37 comments


  • rahmi damayanti

    DRP kirain ada 8 mas? kok cuman 5 but thanks infonya..

    March 17, 2015
  • Sangat membantu…penjelasannya lengkap banget 😀
    lagi blogwalking dan nemu juga blog tentang farmasis, kebetulan saya mahasiswa farmasi unsyiah aceh hehe
    salam kenal 🙂

    June 12, 2014
    • Salam kenal juga. Semoga bermanfaat

      July 01, 2014
  • izin share ya bang… 🙂

    November 22, 2013
  • Reblogged this on BSMI Cabang Padang and commented:
    Ask your pharmacist…

    November 16, 2013
  • […] dan aman sehingga diharapkan apoteker dapat mencegah, mengidentifikasi, dan memecahkan semua permasalahan yang berhubungan dengan obat. Dengan demikian, semestinya pasien berkonsultasi dengan apoteker terkait dengan obat/pengobatan […]

    March 04, 2013
  • hafshah

    kutip dari tulisannya uda Yori “Kalau apoteker: mereka adalah ahli obat (tidak hanya tentang bagaimana membuat obat/meracik obat, tetapi yang lebih penting adalah tentang bagaimana mewujudkan penggunaan obat yang rasional dan berkualitas” <— sepakaaattt sangaaattt lah Da….

    Tapi kebanyakan farmasis justru juga bingung mengenai hal ini. Maksud aye, kapabiltias farmasis sendiri kebanyakan ternyata tak cukup adekuaat ilmunya jika mesti terjun ke lapangan tanpa pembekalan klinis yang lebih mumpuni. Sebagai contohnya, aye sendirilah. Dulu semasa masih apoteker, aye ngerasa ilmunya dikit bangeett utk bisa cuap-cuap soal rasionalitas pengobatan. Aye rasa sih kebanyakan farmasis lain juga gituuuh (hehehe, nyari temeen euy). Kaya dokter kan yah, mereka karena udah intens banget di klinis. jadi mereka paham. Jika farmasis pun ikut terjun langsung ke ranah pelayanan dan ke ranah klinis, aye yakin farmasis juga bisa!

    ada beberapa rumah sakit memang sudah mengakui eksistensi farmasi. dan ternyata mereka butuh banget farmasis utk menganalisa rasionalitas pengobatan. dan ternyata eh ternyata lagi, kita sebagai farmasis yaa mesti upgrade diri jugaa…

    *sekedar cupa-cuap da…semoga ndak GEje, hihih… 😀

    October 07, 2012
  • faris

    dahsyat, dahsyat, dahsyat

    October 26, 2011
  • feni_processorUA

    assalamualaikum
    da, boleh tau gak literaturnya dr mana
    soalnya lg pnelitian ttg DRP 😀

    October 03, 2010
    • ‘alaykumussalam Feni…
      Ini adalah ringkasan dari beberapa material perkuliahan
      dan dari baca-baca lepas aja…
      Kalo mau literatur pastinya ada, Google can help I suppose 😀
      *derita yang gak punya banyak buku*

      October 03, 2010
      • feni

        hehe..iya..klo literatur dari mbah google banyak
        tp klo literatur buku gtu agak susah 🙁

        October 05, 2010
  • Saya membayangkan farmasis bisa berperan lebih.
    pasti tidak perlu lagi terjadi DRP dan pharmaceutical care bisa dijalankan.

    No Pharmacist No Service

    June 11, 2010
    • Ya…
      Ini semua adalah tentang bagaimana melayani dan melindungi masyarakat. They deserve it…

      June 11, 2010
  • Hiks, makasih infonya… 😥

    Serem juga kalo dosis berlebihan ya… saya hanya bisa percaya pada apotek tempat saya beli obat. 😐

    June 07, 2010
  • bagus sekali informasinya
    jadi tahu lebih banyak
    alhamdulillah, skrg sy menghindari sejauh mungkin obat-obatan
    setelah bbrp tahun berteman akrab dg obat2an
    *smile*

    June 07, 2010
  • *menyimak*

    June 07, 2010
  • jaman skr kta memang kudu waspada sama hal apa saja, termasuk ttg kesehatan kita, jaman skr apa aja bisa dilakukan untuk kepentingan org2 yg tdk bertanggung jawab, obat palsu, dokter gadungan dldl nya

    maaf yah kalo keluar dr topiknya heheh

    June 06, 2010
  • wah baru tahu

    June 06, 2010
  • bukan cm itu masalah g sesuai nya obat ma penyakit,.
    dokter skrg byk yg salah diagnosa,…

    June 04, 2010
  • Yup, reaks-reaksi obat yang tidak terantisipasi memang sering menimbulkan masalah perawatan.

