Pertanyaan favorit tentang obat

https://i2.wp.com/yoriyuliandra.com/site/wp-content/uploads/2009/12/drugs2.jpg?resize=134%2C146Minggu ini saya mulai lagi menjalankan aktivitas semesteran di salah satu kampus kesehatan di kota Padang. Ya, becoming a teacher, again… Sebenarnya udah berbilang tahun. Tiga tahun berinteraksi dengan mahasiswa kesehatan yang bukan mahasiswa farmasi tersebut membuat saya sangat ingin untuk merangkum beberapa hal yang sepertinya cukup menarik untuk diulas… Menarik karena hal-hal yang saya alami di sana mungkin sangat jarang terjadi ketika saya berinteraksi dengan mahasiswa farmasi. Dan saat ini, salah satu hal yang ingin saya tuliskan adalah seputar pertanyaan-pertanyaan dari mahasiswa, khususnya tentang farmasi, terkhusus lagi tentang farmakologi dan obat-obatan.

Sebenarnya, saya masuk di 2 jenis kelas yang berbeda. Kelas program A yaitu kelas reguler dimana mahasiswanya adalah mahasiswa yang belum bekerja (sebagaimana halnya mahasiswa biasa). Kelas program A ini biasanya terdiri dari 3-4 kelas. Sedangkan kelas program B (biasa disebut juga kelas weekend) adalah kelas non-reguler dimana mahasiswanya adalah para praktisi kesehatan (umumnya perawat tamatan D3) yang sudah bekerja di rumah sakit atau sarana kesehatan lain, bahkan ada yang sudah puluhan tahun bekerja, dan bahkan lagi ada yang usianya melebihi usia orang tua saya *gak enak kan dipanggil “Pak” sama orang yang seusia dengan ayah ibu kita… Selain itu, terkait dengan suasana kuliah, biasanya pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari kelas B adalah pertanyaan yang berkelas (baca: advanced) yang berasal dari persoalan kerja dan praktek mereka. Kadang saya tidak bisa menjawabnya, sehingga terpaksa jawabannya dijanjikan pada pertemuan berikutnya.

Terkait dengan dunia obat-obatan secara umum, ada beberapa pertanyaan yang hampir selalu ditanyakan oleh mahasiswa saya setiap tahunnya. Pertanyaan ini kebanyakan mereka sampaikan ketika pertemuan pertama, dimana biasanya perkuliahan pada pertemuan pertama ini hanya berisi perkenalan, pengantar tentang obat-obatan (farmakologi), dan beberapa hal yang mendasar lainnya. Berikut pertanyaan-pertanyaannya…

Apa beda obat generik dengan obat paten?

Pertanyaan ini wajar saja mengemuka, karena umumnya masyarakat kita memang sangat penasaran dengan beda antara 2 jenis obat ini. Betapa tidak, bayangkan saja ada suatu obat yang sama isinya tetapi harga antara generik dengan patennya bisa berkali lipat, misalnya Rp 5.000,- banding Rp 40.000,- 🙁 Saya cukup bingung juga sebenarnya memformulasikan jawaban yang tepat untuk pertanyaan yang satu ini. Seandainya saya jawab dengan jawaban versi buku teks “Obat generik adalah obat yang diberi nama berdasarkan nama senyawa obatnya. Sedangkan obat paten adalah nama obat yang diberikan oleh pemegang patennya”. Saya yakin kebanyakan pembaca tidak langsung paham dengan penjelasan seperti ini 🙂

READ ALSO:  Blog Training

Pertanyaan seputar obat generik dan obat paten ini sebenarnya masih banyak di antara kita yang salah paham. Kalau mau membaca lebih lanjut lihat di sini.

Apakah kualitas obat generik sama dengan obat paten/obat dagang?

Pertanyaan ini juga sangat wajar muncul mengingat harganya yang sangat jauh berbeda. Biasanya pertanyaan seperti ini saya balas dengan sebuah pertanyaan “Menurut Bpk/Ibu/Sdr mahasiswa bagaimana…? Dan biasanya lagi, mereka akan menjawab dengan sangat yakin “Bedalah Pak, kadang minum obat generik sakitnya gak sembuh-sembuh”, atau  “Ya, pasti berbeda… Harganyanya aja jauh lebih mahal, tentu kualitasnya juga berbeda jauh…”

Menjawab pertanyaan tentang sama atau tidaknya kualitas antara obat generik dengan obat bermerek seperti ini kadang menjadi dilema. Dijawab sama, rasanya terlalu naif. Dijawab berbeda, ntar pemerintah marah :mrgreen: Tapi saya punya jawaban pamungkas untuk pertanyaan yang satu ini.

