Sssttt… ISFI ganti baju tuch…

(Welcome to IAI, and Sayonara to ISFI)

Sarjana Farmasi ≠ Apoteker

Akhirnya, ‘sekelompok orang tertentu’ (baca: apoteker di Indonesia) menyadari bahwa Sarjana Farmasi adalah berbeda dengan Apoteker. Kalo saya sih dari dulu udah paham banget bahwa Sarjana Farmasi itu praktis berbeda dengan Apoteker. Beda yang teramat sangat jelas sekali terasa adalah: kalo mo jadi apoteker harus siap-siap merogoh kocek lebih dalam. Kuliahnya cuma setahun, eh biayanya malah jauh lebih besar dibandingkan dengan kuliah 4 tahun untuk menjadi seorang sarjana farmasi, hehe… jez kidding. Overall, bedanya sebenarnya bukan dalam hal biaya, tapi dalam hal kompetensi, betul kan…?

Ya, akhirnya pada tanggal 9 Desember 2009, Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI), di dalam kongresnya meresmikan bahwa ISFI berganti dengan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI).

Ada yang agak lucu lo… (silakan tertawa dulu… 🙂 ). Ini tentang bahasa Inggris loh, ISFI kan dulu punya nama English juga: Indonesian Pharmacist Association. Ternyata, setelah ISFI berganti wajah dengan IAI (tadi ganti baju, sekarang ganti wajah, mana yang bener nih… *bingung), ternyata setelah ISFI berganti menjadi IAI, ternyata nama English-nya nggak bertukar, tetep Indonesian Pharmacist Association. So, sepertinya ISFI kepikiran untuk mengganti nama menjadi IAI dengan tujuan untuk menyesuaikan namanya dengan nama English-nya yang sudah ‘mendunia’. Btw, ini lucu gak sich…? Sori ya kalo gak lucu, padahal tadi udah disuruh ketawa…

READ ALSO:  Menyongsong kemerdakaan farmasi(s)

# Nama baru, bagaimana dengan tantangannya?

Berganti nama tentunya tidak serta-merta diikuti dengan bergantinya dunia praktek kefarmasian. Ya, problematika dunia farmasi memang tidak banyak berubah, setidaknya dewasa ini. Apalagi kalo bukan sesuatu berkaitan erat dengan fungsi dan peran profesional apoteker tersebut. Berbeda dengan profesional kesehatan lainnya, apoteker memang punya beban dalam bidang yang sangaaat luas and complicated. Apoteker, or so called The Drugs Expert, emang seharusnya ahli dalam hal drug related. Mulai dari penemuan – pembuatan – pendistribusian – pemberian – penggunaan sampai pada evaluasi rasionalitas penggunaan obat.

Selain itu, tantangan yang tetap akan dihadapi oleh dunia farmasi saat ini adalah (lagi-lagi) dalam hal pergeseran peran farmasis dari drug oriented menuju patient oriented. Meskipun hal ini juga diiringi dengan kesigapan kampus dalam mempersiapkan lulusan sesuai dengan kebutuhan peran dan fungsinya, namun hal ini masih akan tetap berlangsung setidaknya untuk beberapa tahun ke depan. Artinya, dalam beberapa waktu ke depan kita masih akan menemukan “ahli obat yang tidak tahu tentang obat” (whatever it means… hehe…).

Trus, masalah perapotekan juga masih sangat kompleks. Padahal apotek hanya salah satu dari sekian banyak tempat berkarya orang-orang farmasi, di samping rumah sakit/ puskesmas, PBF atau di industri farmasi

# Jumlah apoteker di Indonesia?

Kalo ada yang pengen tau berapa jumlah persis apoteker di Indonesia, coba tanya sama pengurus IAI. Tapi yang pasti kita akan cukup terkejut dan terkaget (*emang beda yah…?) dengan angka yang cukup membengkak ini. Betapa tidak, saat ini sudah puluhan kampus di Indonesia yang setiap tahunnya akan memproduksi apoteker-apoteker yang kalo saya itung-itung, jumlahnya tidak akan kurang dari seribu anggota baru per tahun. Jumlah yang cukup fantastis yang walaupun terstandarisasi, tapi pastinya akan membawa konsekuensi logis dalam hal komplikasi masalah keanggotaan. Tantangan dan problematika internal juga sepertinya masih akan menjadi issue yang hangat dan likely to happen (prediksi hanya berdasarkan pengamatan sekilas… hehe..).

READ ALSO:  Kemandirian bahan baku obat: kapan?

# PR gak penting buat IAI

Saya jadi teringat satu hal sederhana, lagi-lagi masalah nama. Mengingat peran dan ranah farmasis yang tidak melulu berkaitan dengan apotek, sepertinya kata “apoteker” untuk dilabelkan pada “mereka yang kita bahas di sini” juga terasa kurang pas. Kerja di industri farmasi, tapi dinamakan dengan apoteker (orang yang kerja di apotek), padahal nyata-nyata sekali ia bekerja di industri dan tidak bekerja di apotek. Tanya kenapa…! Btw, kalo PR saya ini menjadi bahan pemikiran serius orang-orang IAI, berarti IAI akan berganti nama lagi. Halah…

Akhir kata, selamat untuk ISFI, eh… IAI: Ikatan Apoteker Indonesia. Bangkitlah, harapan itu masih ada…

Yori Yuliandra
Follow me

Yori Yuliandra

A lecturer and researcher in the Faculty of Pharmacy, Andalas University, majoring pharmacology "the study of drugs" | A blogger (and webmaster at RankMudo.Net) | An enthusiast in higher education
Yori Yuliandra
Follow me

Latest posts by Yori Yuliandra (see all)

2 thoughts on “Sssttt… ISFI ganti baju tuch…

  1. SS RAHMAWATI says:

    syukron postingan nya da…
    lumayan bwat ngerjain tugas dari senior d fakultas…

    heheh

    1. Hoho… kalo tugas BBMK gak bakal cukup diambil dari sini, hehe… Cari yang lebih official dikit 😀

Don't forget to give comment and questions :)