Mau Hidup atau Mati…?

Berapakah lama waktu yang kau punya dalam sehari, kawan…? Apakah sama dengan waktu yang ku punya…? Apakah sama juga dengan hitungan waktu yang dipunyai oleh seorang Presiden SBY misalnya…? Atau dengan siapa saja di atas dunia ini…? Ya… tepat sekali. Kita punya jatah waktu yang sama: sama-sama 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu. Bahkan, kalau kau mau melihat kepada sang panutan hati, Rasulullah SAW, beliau juga punya jatah waktu yang sama: 24 jam dalam sehari. (Lho, emangnya kita mo ngapain koq mbahas jatah-jatah waktu seperti ini…).

Kalo mau kita jadikan angka yang lebih besar, dalam sehari kita punya 86.400 detik yang dapat kita gunakan untuk berbuat segala hal di dunia ini. Ya, 86.400 detik (karena menurut ilmu matematika, 60 detik/menit x 60 menit/jam  x 24 jam/hari = 86.400 detik/hari). Nah, yang seharusnya menjadi renungan bagi kita adalah:

dari 86.400 detik yang kita punya dalam sehari, berapa detikkah kita dalam keadaan lalai dari berdzikir kepada Allah SWT…?

Pernahkah kau merasakan kehampaan sebagaimana yang disenandungkan oleh Ungu: Pernahkah kau merasa hatimu hampa…. Pernahkah kau merasa hatimu kosong. (Hanya saja, Ungu kurang tajam mendeskripsikan bahwa sebenarnya hati yang hampa dan kosong itu adalah hati yang jauh dari mengingat Allah SWT). Selain itu ungu juga tidak menyampaikan solusi terhadap kehampaan dan kekosongan hati (koq jadi membedah Ungu…?). But, Al Qur’an does:  “Alaa bidzikrillaahi tathmainnul quluub…” Bahwa dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenang..

Mengingat Allah sebenarnya adalah metode menenangkan jiwa yang resah dan memenangkan hati yang sering kalah. Sederhana, tapi luar biasa. Sangat mudah (tapi malangnya, sering terlupa).

Perumpamaan orang yang berdzikir mengingat Allah dengan orang yang tidak berdzikir itu seperti orang yang hidup dengan orang yang mati (HR Bukhori)

Kawan, aku teringat bahwa kadang betapa lalainya diri kita. Betapa tidak hidupnya jiwa dan ruhiy kita. Kita hadir mengisi ruang-ruang kehidupan kita, tetapi kita kosong tanpa jiwa. Kita bagaikan mayat yang berjalan (atau mayat yang sedang kuliah… *hiiy… syerem). Berjalan, tapi tanpa arah… Bekerja, tapi tanpa hamasah. Mengapa? karena hati kita hampa, jiwa kita resah.

Sadarilah kawan… betapa hidup ini tidak lama. Hanya sepanjang kau bangun di pagi hari sampai kau kemudian tertidur lagi. Kadang, hari ini kita lalui dengan tidak jauh berbeda dari hari kemaren, dan mungkin hari esok juga akan kita lalui dengan perbedaan yang tidak cukup bermakna dari hari ini. Sayang sekali rasanya kalo hidup yang mungkin cuma berbilang 50 60 tahun ini harus kita jalani tanpa hadirnya jiwa. Pahit sekali kalo dunia yang fana ini harus dipadati oleh manusia-manusia dengan raga tanpa ruhiyah.

Sesibuk apapun… Dzikrullah bukanlah suatu perkara yang susah. Makanya, hiasilah lidah dan hatimu dengan berdzikir pada-Nya. Hidupkan jiwamu dengan senantiasa mengingat-Nya. Hidupkan hatimu dan angkat dirimu dari hinanya orang-orang yang berjalan membawa kematian: kematian jiwanya, kematian ruhiyahnya. Dzikirlah padaNya.

Yori Yuliandra
Follow me

Yori Yuliandra

A lecturer and researcher in the Faculty of Pharmacy, Andalas University, majoring pharmacology "the study of drugs" | A blogger (and webmaster at RankMudo.Net) | An enthusiast in higher education
Yori Yuliandra
Follow me

Latest posts by Yori Yuliandra (see all)

4 thoughts on “Mau Hidup atau Mati…?

  1. didot says:

    salam kenal,blognya bagus 😉

    jika kita mencintai Allah,maka kita akan banyak mengingatNYA 😛

  2. Pengamalannya emang gak mudah sepertinya… Sulit, betul. But we jez keep trying. Then soon, back to dzikrullah whenever we remember that we have forgotten to dzikrullah…

  3. vivi says:

    yuph,,, stuju jga,,,,
    tpi terkadang pengamalannya memang gx smudah yg dibayangkan,,,,,,,,

  4. bolin says:

    setuju…..!!!

    jez try to spend each of your times to doing dzikrullah…..!!!

    InsyaALLAH

    ^_^

Don't forget to give comment and questions :)