Sebelum makan atau sesudah makan?

(tentang waktu yang tepat untuk meminum obat)

time to take medicationKetika anda demam dan memutuskan untuk meminum obat antipiretik seperti parasetamol, maka normalnya anda akan merasakan keadaan tubuh yang membaik beberapa saat kemudian. Antipiretik merupakan golongan obat-obat yang memberikan efek penurunan suhu tubuh yang biasanya ditandai dengan produksi keringat yang lebih banyak. Jadi seandainya suhu tubuh pada kondisi demam adalah 38,5 C akan diturunkan kembali ke arah normal misalnya menjadi 37. Nah, saya punya pertanyaan:

Pernahkah anda menghitung selang waktu antara meminum obat parasetamol sampai munculnya efek penurunan suhu tubuh tersebut? Berapa menitkah kira-kira…?

Yang pasti, ketika selesai meminum tablet parasetamol tersebut suhu tubuh tidak langsung turun kan? Harus menunggu beberapa saat dulu kan? *dari tadi nanya terus… Nah, saya hanya mau menegaskan bahwa semua obat, apapun bentuk dan khasiatnya, tanpa terkecuali, harus melalui serangkaian proses tertentu di dalam tubuh terlebih dahulu dan butuh selang waktu tertentu sebelum ia dapat memberikan efek dan khasiat terhadap tubuh.  Proses ini dikenal dengan istilah farmakokinetika. Secara sederhana proses ini dapat kita bahasakan dengan pertanyaan “Apa saja yang dialami oleh obat di dalam tubuh?” (Jawab: semua proses dan mekanisme yang dialami obat di dalam tubuh disebut dengan farmakokinetika)

Minum obat tidak selalu harus setelah makan

Anggapan kebanyakan masyarakat kita dalam hal meminum obat adalah bahwa obat harus diminum setelah makan (setelah perut berisi, red), dan tidak boleh minum obat ketika perut kosong. Nah, kita perlu memahami bahwa:

Tidak semua obat harus diminum setelah makan, bahkan obat-obat tertentu harus diminum di saat perut kosong (dari makanan). Atau obat-obat tertentu yang harus diminum ketika makan (di sela-sela waktu makan) dan waktu-waktu lainnya.

Ada beberapa pertimbangan, alasan dan dasar tentang waktu yang paling tepat meminum obat, terutama sifat  obat serta tujuan pengobatan.

  • Minum obat sebelum makan

Secara umum dan pada dasarnya, obat diminum sebelum makan (ketika perut kosong), sebab keberadaan makanan dapat mengganggu proses yang dialami obat sebelum obat diserap ke dalam darah dan memberikan khasiat. Obat diminum sebelum makan jika obat tidak bersifat mengiritasi lambung. Obat magh tertentu yang diminum untuk mengontrol asam lambung juga diminum sebelum makan. Namun prinsip dan dasar ini tidak berlaku utuk obat-obat tertentu (seperti yang akan diuraikan pada poin-poin selanjutnya)

  • Minum obat setelah makan

Obat diminum setelah makan karena beberapa alasan. Salah satu di antaranya adalah jika obat yang diminum bersifat mengiritasi lambung dan saluran pencernaan, sehingga penggunaan obat setelah makan dapat meminimalisasi hal tersebut.

  • Minum obat di saat makan

Beberapa obat tertentu menjadi rusak dan tidak berfungsi ketika berkontak dengan asam lambung. Ada juga obat yang digunakan untuk tujuan membantu proses pencernaan makanan dan penyerapan nutrisi makanan. Atau ada juga obat tertentu dimana proses farmakokinetikanya menjadi lebih baik dengan keberadaan makanan dalam saluran pencernaan. Nah, obat-obatan dengan sifat dan tujuan penggunaan seperti ini diberikan di saat makan atau bersamaan dengan makanan

  • Minum obat di pagi hari, malam hari sebelum tidur, dan waktu lainnya

Obat diuretik (yang menyebabkan sering buang air kecil) sebaiknya diminum di pagi hari. Mengapa tidak malam hari? Sebab anda tidak mau kan waktu tidur anda harus terganggu gara-gara harus ke kamar kecil setiap jam-nya? Selain itu ada obat-obat lain yang juga punya waktu spesial untuk meminumnya.