Masalah kualitas antara obat generik dengan obat bermerek dagang sebenarnya tidak bisa digeneralisasikan dan agak susah juga untuk dibanding-bandingkan. Meskipun secara teori mereka sama-sama mengandung obat yang sama dengan jumlah kadar yang sama, kadang ada beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas obat. Selain itu parameter kualitas obat juga tidak hanya terkait khasiat, tapi juga faktor-faktor lain yang terlalu nge-farmasi untuk ditulis di sini.

Sedangkan untuk masalah perbedaan harga saya jawab dengan:

Obat generik mempunyai harga yang lebih murah karena disubsidi oleh pemerintah. Produksinya pun hanya dipercayakan oleh pemerintah kepada suatu industri farmasi tertentu. Sedangkan obat bermerek mempunyai harga yang relatif lebih mahal dan bervariasi antara merek yang satu dengan merek yang lain. Kalo masalah harga, ya terserah mereka dong. Mereka yang punya pabrik, mereka yang menggaji karyawan, dan mereka yang mendistribusikan, tentu saja mereka yang tau modalnya berapa, pengen ambil untung berapa, ya terserah mereka mau pasarkan dengan harga berapa.  Kalo mereka jual dengan harga terlalu tinggi, ya nggak usah dibeli, cari yang lebih murah aja. Meskipun demikian, pemerintah tetap berperan dalam mengontrol harga obat, misalnya dengan menetapkan HET (Harga Eceran Tertinggi)

Mengapa dosis obat berbeda-beda untuk setiap obat?

Ada obat yang untuk satu kali minumnya mempunyai dosis 1 mg, ada yang 4 mg, 10, 100, 300, atau 500 mg, atau dengan kadar lainnya. Lebih ringkasnya, untuk dapat memberikan khasiat di dalam tubuh, setiap obat harus mencapai konsentrasi terntentu di dalam darah. Ada obat yang dalam kadar sedikit saja sudah dapat memberikan efek dan ada juga obat yang membutuhkan konsentrasi yang lebih tinggi untuk dapat memberikan efek. Dan masing-masing obat punya rentang konsentrasi tertentu dimana ia dapat memberikan efek. Rentang konsentrasi itulah yang biasa disebut dengan “jendela terapi”.

READ ALSO:  Gempa Padang 30 September 2009

Selain itu, pertanyaan tentang dosis di atas biasanya juga ada susulannya. Misalnya “Mengapa ada obat yang diminum sekali sehari, ada yang 2 kali, dan ada yang tiga kali sehari?” Jawabannya begini:

Setiap obat yang kita minum akan terlarut di dalam darah dalam konsentrasi tertentu. Nah, konsentrasi ini akan berkurang seiring dengan perjalanan waktu. Kecepatan penurunan konsentrasi obat di dalam darah ini juga berbeda antara obat yang satu dengan obat yang lain. Jadi, suatu obat yang kecepatan penurunan konsentrasinya di dalam darah lebih cepat harus diminum lebih sering dibandingkan dengan obat yang bertahan lebih lama pada jendela terapi. *Hmm… sepertinya saya harus bikin tulisan khusus tentang ini

Mengapa ada obat yang diminum sebelum makan dan ada pula yang setelah makan?

Hal ini sebenarnya masih berhubungan dengan profil farmakokinetika. Waktu untuk meminum obat biasanya dikaitkan dengan beberapa faktor utama, seperti:

  • Apakah obat dapat mengiritasi lambung atau tidak
  • Apakah keberadaan makanan akan mengganggu proses penghancuran dan penyerapan obat atau tidak

Topik seputar waktu meminum obat sudah pernah saya tulis sebelumnya di sini.

Bapak sudah menikah? *gedubrak

Mendengar ada yang melemparkan pertanyaan seperti ini, saya langsung tertawa dengan sekeras-kerasnya *di dalam hati… Pertanyaannya sangat tidak nyambung dengan bahan perkuliahan. Pertanyaan ini mempunyai kecenderungan yang lebih tinggi untuk muncul di kelas B, meskipun yang bertanya sambil menyembunyikan muka dan memelankan suaranya… Untungnya, meskipun pertanyaan ini tidak dijawab, penonton tidak kecewa :mrgreen:

READ ALSO:  My 2nd Award: "Eight things about my self"

+++++++++++++

Di sebalik semua pertanyaan ini, saya selalu menekankan kepada mahasiswa dan siapa saja bahwa bertanya adalah salah satu metoda belajar. Jangan pernah malu untuk bertanya, karena bertanya adalah salah satu perintah yang terdapat dalam Al Qur’an.

