tell you all that TIDAK ADA SATU PUN PROFESI YANG KETIKA MUNCUL LALU LANGSUNG DALAM KEADAAN MAPAN DAN MEMBAHAGIAKAN. Artinya, semua profesi harus melalui tahap-tahap (kalo bahasa arabnya: ‘marhalah’) yang tidak mungkin untuk tidak dilewati. Mungkin kita perlu baca lagi bagaimana perkembangan era kefarmasian dari awalnya… mulai dari era tradisional, masuk ke era transisional, dan sampai era sekarang (era pharmaceutical care). Nah, saya ingin katakan bahwa saat ini, di era pharmaceutical care ini, profesi farmasi masihlah merupakan PROFESI YANG SEDANG BERKEMBANG (developing profession), dan sama sekali tidak tepat kalau dikatakan bahwa farmasi merupakan PROFESI YANG SUDAH MAPAN (developed profession). Jadi dalam batas kewajaran tertentu, ketidakpuasan-ketidakpuasan kita terhadap peran dan fungsi profesi ini sepertinya masih dapat sedikit kita toleransi, karena (sekali lagi) profesi farmasi masih merupakan profesi yang sedang berkembang (mudah-mudahan penjelasan ini menghibur…).

Melalui perspektif dan pemikirian saya yang sederhana, sepertinya ada beberapa hal yang mungkin perlu kita lirik dan telisik. Meskipun mungkin ‘menuduh’ beberapa hal ini tidak menyelesaikan masalah, paling tidak dapat meng-asses masalah tersebut walaupun tidak secara keseluruhannya.

Perspektif saya sebagai seorang (mantan) mahasiswa

When i was in my college time, i was thinking about why pharmacy students should learn interdisciplinary to master the pharmacy. Begini, kurikulum farmasi ketika kita kuliah (ketika saya kuliah, dulu, kalo sekarang dunno exactly…) mengarahkan kita untuk menjadi sarjana farmasi/ apoteker yang mempunyai beberapa kemampuan, sekaligus. Mahasiswa dirancang menjadi orang yang ahli dalam menciptakan dan menemukan obat (mulai dari masuk keluar rimba sampai mengisolasi senyawa kimia), ahli dalam pengujian khasiat dan kemanan obat, ahli dalam memformula obat menjadi bentuk sediaan yang tepat, serta ahli dalam mengidentifikasi, memecahkan, dan mencegah DRP (Drug Related Problem). Ini adalah fakta yang tak terbantahkan bahwa masing-masing mahasiswa farmasi harus menjadi ‘sepintar’ itu, buktinya bisa terlihat dari kurikulum kita. Atau lihat saja dari susunan mata kuliah dari semester ke semester, dan coba kita analisa dan tebak dan lemparkan satu pertanyaan “Saya mau dijadikan apa ya…?”

READ ALSO:  Menyongsong kemerdakaan farmasi(s)

Mungkin sangat wajar ketika mahasiswa S1 farmasi atau juga bahkan yang baru tamat dari S1 tidak tahu banyak tentang obat (sebagaimana contoh kasus dari Fathel). Nah, saya ingin mengatakan bahwa: pengalaman kita di lapangan akan mengajarkan banyak hal (bahkan cenderung lebih dari apa yang kita bahas di kelas). Maksudnya, pengetahuan kita tentang farmasi dan praktek kefarmasian insyaAllah akan meningkat drastis setelah kita menjalani praktek kerja profesi (lagi-lagi menghibur, *tapi suer koq…). Meskipun demikian, kita memang tidak boleh menutup mata bahwa perkuliahan kita di kelas juga sebenarnya memang harus diupdate (atau lebih spesifiknya: disesuaikan dengan kenyataan dan perkembangan di lapangan). Mengupdate perkuliahan boleh jadi dalam bentuk mengupdate material perkuliahan atau juga dengan mengupdate/ upgrade dosen. Kan kita jadi gak ngeh kalo ternyata obat-obat yang sudah tidak lagi digunakan (misalnya karena sudah terbukti tidak aman atau sudah ada penggantinya yang lebih baik) ternyata masih kita bahas d kelas. Btw, mahasiswanya perlu diupgrade g ya…?

Melihat kemampuan kita (baca: mahasiswa) yang sangat terbatas, menjadi sangat pintar seperti itu mungkin one in million (baca: sulit) meskipun tidak mustahil. Kata “pintar” sebenarnya merupakan adjective, “pintar” adalah suatu kata sifat, bukan suatu “verb” kata kerja. Mungkin kata “rajin” akan lebih bermakna dari kata “pintar”, karena rajin adalah suatu “verb”. Rajin adalah suatu perbuatan, suatu amal, bukan suatu atribut. Jadi, mahasiswa yang rajin secara maknawiyah akan lebih bernilai daripada mahasiswa yang pintar tapi kurang ‘beramal’. So, yuk mari kita jadi orang yang rajin.