Apakah ‘ngaruh?

Waktu untuk meminum obat berpengaruh sangat besar terhadap khasiat obat, dan secara tidak langsung menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan pengobatan anda. Jika obat yang anda minum tidak memberikan khasiat sebagaimana mestinya karena kesalahan dalam pemilihan waktu meminumnya, maka ada beberapa konsekuensi buruk yang mungkin anda terima: penyakit anda tidak sembuh, dan boleh jadi juga bertambah parah karena terjadi efek samping, atau penyakit anda menjadi “kebal” misalnya karena ketidakcukupan dosis akibat kesalahan terkait dengan waktu meminum obat. Jadi, yang akan menyembuhkan (baca: memberikan perubahan anatomis dan fisiologis) penyakit anda adalah obat, sehingga patuhilah segala sesuatu yang berkaitan dengannya.

Tanya siapa? Tanya Apoteker…!

ask pharmacist yoriKalau anda merasakan ada gejala penyakit, perasaan aneh, atau gejala-gejala fisik  yang tidak semestinya atau tidak biasanya anda rasakan, dan anda ingin tau apa sebenarnya yang terjadi pada tubuh anda, maka anda harus memeriksakan diri dan tanya ke DOKTER, bukan yang lain. Mengapa dokter? karena itu adalah keahlian “field of expertise” mereka. Karena untuk itulah mereka disekolahkan (*disekolahkan oleh siapa ya…? :). Namun ketika ada segala sesuatu hal yang anda ingin tau tentang obat *dan anda memang harus tau untuk keberhasilan pengobatan*, maka orang yang tepat untuk menjadi sumber informasinya adalah APOTEKER (= Pharmacist = Farmasis).

Mengapa apoteker? Karena memang tentang obatlah  tahun-tahun perkuliahan mereka (tidak hanya tentang bagaimana membuatnya, tapi yang lebih penting tentang bagaimana penggunaannya secara tepat). Karena memang tentang obatlah “field of expertise” mereka. Karena memang tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan obatlah mereka disumpah (apoteker disumpah juga lho…)

++++++++++++++++

informasi di halaman ini hanyalah informasi sederhana tentang dunia praktek kefarmasian dan tidak dapat menggantikan informasi yang komprehensif dari seorang farmasis dalam praktek sebenarnya di lapangan. Untuk informasi tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan obat, konsultasikan dengan apoteker anda.
picture taken from googling and here

 

Yori Yuliandra
Follow me

Yori Yuliandra

A lecturer and researcher in the Faculty of Pharmacy, Andalas University, majoring pharmacology "the study of drugs" | A blogger (and webmaster at RankMudo.Net) | An enthusiast in higher education
Yori Yuliandra
Follow me

Latest posts by Yori Yuliandra (see all)

27 thoughts on “Sebelum makan atau sesudah makan?

  1. Numpang tanya, sebenanya Amlodipine diinum pagi/ malam?

  2. thalib says:

    Ada contoh obatnya nggak,sprti obat d’minum sblum mkan cntoh obatya apa,pda saat mkan apa…???

    1. Sebelum makan: antasida, amoksisilin, dll
      Di saat makan: obat2 enzim pencernaan seperti (misalnya Tripanzym), metronidazol, dll
      Setelah makan: asam mefenamat, piroksikam, dll

      Contohnya segitu aja yaa… Informasi yang lebih komprehensif bisa diperoleh melalui konsultasi obat dengan apoteker anda 🙂
      Trims…

  3. nah… kadang tuh, ada dokter yang ngresep obat maag diminum sesudah makan, tapi dokter yang satunya lagi, ngresep obat maag sebelum makan… jadiii mana yang bener tuh

    1. Yang benarnya? Tanya Apoteker… Hehe… *ini serius lho…

  4. sari says:

    tulisan yang menarik

    kunjungi ini ya….