Fas’aluu ahladzdzikri inkuntum laa ta’lamuun (Maka bertanyalah kepada orang yang mengetahui jika kamu tidak mengetahui)

Yori Yuliandra
Follow me

Yori Yuliandra

A lecturer and researcher in the Faculty of Pharmacy, Andalas University, majoring pharmacology "the study of drugs" | A blogger (and webmaster at RankMudo.Net) | An enthusiast in higher education
Yori Yuliandra
Follow me

Latest posts by Yori Yuliandra (see all)

39 thoughts on “Pertanyaan favorit tentang obat

  1. Inda says:

    Seorang pasien masuk rumah sakit dan ditangani dengan metronidazol infusa dengan kecepatan 25 mg/jam selama 7 hari. Pada hari ke 5 pasien minta diijinkan untuk pulang. Lalu dokter memberi obat metronidazole oral dengan cara paka S 3 dd 1. (Bioavaibilitas tablet 0.8). Berapa dosis metronidazole oral yang diberikan untuk sehari pemakaian?

    Mohon dibantu cara penyelesaiannya

    1. I’ll just give you the keyword…

      Fraksi absorbsi metronidazole dalam bentuk tablet diketahui 0,8; sedangkan fraksi absorbsi dalam bentuk sediaan intravena pastilah 100 persen. Kalau ini dipahami, maka sisanya hanyalah urusan matematis saja.

      Sebagai clue, sediaan oral selalu memerlukan dosis yang lebih besar dibanding dengan sediaan injeksi/iv

      Selamat mencoba

  2. Ayu Putri says:

    Mksich,__!!
    ats infox jdi naMbah ilmu

    xixixi
    😉

  3. ayya says:

    jadi ingat pengalaman wkt ibu saya masuk ICCU RS. singkatx,wkt itu phk rs menanyakn, mau pakai obat yg mana? ada 2 jenis obat yg bisa dipakai, yg salah salah satunya berbahan ‘bab1’… pengalaman yg membuat sy jadi tahu dan merasakan langsung bhw hal ini mmg ada, krn biasanya info ini hanya sy dapat dari ‘katanya’.

  4. Nandini says:

    wah.. surprised melihat TS ngeblog… saya pun seringkali mendapatkan pertanyaan yg sama.. dari paling atas sampai paling bawah.. :mrgreen:
    salam kenal mas Yori.. 🙂

    1. Eva Dania says:

      like this,,, (^__^)

  5. butuh lebih banyak guru dan doses baik dan cerdas sepertimu 🙂

  6. yusuf says:

    Oh ya ada yang lupa, sudah menikah apa belum?

    saya sudah menikah Pak..:)

  7. yusuf says:

    Jadi tau sedikit tentang obat, untuk masyarakat awam seperti saya taunya ya beli obat dengan resep dokter kemudian diminum menurut petunjuk dokter. itu saja, masalah harga generik dan obat paten tidak menjadi halangan asal kesehatan cepat membaik.

    salam kenal dari petani Njojogan Tuban

  8. kezedot says:

    aku dan blue sukai ini
    menarik
    alam persahabatan

  9. fitrimelinda says:

    wahh..jadi tahu dikit deh tentang obat-obatan..makasi ya da infonya..

    jadi udah nikah apa belom da??? 😛

  10. Mila says:

    Bekunjung 🙂

    maaf baru sempat mampir

  11. kikiriska28 says:

    wah,,,
    jd brtmbah ilmunya,,,
    sbnrny jg prnh search jwbn ttg prtnyaan ni, tp postan uda smakin mlngkpi,,
    mngkin jwbn2ny jg bsa d gunakan klw2 da yg tny dgn prtnyaan yg sama,,:)

    prtnyaan trakhirny lucu da,,
    hahahaha,,
    seringan yg mna da, di tny prtnyaan awal taw akhir??
    ckckckck (bcanda da)

  12. Asop says:

    Nah, saya pernah denger perdebatan soal generik dan paten ini.
    Saya berharap, dokter tempat saya berobat (jika saya sakit) memberi obat generik pada pasiennya. 😀