Perspektif saya sebagai seorang pharmacist

Peran dan tanggung jawab pharmacist juga semakin luas dari masa ke masa. Kalo kita dengar, katanya dulu tanggung jawab pharmacist itu adalah MULAI DARI OBAT TIDAK ADA SAMPAI OBAT TERSEBUT ADA DAN SIAP UNTUK DIBERIKAN KEPADA PASIEN. Jadi, dahulu kala pharmacistnya bertanggung jawab sebatas mempersiapkan obat (sampai pada tahap compounding and dispensing). Artinya, seandainya obat untuk suatu penyakit X tidak ada, maka farmasinya boleh ‘disalahkan’ karena tidak berhasil menemukan suatu obat, karena g mungkin kan dokter yang mencari obat baru, masuk rimba keluar rimba untuk ‘mengoleksi daun’ dan mengujinya di lab. Artinya lagi, profesi lain g mau tau deh, pokoknya obat X ini harus sudah ada di rumah sakit dan siap untuk diberikan pada pasien. Dengan demikian, farmasi bertanggung jawab untuk serangkaian kerja berikut: menemukan tanaman yang berpotensi untuk jadi obat, ‘memperbagaikannya’ di lab sehingga diperoleh suatu senyawa tunggal, uji potensi farmakologisnya, disain bentuk sediaan, uji preklinik dan klinik, sampai akhirnya diperoleh suatu bentuk obat yang efektif dan aman untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan yang kemudian akan diresepkan oleh dokter dan akan diadministrasikan oleh nurse (Remember… doctor prescribes, and nurse administers… *ini kalimat ‘maut’ saya kalo lagi ngajar, haha)

Itu dulu… Nah sekarang, peran dan tanggung jawab dunia kefarmasian lebih dari sekedar menemukan obat sampai obat tersebut bisa diberikan kepada pasien dalam jenis, bentuk, dan jumlah yang pas. Peran farmasi saat ini adalah MULAI DARI OBAT TIDAK ADA, SAMPAI OBAT TERSEBUT DIKELUARKAN DARI TUBUH PASIEN. Makanya ketika ada segala sesuatu hal dan masalah yang berkaitan dengan obat, farmasinya boleh dijadikan tersangka. “Kok obat untuk penyakit AIDS belum ada”? Itu si farmasi tuh yang belum juga nemuin obatnya. “Kok obat ini rasanya pahit sekali…”? Itu tuh, si farmasi bikin formulanya g enak. “Kok obat ini bikin keracunan gini ya, padahal saya minumnya gak over dosis kok…?” Itu tuh, si farmasi nggak menyesuaikan dosisnya, kan kamu ada gangguan ginjal. Dan kooooompleks sekali permasalahan yang berpotensi ada di dalam kefarmasian, karena (sekali lagi) peran dan fungsi kita semakin lama semakin complicated.

Dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit, ada suatu istilah populer “Medication Error”, yaitu kesalahan-kesalahan dalam hal pengobatan (berkaitan dengan obat). Like this, doctor prescribes the drugs, pharmacist dispenses the drugs, and nurse administers the drugs. Dalam hal ini, pharmacist boleh sedikit ‘mengongas’ (baca: maongeh), pasalnya pharmacist mempunyai persentase paling kecil dalam hal kesalahan pengobatan dibandingkan dengan saudaranya yang lain. Tapi, jangan-jangan hal ini terjadi karena memang pharmacistnya di RS gak berbuat banyak, sehingga peluang salahnya juga lebih kecil. Nah lho…?

READ ALSO:  NSAID Fakultas Farmasi Unand Hadirkan Apotek Mini

Perspektif saya sebagai seseorang yang dipanggil “Pak Yori”

Berkesempatan untuk bersinggungan dengan profesi kesehatan lain dalam atmosfir akademik membuat ‘pangana’ saya sedikit terbuka tentang peran dan fungsi masing-masing healthcare provider dalam mensukseskan pelayanan kesehatan, khususnya peran yang harus ditanamkan dan dipahamkan ketika profesional tersebut masih sekolah/ kuliah. Karenanya saya sedikit dapat gambaran tentang bagaimana sinergisitas praktisi kesehatan dalam pelayanan tersebut, khususnya berkaitan dengan farmakologi (we know that pharmacology –the study of drugs- is a core course for students of pharmacy, medic, and nurse as well). Begini… terlalu mengandalkan pengetahuan yang berbasis kelas dan mengesampingkan sumber lain mungkin boleh jadi salah satu penyebab miskinnya pengetahuan kita tentang sesuatu subjek, misalnya obat, terkhusus lagi obat-obat baru.

