Menyongsong kemerdakaan farmasi(s)

(a souvenir from national seminar on PP 51/2009)

pharmacyDunia kefarmasian di Indonesia beserta perkembangannya adalah sebuah fenomena. Betapa tidak, perkembangan praktek kefarmasian yang secara global (khususnya di Eropa dan Amerika) cukup menggembirakan dan bagus ternyata tidak menular ke Indonesia *atau mungkin masih dalam proses. Berbagai undang-undang dan peraturan lainnya yang hampir selalu mengiringi perkembangan praktek kefarmasian dinilai tidak cukup efektif untuk mengawal dan melindungi praktek kefarmasian. Peraturan yang sebenarnya bertujuan untuk “melindungi” profesi dan sekaligus melindungi pasien ternyata tidak menjadi dasar hukum yang cukup kuat untuk membuat masyarakat farmasi sadar tentang bagaimana seharusnya mereka berpraktek. Mengapa bisa demikian? Di sinilah letak fenomenanya :)

Banyak permasalahan internal dan eksternal profesi yang mungkin sudah berusaha untuk di asses, baik oleh internal profesi sendiri, maupun oleh stakeholder lain yang berkaitan. Pun juga pastinya sudah dicarikan solusinya dengan tingkat efektivitas yang tidak  memuaskan. Yang paling menarik adalah tentang entitas dan keberadaan farmasi (baca: apoteker) itu sendiri yang hanya melulu sebagai penyedia obat saja, tidak seperti apa yang kita pelajari di kampus: bicara tentang patient oriented, drug related problem, patient counseling, dan lain sebagainya namun di lapangan ternyata *seolah-olah* tidak diperlukan hal yang demikian. Bahkan, ekstrimnya, apoteker itu sama sekali tidak diperlukan dan bahkan dikira mempunyai keahlian di bawah asisten apoteker. Sehingga ada guyonan yang menyatakan bahwa:

Apoteker bisa untuk tetap eksis hanya karena diselamatkan oleh Undang-undang saja”

Seminar Nasional dan Workshop Kefarmasian (4 April 2010)

READ ALSO:  The World No Tobacco Day: Kita harus berbuat

Dengan mengangkatkan tema tentang Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, seminar yang dilaksanakan oleh BEM Fakultas Farmasi Universitas Andalas ini dihadiri oleh 200-an peserta. Tidak hanya itu, seminar ini juga membahas tentang regenerasi ISFI menjadi IAI dan sekaligus tentang slogan No pharmacist no service. Menariknya, seminar nasional ini bernarasumberkan 4 orang yang sangat berkompeten 🙂

https://i2.wp.com/1.bp.blogspot.com/_K0S2BIyBkeo/S7gH7EPmbmI/AAAAAAAACqc/xrhExeUqm5c/s400/image-upload-13-752242.jpg?w=750

PP 51/2009

Pembicaraan seputar PP 51/2009 memang cukup hangat belakangan ini, plus dengan pro dan kontranya. Yang membikin lebih hot adalah pro dan kontra internal profesi farmasi sendiri. Ketika tidak ada undang-undang atau peraturan, semuanya ribut. Ketika peraturannya sudah berhasil diterbitkan, malah lebih ribut lagi *ini lagi-lagi fenomena. Namun ada satu hal yang penting untuk dipahami bahwa meskipun peraturan terbaru ini *katanya* kontroversial, setidaknya ia adalah salah satu solusi untuk memperbaiki keadaan, atau minimal sekali untuk mencegah keadaan menjadi lebih buruk dan membuka peluang untuk masa depan yang lebih baik.

Tidak ada satupun UU yang sempurna, termasuk UU kesehatan. Sehingga pastilah setiap UU akan disusul oleh UU yang kemudian menyempurnakannya dan demikian seterusnya.

Mengingat adanya keterkaitan yang kuat antara praktek kefarmasian dengan praktek kesehatan lainnya (kedokteran, keperawatan, dan lainnya), maka dalam hal penetapan UU dan peraturan lainnya maka sangat diperlukan keterlibatan profesi kesehatan secara luas. Hal ini bertujuan supaya ada sinkronisasi dan pemahaman bersama dalam mewujudkan praktek kesehatan yang paripurna.