    June 04, 2010
  • Yup, reaksi obat yang terantisipasi memang sering menimbulkan permasalahan dalam perawatan.

    June 04, 2010
  • waah lengkap dan jelas banget penjelasaannya nih
    jadi tau deh mengenai ilmu kesehatan
    soalnya gue juga pernah mengkonsumsi parasetamol

    thanks a lot bro

    June 04, 2010
  • wah wah uda yori
    saya harus belajar banyak sama yori
    jujur, untuk menghafal obat-obatan dan dosisnya saya masih kewalahan. mungkin karena masih baru koas ya.

    nice posting yori

    June 04, 2010
  • ilmu mu penting bgt yo, bisa ngobati sendiri tanpa dengan dokter… bgtukah?? tapi resep itu kan harus dikeluarkan oleh dokter ya?

    June 04, 2010
    • pengobatan sendiri (swamedikasi) bisa dilakukan bagi siapa saja yang tau, tapi pada tahapan tertentu kita harus memeriksakan diri ke dokter…

      Yepp, resep dikeluarkan hanya oleh dokter dan dokter gigi

      June 04, 2010
  • aq menghindari obat kimia Yo.. kalau ga kepepet banget, seringnya pake yang alami saja

    June 04, 2010
    • Hampir semua material yang ada di muka bumi adalah bahan kimia, air yang kita minum, udara yang kita hirup, bahkan tubuh kita juga terdiri atas komponen-komponen kimia. Mbak Novi udah pernah baca yang ini belum..? 🙂

      Hmm… kapan2 kita bahas tentang kimia, alami, dan istilah2 penting lain…. 🙂
      Ditunggu yak…

      June 04, 2010
  • Wah, begini nih untungnya punya ahli farmasi yang aktif ngeblog slalu sharing informasi yang sangat dibutuhkan… andai di Indonesia juga tersedia fasilitas seperti itu. Ndak pengen nyobainnya sob? sapa tau banyak diperlukan masyarakat… tentunya lewat online 😀

    Salam kenal

    June 03, 2010
    • Hoho… ide yang mencerahkan…
      Mungkin perlu digagas, tapi rame-rame.
      This is a big deal sob… 🙂

      June 03, 2010
  • saya juga mengalami penyakit yang kalo ke dokter dikasi obat yang aneh2 tapi nggak sembuh2… kayaknya saya mencoba meluncur ke TKP deh.

    Makasih infonya ya?

    June 03, 2010
  • hmm.. makasi infonya mas..

    aku jarang bgt minum obat klo ga kepaksa bgt sih.. 🙂

    June 03, 2010
  • thanks…
    info bgs banget…sangat bermanfaat …

    salam.

    June 03, 2010
  • Ikut menyimak ya…
    kayaknya dokter/pengobatan tidak akan bisa lepas dari farmasi….
    Salah satu adik asuh lia rencannya mau kuliah ini juga looo ^_^

    June 03, 2010
  • gw baca di Reader’s Digest:
    bisa juga karena penyakit itu sebelumnya sudah pernah kita derita tapi saat itu kita tidak meminum habis obat yang diberikan dokter.
    jadi pada saat kita terkena penyakit yg sama, dosis obat yg sama dengan sebelumnya tidak akan mempan.. padahal mungkin dokter memberi kita dosis obat yg sama dengan asumsi kita menghabiskan semua obat yg dikasih sebelumnya 🙂

    June 03, 2010
    • Yup, betul banget. Itu namanya toleransi.
      Atau kalau kasusnya adalah obat antibiotik, maka itu namanya sudah terjadi resistensi…
      Nice response 🙂

      June 03, 2010
  • adriyal

    mantap…mantap…..

    June 03, 2010
  • Anonim

    you are real pharmacist, keep inform people! Bravo! I am proud of you!

    June 03, 2010

Leave a comment


Name*

Email (will not be published)*

Website

Your comment*

Submit Comment

Copyright © Think liike a learner...! by Yori Yuliandra