Perkuliahan di kelas yang hanya memberikan kita kesempatan 1-2 jam untuk ‘mendengarkan ceramah dosen’ sepertinya sama sekali tidak sufficient. Metode dan style perkuliahan yang tidak sesuai dengan ‘maunya mahasiswa’ juga bisa dituding. Atau bahkan terkadang pembahasan yang terlalu dipadatkan dengan berbagai penyebab (biasanya masalah waktu) sehingga banyak poin-poin penting yang tidak terfahamkan. Its difficult to make people understand. Emang, ternyata mbikin orang ngerti itu susah juga ya, kalo sekedar menyampaikan materi perkuliahan keknya g rumit-rumit amir tuh… (Ada pertanyaan lagi neh: “sebenarnya tanggung jawab dosen itu untuk menyampaikan materi perkuliahan atau untuk membuat mahasiswa paham tentang materi perkuliahan…?” Ini pertanyaan serius lho…)

Perspektif saya sebagai seorang pemerhati dunia kesehatan (ceileee…)

Dalam berbagai sudut pandang, mungkin ada beberapa hal dalam kefarmasian yang menarik untuk dilirik. For instance, I have long been wondering why drugs labelled “on medical prescription only” are easily available without prescription. Begini, kita semua tahu bahwa yang dimaksud dengan obat keras adalah (hayo… apa coba…?)… adalah obat-obat yang untuk memperolehnya harus melalui resep dokter. Gak bisa enggak (kecuali OWA). Artinya kita tidak akan dapat memperoleh antibiotik (semisal amoksisilin) di toko obat biasa (bukan apotek), artinya lagi kita hanya bisa memperoleh obat tersebut di apotek dan melalui resep dokter, tidak melalui cara lain. Itu diatur undang-undang lho… Tapi kenapa kenyataan di lapangan ternyata mencibirkan undang-undang yang sama-sama kita junjung? Seolah-olah UU tersebut sudah tidak bergigi lagi (dunno why… *geleng-geleng). Makanya jadi malas bikin apotek (*padahal modal yang g ada, hahay….)

READ ALSO:  Apoteker mengganti obat? Boleh tuh…

Kampanye dan pencerdasan kefarmasian kepada masyarakat juga sangat minim, minim sekali. Our society should be introduced that there is a professional named ‘pharmacist’ that is responsible for everything about drugs. Kita (atau siapa ya? ISFI kali ya…?) harus melakukan suatu usaha pencerdasan publik bahwa pharmacist juga merupakan orang yang penting untuk terciptanya pelayanan kesehatan yang paripurna, sebagaimana halnya dokter (dan juga nurse kalo di RS). Dan usaha ini tidak hanya bisa dilakukan oleh yang sudah apoteker, usaha ini akan lebih efektif kalo dicoba untuk digalang selagi kita masih mahasiswa. Coba dech… (*lagi ngomporin mahasiswa…)

Cerita pengalaman neh… Saya pernah ikut acara bakti sosial pemeriksaan kesehatan yang diselenggarakan suatu lembaga sosial bidang kesehatan di suatu daerah di Padang Pariaman. Saat itu saya diminta jadi apotekernya mendampingi 3 orang dokter muda, dan beberapa orang mahasiswa kedokteran (beberapa di antaranya masih mahasiswa tahun 2). Sempat bertanya-tanya dalam hati juga, “Nantinya mahasiswa ini membantu di bagian mana ya..”? Akhirnya, ternyata mereka ditempatkan di bagian apoteknya. Dan usut punya usut, ternyata mereka memang sudah biasa ditempatkan di bagian tersebut seandainya penyelenggara tidak berhasil mendapatkan pharmacistnya untuk turun ke lapangan. Merekalah biasanya yang menyerahkan obat kepada pasien, menggeruskan tablet dan membungkusnya menjadi puyer, memberkan informasi obat, dll pekerjaan yang seyogyanya dikerjakan oleh orang farmasi. Nah lho…? Sepertinya ada yang salah dech.. Artinya, harus ada pihak yang bertanggung jawab untuk membesarkan fungsi farmasi yang saat ini sepertinya sudah terkerdilkan (atau mungkin dikerdilkan), padahal kita sama-sama faham dan sadar bahwa kegagalan dalam pengobatan sering terjadi akibat tidak berhasilnya ‘pengejawantahan’ hal-hal yang berkaitan dengan obat kepada pasien yang seharusnya dilakukan oleh fungsi farmasi.

Finally………
Terakhir, tentang sikap bangga… Kalaulah bangga dapat memunculkan kesadaran akan peran dan tanggung jawab, sepertinya sah-sah saja kalo kita merasa bangga dan berbesar hati untuk menjadi apa atau siapa. Seandainya mempunyai rasa bangga adalah prasyarat awal untuk memunculkan sense of belonging dan menghadirkan semangat untuk memikul tanggung jawab, sepertinya bangga adalah (mungkin) menjadi hal yang wajib. Maka banggalah menjadi diri anda, banggalah untuk menjadi pharmacist, dan teriakkan dengan keras “SAYA BANGGA MENJADI PHARMACIST…”

Yori Yuliandra
Follow me

Yori Yuliandra

A lecturer and researcher in the Faculty of Pharmacy, Andalas University, majoring pharmacology "the study of drugs" | A blogger (and webmaster at RankMudo.Net) | An enthusiast in higher education
Yori Yuliandra
Follow me

3 thoughts on “Seberapa banggakah anda menjadi pharmacist…?

  1. Hafshah Zone says:

    assalamu’alaykum….

    lagi2 searching2 di syaikh gugel, ternyata ada namaku nyangkut di sini, heheh..

    ijin nge-link y Da…

    1. yoyul says:

      hoho… jez trying to restore my old writing from facebook to my all new wordpress.. at least to fill the emptiness of my blog *lerning ngeblog mode: on

Don't forget to give comment and questions :)