READ ALSO:  Universitas Andalas: From the sky down

Ikatan Apoteker Indonesia dan Kampus

Saat ini, dengan sekitar 31.000 orang apoteker di Indonesia, IAI punya tugas yang cukup berat. Sebagai ujung tombak profesi apoteker, sepertinya kita (khususnya apoteker, sebagai sasaran kerja IAI) perlu tahu dengan apa saja program kerja IAI. Sebaliknya, yang tidak kalah penting adalah usaha yang lebih dari IAI untuk mencerdaskan masyarakat farmasi itu sendiri tentang target-targetnya.

Kampus farmasi, sebagai produsen apoteker, sudah selayaknya untuk dijembatani oleh suatu badan/council dengan IAI sebagai wadah profesi dalam menyelaraskan aspek pendidikan dengan aspek profesi dan praktek di lapangan. Berbagai tuntutan dunia praktek kefarmasian bisa disinkronisasikan dengan aspek pendidikan farmasi, pun sebaliknya *sepertinya usulan seperti ini sangat layak untuk dipikirkan lebih lanjut.

Dr. Faiq Bahfen, SH

Di antara 4 orang nara sumber yang dihadirkan dalam seminar tersebut, beliau cukup spesial untuk “disorot”. Sebagai ‘orang kementrian kesehatan’ dan juga satu-satunya nara sumber yang bukan apoteker (melainkan pakar hukum), sepertinya beliau teramat sangat paham sekali tentang seluk-beluk kefarmasian, terutama aspek hukumnya. Bahkan salah seorang narasumber lain mengemukakan bahwa Dr. Faiq Bahfen, SH adalah anugerah dunia kefarmasian saat ini mengingat betapa strategisnya posisi beliau dalam hal regulasi dunia kesehatan saat ini *Selamat bekerja aja, Pak*

Menyongsong kemerdekaan dunia farmasi

Optimisme sudah selayaknya dijadikan modal untuk terciptanya praktek kefarmasian yang komprehensif. Penjajahan dan pengekangan terhadap dunia farmasi selama ini mungkin boleh jadi adalah sebagai buah dari pesimisme profesi terkait dengan begitu besar dan strategisnya peran yang bisa mereka wujudkan. Dengan optimisme, kerjasama dan kolaborasi semua stakeholder kesehatan tidak menjadi hal yang muluk-muluk. Ketika optimisme sudah tertanam, semua ini hanyalah permasalahan waktu sahaja…. Semoga

Viva la pharmacie…

++++++++++++++++++

READ ALSO:  Silaing: Hantunya Padang-Payakumbuh

This posting is just a personal opinion based on “Seminar Nasional dan Workshop Kefarmasian” organized by Student Executive Board of Pharmacy, University of Andalas, Padang, 4th April 2010.

Yori Yuliandra
Follow me

Yori Yuliandra

A lecturer and researcher in the Faculty of Pharmacy, Andalas University, majoring pharmacology "the study of drugs" | A blogger (and webmaster at RankMudo.Net) | An enthusiast in higher education
Yori Yuliandra
Follow me

6 thoughts on “Menyongsong kemerdakaan farmasi(s)

  1. why_snu says:

    blogwalking sob…….

  2. liew267 says:

    semoga pekerjaan kefarmasian lebih dikenal masyarakat sbg tenaga profesional kesehatan di masa kini dan nanti

    1. Amin…
      Semuanya berpulang ke farmasis itu sendiri 🙂

  3. Merdeka! ^^ V

    Btw, Pak Faiq itu memang bukan apoteker, tapi beliau lulusan SMF, jadi memang ada latar belakang kefarmasiannya.

    1. Ya, beliau asisten apoteker (kebetulan istri beliau juga apoteker *cocok deh* :mrgreen: Bagaimanapun, gak salah orang deh buat ngomongin tentang farmasi dan masa depannya… 🙂

  4. Asop says:

    Wah, dunia farmasi ternyata seperti ini ya. 🙂

Don't forget to give comment and questions :)