  5. na caeyang says:

    ass…

    wahh thanks ya mas atas infonya….
    terusterang ini bermanfaat buat saya..

  6. Terima kasih banyak atas pencerahannya, sangat penting ini untuk kesehatan kita. Dan jadi tahu istilah baru nih, farmakokinetika 😀

  7. tary Sonora says:

    semua memang ada aturannya, yah…harus ngikutin anjuran pakai lah. biar nggak mabok obat nantinya.

  8. ini Aini says:

    Tanya perawat juga bisa tuh da Yori…. 😀

    Karena secara praktek, di RS ataupun di komunitas, perawat juga berperan dalam mengawasi pasien dalam meminum obat. Termasuk memperhatikan 6 Benar (mungkin lebih) dalam memberikan obat: benar pasien, benar waktu, benar dosis, de el el

    Bahkan dalam pemberian obat, oral, injeksi, fekal (“pemberian” bukan meresepkan) itu juga adalah gawean perawat….hohoho….

    oia, sepengetahuan Ni, tidak semua obat (yang kita ketahui itu adalah obat untuk penyakit tersebut) bisa diberikan lagsung begtu saja. Kita tetap harus memperhatikan status kesehatan dan riwayat kesehatannya terlebih dahulu. Bagusnya juga ditambahkan pembahasannya mengenai obat-obat yang mungkin adalah kontraindikasi terhadap pasien dengan riwayat-riwayat kesehatan tertentu. Karena mungkin bisa menimbulkan alergi, dsb…

    *Tapi kalau untuk meramu dan meracik obat, gak ada tandingannya deh,,, that’s what the Pharmacist are for….

    salam blogger!!!

    1. Yori says:

      Doctors are responsible for medical care…
      Pharmacists are responsible for pharmaceutical care…
      Nurses are responsible for nursing care…
      Each of them *initially* have their own relationship with drugs… 🙂

      1. Yori says:

        Doctor prescribes the drugs…
        Pharmacist dispenses the drugs…
        Nurse administers the drugs…

        I ‘ll be waiting for your posting about this 🙂

      2. ini Aini says:

        😀

        That’s very kind of you to make me remember to take this topic for my next writing….

        InsyaAllah!….

        Thanks jiddan bro!

  9. sunflo says:

    yang udah terpatrti dalam benak masyarakat, kalau nanya ttg sakit n obatnya ya ke dokter… padahal yang lebih banyak tau ya si apotekernya ya Yo… :mrgreen: tanya ke Yo ajah dech kalau butuh info obat…

  10. rose says:

    emang ga selalu habis makan … setau rose obat itu disesuaikan dengan manfaat dan penggunaannya…

  11. fansmaniac says:

    Makasih infonya sob, baru tau itu sebabnya ya?? Berarti sebenarnya semua obat itu ada efek sampingnya juga ya… Maka berhati2lah minum obat jangan sembarangan 😀

    Nice post

    1. Yori says:

      Secara umum hampir semua obat punya efek samping, tetapi efek samping tidak selalu terjadi, dan juga tidak semua efek samping bermakna secara klinis (sebagiannya dapat diabaikan)

  12. Asop says:

    Sip, info yang bagus. 😉

  13. Assalamu’alaikum …

    afwan, tapi ane nggak suka minum obat …

    (g bisa … hehehe … kalo minum obat pasti harud di gerud dulu … makanya males minum obat …)

    manusiawi ‘kan ???

    ^_^

    1. Yori says:

      ‘alaykumussalam…
      Kadang kita harus minum obat sebagai bentuk ikhtiar kita pada Allah SWT 🙂

      Tidak semua obat boleh digerus lho… konsultasikan dulu :mrgreen:

      1. ada juga tuh antibiotik yg g boleh d gerus

  14. achoey says:

    Ada yg sebelum dan ada yg sesudah makan 🙂

Don't forget to give comment and questions :)