    Hihihi, perihal pertanyaan terakhir, kalo semisal bener2 ada mahasiswa yang tertarik ama Mas Yori, apa yang akan Mas Yori lakukan? 😳

  13. ternyata kita TS yah dek
    info yang bermanfaat aku senang sekali bila ada apoteker yang selalu mau berbagi ilmu tentang obat

    bener banget obat generik itu murah karena ada subsidi dan tak harus bayar iklan

    1. giewahyudi says:

      Geleng-geleng sama apoteker yang ngeblog. 🙂

      1. geleng2 sama yang komen di atas :p

  14. Salam Kenal Bang.
    Oy bang, abang blogger padang juga? kalo iya daftar aja jadi member palanta (komunitas blogger padang), situsnya ada di http://www.palanta.org

  15. 'Ne says:

    saya bukan mahasiswa farmasi tapi juga selalu ingin tahu apa beda obat generik dan obat paten.. dengan membaca ini sedikit banyak saya jadi tahu.. terima kasih infonya..

    dan saya termasuk orang yang sering banget bertanya hehe. dengan siapapun dan tentang apa saja yg membuat saya tertarik. bagi saya bertanya bukan berarti bodoh, justru awal dari pengetahuan 🙂

    1. Sepakattt…

      Bertanya berarti menunjukkan perhatian, keingintahuan, dan kebutuhan akan ilmu pengetahuan

  16. mimikimosa says:

    @pak apriyandi saya pernah baca mjalh tentg produk2 yg mggunakan hwn tsb. slh satunya obat dlm bntuk capsul. nah cangkang capsulnya it pak yg dr ba*i. obatnya gak. terus kata teman saya yg dokter obat dlm capsul itu obat yg sangat2 ekstrim seprti trlalu pahit anyir dll. dbuat dlm bntuk capsul dgn tujuan mengatasi rasa tsb
    slain it capsul akan pecah diusus tidak dlambung jd lmbung aman.

    1. Ada beberapa alasan mengapa suatu obat dibuat dalam bentuk kapsul…
      1.
      2.
      3.
      Waduh… tulisan tentang ini menyusul aja ya,
      terlalu text book… :mrgreen:

      1. salah satunya karena rasanya pahit kan da, hehe
        maap nyamber aja nih kayak gledek 😀

  17. apriyandi says:

    1 lg pertanyaan (mgkn ptnyaan bodoh saya sj) knp obat itu pahit?(yg ga pake salut gula)

    (jawaban bodohnya)..karena untuk sehat itu butuh pengorbanan,..hehe

    makasih da yori…^^,

    1. Terimakasih atas jawabannya @apriyandi

  18. apriyandi says:

    numpang balas komen yo da yori…
    @mimikosa :
    1st question i can’t give a comment..*hehe..
    2nd. setahu saya nih yang mahasiswa farmasi,,belum pernah dengar obat yang berasal dari babi..(*mgkin karna saya malas belajar kali yak, mkanya gak tau..hehe)
    untuk obat halal dan haram ini saya agak susah juga menjelaskannya..dan kebetulan mimikosa orang kimia,,jadi kan bisa tuh memeriksanya…karena kadar halal dan haram itu bisa di cek secara kimia…

  19. micelia says:

    1 lg pertanyaan (mgkn ptnyaan bodoh saya sj) knp obat itu pahit?(yg ga pake salut gula)

    yaikss.. saya benci obat, tepatnya phobia ketika si obat selalu nyangkut ga masuk2 ke kerongkongan, i can’t, harus digerus atau sekalian yg sirup aja.

    tapi alhamdulillah, sy ga masuk farmasi, ya… meski nanti juga bakal ketemu obat juga, paling tidak dokter kan hanya meresepkan obat2, hehe

    1. semoga @micelia senantiasa sehat sehingga tidak perlu minum obat… :mrgreen:
      mungkin nyaris semua orang tidak suka obat, lebih tepatnya, tidak suka sakit. Namun minum obat adalah salah satu bentuk tawakkal yang paling masuk akal ketika sakit

      Btw, tidak semua obat boleh digerus ya…
      Trus sirup secara umum diberikan untuk anak-anak… btw, @micelia umurnya berapa ya ❓ yaiksss…

      1. fski says:

        agak udah gede bg, 20, udah taun tiga di fk, n agak ga suka belajar farmako, yaiks..too

      2. micelia says:

        hehe2 salah masuk account yg diatas.. maaf…afwan..

