"Untuk yang satu ini, saya sepakat Pak…"

(A simple pharmacy campaign to the society)

Dari detikNews dilaporkan bahwa, Pemerintah akan tanggung biaya pengobatan Umi. Umi adalah salah seorang anak (lebih tepatnya ABG, 12 tahun) yang dari dalam tubuhnya keluar ulat akibat penyakit dengan penyebab yang tidak dapat dipastikan (diduga karena menunda-nunda pengobatan dan karena menc0ba pengobatan alternatif). Kejadian aneh yang ternyata sudah berlangsung selama 2 tahun ini mengundang tanda tanya besar dan menohok para healthcare provider dan pihak terkait. Betapa tidak, fasilitas kesehatan yang seharusnya sudah bisa dinikmati oleh Umi, karena dia adalah peserta Jamkesmas, ternyata tidak bisa ia rasakan dengan suatu alasan yang cukup sederhana: takut biayanya mahal.

Menghadapi permasalahan dan kenyataan ini, ada beberapa fenomena yang cukup menyedihkan, khususnya dalam dunia kesehatan. Kita harus melihat lebih dekat, betapa ternyata masyarakat kita masih jauh dari ‘kata bijak’ dalam hal memandang arti penting kesehatan. Betapa masih sederhananya publik melihat dan menilai pemerintahan saat ini “Kalau saya berobat, nanti pasti berbelit-belit dan banyak tetek-bengeknya, mending saya cari obat alternatif yang jauh cari campur tangan orang-orang pemerintahan”

Namun, alhamdulillah, SBY menjamin bahwa khusus untuk kasus yang menimpa Umi ini, pemerintah akan menanggung biaya yang dibutuhkannya. Dalam tanggapan yang diberikan, setidaknya, ada beberapa hal yang  menjadi catatan dan seharusnya kita dukung dan kampanyekan:

Memang pengobatan alternatif bisa ditempuh sebagai ikhtiar apabila dari pengobatan konvensional tidak kunjung sembuh, tapi jangan dibalik” ujar SBY.

Menurut SBY, kasus Umi merupakan pelajaran penting bagi masyarakat luas. Banyak terjadi kasus yang karena pasien kurang terbuka pada saat sakit. Sering pula keluarga mencari obat alternatif dan setelah parah baru ke RS.

SBY mengatakan, kasus ini juga menjadi pelajaran bagi aparat kesehatan dan jajaran pemerintah di lapangan. Keduanya wajib memberikan pendidikan kepada warganya untuk tidak ragu berobat ke Puskesmas dan RS.

Untuk hal-hal yang diuraikan SBY di atas, sepertinya perlu saya sampaikan: “Pak, saya cenderung sepakat dengan arahan dan komentar Bapak.” Namun saya juga sangat ingin mengatakan pada beliau “Pak, sepertinya masalah ini akan sedikit teratasi kalau Bapak berusaha untuk sedikit belajar kembali tentang dunia farmasi, dan kemudian Bapak mengakrabkan diri dengan profesi yang namanya ‘Farmasis’.” (trus, SBY-nya manggut-manggut dan sambil memperagakan komunikasi tangannya yang khas beliau bilang “Ok deh, makasih usulannya dan nanti akan saya pertimbangkan) *mimpi kali yeee…*

READ ALSO:  Ayat penghibur

Ya, farmasis. Ia adalah profesi yang bertanggung jawab penuh tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan obat. Tidak hanya penemuan dan pembuatan obat, tapi juga tentang bagaimana obat tersebut digunakan oleh konsumen kesehatan. Tidak hanya tentang bagaimana menyerahkan obat kepada pasien (seperti yang kebanyakan dipahami oleh masyarakat, bahkan profesi kesehatan lain), tapi tentang bagaimana obat tersebut digunakan dengan tepat dan rasional. Rasional dalam artian berkhasiat dan manjur, dan juga aman dari efek yang merugikan. Atau dalam bahasa ‘maut’ yang biasa kita gunakan untuk memahamkan orang lain:

Peran farmasi adalah mulai dari suatu obat itu tidak ada, sampai kepada obat tersebut dikeluarkan dari dalam tubuh pasien

Atau kalau kita mau kaitkan dengan kasusnya Umi, orang-orang farmasi adalah orang yang paling bertanggung jawab untuk mencerdaskan masyarakat bahwa obat adalah jawaban atas penyakit yang diderita. Tentu saja, karena “sesuatu” yang akan bekerja di dalam tubuh untuk menyembuhkan penyakit yang diderita pasien adalah obat. (tentunya setelah memeriksakan diri terlebih dahulu, karena mengunjungi tenaga kesehatan dan memeriksakan diri adalah bentuk usaha dan ikhtiar pertama yang semestinya dilaksanakan oleh masyarakat).

Salah satu opini klasik publik yang berkaitan dengan obat adalah bahwa obat merupakan bahan kimia dan mempunyai efek samping, sehingga lebih baik dicoba dulu obat alternatif yang bukan bahan kimia.