  20. mimikimosa says:

    1st : mengapa tertawa?? g slh kan kl ad yg brtanya. pernikahn itu bukan utk ditertawakan

    2nd : mengenai obat bagaimana tentg halal n haram obat? mengapa obat tak ad label halalnya sprt makanan? trutama obat type capsul yg ktanya kbyakan dr b*b* . kra kira obat merk ap yg mggunakan hwn tsb? kbarnya obat2 tsb berharga murah, murah dlm rentang berapa? karna murah n mahal itu relatif
    mmg farmasi tak mmbhs halal n haram tp sudh sharusnya org org farmasi mmperhatikannya. bukankh mmproduksi obat2an tugas apoteker , tentu obat yg dproduksi ssuai dgn kbutuhan konsumn. utk indonesia konsumennya bukan sj butuh obat yg ampuh menyembuhkan tp juga yg halal. menurut MUI produk halal di indonesia hanya 37% . miris!! menurut saya.
    maaf coment yg sdkt tak nyambg tp ini penting paling tidak utk saya.
    kl saya jd mahasiswa bpk mungkin tak satupun dr prtanyaan favorit diatas yg saya tanya. mgkn karna saya guru kimia jd mengerti tentang reaksi obat trhdp tubh paling tidak dasar2nya.

    1. @mimikimosa:
      Tentang kehalalan obat, betul sekali. Seharusnya obat yang kita minum juga halal 100%. Sejauh ini tidak satu pun obat di Indonesia yang bersertifikasi halal *tapi bukan berarti semua obat serta-merta menjadi haram. Undang-undang di negara kita tidak mewajibkan obat-obatan mempunyai sertifikasi halal.

      Sejauh ini, MUI sudah melakukan sosialisasi ke industri2 farmasi. Masing-masing kita harus mengambil peran dalam hal ini. Kita doakan semoga usaha ini membuahkan hasil…

      1. Tentang cangkang kapsul
        Cangkang kapsul kebanyakan terbuat dari gelatin yang bisa berasal dari gelatin sapi atau gelatin b2. Seandainya semua obat sudah diharuskan untuk disertifikasi halal, maka permasalahan kehalalan cangkang kapsul ini bisa diatasi.

        Tidak tepat juga kalo setiap obat/kapsul yang murah kita curigai sebagai obat tidak halal. Lebih tepatnya, I don’t really know

        Btw, thanks for the comment

        1. viraa says:

          malam pak yoriyuliandra, saya mahasiswa dari Riau, saya mau bertanya tentang obat statin. saya membahas jurnal tentang pengaruh statin terhadap respon vaksin influenza, dan dijurnal itu dikatakan bahwa bahwa statin bisa menurunkan respon vaksin influenza, apa yang menyebabkannya pak? terima kasih

          1. Vira, thanks for the question. Saya baru tau kalau satin ternyata berefek terhadap respon vaksin influenza, khususnya pada pasien lansia.

            Anyway, setelah baca-baca dari beberapa sumber, termasuk juga jurnalnya, sepertinya efek ini terkait dengan efek samping dari statin yang merupakan obat yang dapat menurunkan respon imun. Mekanisme pastinya belum diketahui, tapi arahnya ke sana. Oleh karena itu, temuan ini menjadi catatan dalam vaksinasi jika dilakukan pada lansia yang menggunakan statin, sehingga pada pasien tersebut disarankan dosis vaksinasi yang lebih besar, atau kombinasi dengan imunostimulan (katanya begitu).

            That’s all I can tell. Again, thanks… best wishes for your study 😉

  21. Novia Elisa says:

    wahh.. bener bgt da.. bhkan yg g ‘mhsw kshatan’ jg mnnyakan jns prtnyaan yg g jauh beda dg ‘prtnyaan favorit’ di atas. I got the same questions when i was doing KKN programme in ba*usangkar.

    agak kewalahan c jwabnya…
    but i find the answer here…

    *dtunggu postingan berikutny 😀

    1. @amitokugawa @Novia Elisa: Thanks for visiting…
      Ya, ditunggu ya. I ‘ll also be waiting for your posts…

  22. amitokugawa says:

    postingan yang bermanfaat dan merefresh ingatan tentang kuliah2 yang sudah diterima selama ini

    nice post, da!

Don't forget to give comment and questions :)