Nah.. mari kita bahas satu-satu:

  1. Obat adalah bahan kimia. Exactly, tepat sekali. Obat adalah bahan kimia. Namun sepertinya kita perlu mencerdaskan masyarakat bahwa air yang kita minum setiap hari adalah bahan kimia. Udara yang kita hirup setiap waktu adalah bahan kimia. Pun buah-buahan yang kita santap juga mengandung banyak bahan kimia. Materi kehidupan kita di dunia hampir semuanya adalah bahan kimia (kalo gak bahan kimia, ya bahan biologi. Tapi gak ada bahan matematika ya, bahan fisika, bahan geografi, .. *gubrak). So, kalo dibilang obat adalah bahan kimia, ya iya laah… So what gitu lho…?
  2. Obat punya efek samping. betul betul betul… Hampir semua obat punya efek samping. Efek samping tersebut juga terbagi menjadi seven.. hehe.. Ada efek samping yang berbahaya, dan ada pula efek samping yang bisa ditolerir (*kok cuma terbagi 2, katanya terbagi 7…?). Dan yang paling penting kita ketahui adalah bahwa  efek samping obat menjadi dapat diabaikan kalau kita minum obat sesuai dengan anjuran. Anjuran siapa? ya anjuran ahli obat dunk.. (apoteker-red). Sedangkan untuk obat-obat dengan efek samping yang serius harus mempertimbangkan risk and benefit factor. Apaan neh…? *kapan-kapan dech dibahas.
  3. Obat tradisional lebih aman dan tidak punya efek samping. Lho lho lho… Kata siapa…? Obat tradisional juga punya efek samping, malahan lebih menakutkan. Kalau obat konvensional sudah mempunyai data tentang efek sampingnya berdasarkan studi yang komprehensif dan pengamatan di lapangan. Sedangkan obat tradisional, siapa sih yang menguji tingkat keamanannya? Uji prekliniknya? Uji kliniknya?
  4. Obat alternatif yang bukan obat. Lho, masak iya ada obat kek gini…? Ada dunk.. Begini, sebagian masyarakat kita masih percaya tentang pengobatan spiritual yang salah kaprah.  Tak kasih contoh aja ya… Mungkin contohnya berobat ke du*kun. Kalo dikasih sesuatu untuk diminum sih masih mending, tapi kalo yang ini disuruh mengorbankan seekor ayam, dan penyakitnya dipindahkan ke ayam sehingga sang pasien sembuh. Emang bisa ya… *mikir. Kalau bisa, mau donk belajarnya (*dimana siy sekolahnya…?). Menurut saya sih, kalo pengobatan seperti ini terbukti dan berkhasiat, maka ada beberapa  hal yang harus kita revolusikan:
  • Kita hapuskan semua fakultas kedokteran di semua kampus serta ilmu terkait
  • Kita hapus juga semua fakultas farmasi dan pendidikan kefarmasian
  • Kita bikin kampus yang mendalami tentang pengobatan spiritual seperti ini, dan saya bersedia jadi rektornya… haha…
  • *ada usulan…?

So, kesimpulannya adalah: menjaga kesehatan sendiri adalah kewajiban kita terhadap diri kita sendiri sebagai bentuk mensyukuri nikmat Allah SWT. Sakit? ini adalah ujian dan mungkin juga bentuk perhatian Allah kepada kita. Kalo sakit, dan penyakitnya tidak bisa diatasi dengan self medication, maka bentuk usaha dan ikhtiar yang paling tepat adalah mengunjungi petugas kesehatan dan memeriksakan diri. Setelah itu ketika dikasih obat, gunakanlah obat sesuai dengan anjuran petugas kesehatan supaya tercipta pengobatan yang rasional (berkhasiat dan aman).

Dan obat adalah gawenya orang farmasi. Thats the way it is…

nb: this posting doesn’t reflect the genuine current pharmacy practice in Indonesia. Its just a whisper and a simple thought from a simple person about how pharmacy practice is supposed to be…

Yori Yuliandra
Follow me

Yori Yuliandra

A lecturer and researcher in the Faculty of Pharmacy, Andalas University, majoring pharmacology "the study of drugs" | A blogger (and webmaster at RankMudo.Net) | An enthusiast in higher education
Yori Yuliandra
Follow me

5 thoughts on “"Untuk yang satu ini, saya sepakat Pak…"

  1. apriyandi says:

    Reblogged this on BSMI Cabang Padang and commented:
    Ask your pharmacist…

  2. apriyandi says:

    Reblogged this on BSMI Cabang Padang and commented:
    Ask your pharmacist…

  3. nindi says:

    wow.. ini bagus. hidup farmasis!!! gag ada farmasis, gag ada obat, gag ada pelayanan (informasi obat..)

  4. Areep says:

    Masalah timbul sebenarnya dari masyarakat sendiri. Kita hidup di masyarakat dengan lingkungan yang lebih percaya spiritual dibanding sains. Masyarakat akan menelan mentah-mentah segala info berkaitan dengan dunia gaib, sedang informasi yang sesuai dengan penelitian mereka cenderung meragukan.

    Lagi, masyarakan lebih senang obat dengan efek cepat atau nak nyuss kata mereka, kalau disuruh milih antara obat paten dan generik, jarang apalagi kalau tak kepepet buat beli obat generik sebagai pilihan. nah didukung juga dengan dokter yang selalu sibuk dan jarang kita temukan dokter yang mau berdiskusi dengan pasien.

    Apoteker juga sama. banyak sampai saat ini apoteker berstatus TEKAB. bagaimana masyarakat mau bertanya,? ke tukang obat keliling? kedukun?

    1. Thanks anyway, Areep. Yup, benar sekali… saatnya menjadi bagian dari solusi

Don't forget to give comment and questions :)