Efek Samping Obat

*tulisan ini menjawab beberapa pertanyaan seputar efek samping obat

Obat yang kita minum akan memberikan khasiat terhadap tubuh dalam menyembuhkan penyakit. Setelah mengalami proses absorbsi (penyerapan obat ke dalam aliran darah), maka obat akan didistribusikan ke seluruh tubuh untuk kemudian memberikan efeknya terhadap tubuh. Sebagai contoh, suatu obat rematik seperti Piroksikam, dimana obat ini akan meredakan radang dan nyeri persendian yang terjadi pada keadaan rematik. Namun sebagai akibat dari efek piroksikam ini adalah kemungkinan terjadinya iritasi dan  nyeri pada lambung. Nah, dengan demikian kita dapat melihat dua jenis efek obat yang berbeda yaitu: efek meredakan gejala radang dan nyeri rematik (dimana efek ini kita sebut sebagai efek utama, atau disebut juga khasiat); dan efek lainnya berupa terjadinya iritasi pada lambung (ini yang disebut efek samping, yaitu efek obat selain efek utama).

Adverse Drug Reactions (ADR)

Dalam terminologi yang dipakai secara global, efek samping obat yang kita pahami hari ini diistilahkan dengan Adverse Drug Reactions (ADR). Badan kesehatan dunia (WHO) memberikan penjelasan tentang istilah ini

ADR is any response to a drug that is noxious and unintended and that occurs at doses normally used in humans for prophylaxis, diagnosis, or therapy of disease, or for the modification of physiological function.

Nih tak transletin –> Efek samping obat adalah setiap respon tubuh terhadap obat yang bersifat merugikan/ berbahaya dan tidak diinginkan yang terjadi pada dosis normal yang biasa digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis, atau terapi terhadap penyakit, atau untuk memodifikasi fungsi fisiologis. Efek samping berbeda secara definisi dengan efek toksik obat, dimana efek samping merupakan efek yang merugikan yang terjadi pada dosis normal sedangkan efek toksik adalah efek yang terjadi akibat penggunaan dosis yang berlebih atau penggunaan pada jangka waktu yang lama sehingga menyebabkan akumulasi obat di dalam tubuh.

Efek samping tidak selalu terjadi

Rasanya terlalu naif dan menyedihkan seandainya benar bahwa setiap kita menggunakan obat maka setiap itu pula terjadi pula efek samping obat. Menyedihkan karena banyak contoh obat yang kemungkinan efek sampingnya lebih berbahaya dan lebih menakutkan daripada penyakit yang ia obati. Jadi, perlu kita pahami bahwa efek samping tidak selalu terjadi.  Oleh karena itulah istilah efek samping lebih sering disebut dengan “kemungkinan efek samping” (atau biasa juga disebut possible side effects), karena ada kemungkinan terjadinya sekaligus ada juga kemungkinannya untuk tidak terjadi sama sekali.

READ ALSO:  Yang ilmiah tentang Tali Putri (Cassytha filiformis L.)

Suatu obat biasanya mempunyai satu atau beberapa efek samping. Seandainya efek samping memang terjadi, maka belum tentu keseluruhan efek samping obat tersebut akan muncul. Bahkan kadang sama sekali tidak terjadi. Selain itu, kebanyakan efek samping obat bersifat ringan dan dapat ditoleransi dan tidak bermakna secara klinis apalagi jika dibandingkan dengan manfaat yang ia berikan (walaupun ada efek samping tertentu menjadi berbahaya pada kelompok tertentu). Selain itu, efek samping suatu obat yang terjadi pada seorang pasien mungkin saja tidak terjadi pada pasien yang lain yang menggunakan obat yang sama. Jadi, dapat kita katakan bahwa

Efek samping obat tidak selalu terjadi setiap kita menggunakan obat. Kebanyakan efek samping obat bersifat ringan dan dapat ditoleransi oleh tubuh. Efek samping yang tidak dapat ditoleransi dan berbahaya harus menjadi perhatian baik bagi pasien maupun bagi tenaga kesehatan terkait.

Dari mana para ahli menyimpulkan efek samping dari suatu obat…?

Jika kita membeli obat, terutama obat bebas (obat yang dapat diperoleh tanpa resep dokter), maka biasanya kita akan menemukan brosur dalam kemasan obat tersebut. Brosur ini merupakan penjelasan ringkas tentang obat yang anda minum, termasuk apa saja efek samping yang mungkin terjadi akibat pemakaian obat tersebut. Misalnya ada suatu obat yang dapat menyebabkan terjadinya sakit kepala, mual, muntah, ruam pada kulit, pandangan kabur, jantung berdebar, dan lain sebagainya. Pertanyaannya adalah: darimana para ahli menyimpulkan efek samping suatu obat…?

Data tentang efek samping suatu obat diperoleh dari pengujian klinik (clinical trial). Berbeda dengan uji preklinik dimana obat diujikan pada hewan percobaan, uji klinik dilakukan pada kelompok manusia dengan kategori dan jumlah tertentu. Pengamatan terhadap kelompok uji ini dilakukan secara menyeluruh sehingga dapat diketahui efek dari suatu obat terhadap semua sistem organ tubuh. Misalnya: apa pengaruh obat terhadap jantung, terhadap sistem pernafasan, terhadap lambung dan saluran pencernaan, terhadap kadar gula darah, kolesterol darah, terhadap sistem saraf pusat, dan hampir semua bagian tubuh tidak luput dari pengamatan efek yang ditimbulkan oleh obat.

Dalam pengujian klinik, suatu calon obat diujikan kepada semua kelompok uji manusia selama jangka waktu tertentu. Sebagai contoh, pada suatu kelompok uji yang terdiri dari 1.000 orang dilakukanlah pengamatan setelah mereka menggunakan obat  yang diujikan dengan dosis dan jangka waktu tertentu. Jika hasil pengamatan menunjukkan bahwa dari 1.000 orang tersebut, ternyata 920 orang di antaranya menderita sakit kepala, maka dapat disimpulkan secara umum bahwa obat tersebut mempunyai efek samping berupa sakit kepala. Namun, seandainya dari 1.000 orang tersebut ada 15 orang yang mengalami diare, apakah dapat dikatakan bahwa obat ini menyebabkan efek samping diare…? Tentu lain cerita bukan…?

READ ALSO:  Obat dan "kewarasan otak"

Selain dari data pengujian klinik, efek samping obat juga dapat berasal dari laporan penggunaan obat tersebut setelah dipasarkan. Ada kalanya suatu efek samping dari suatu obat tidak muncul pada masa clinical trial obat tersebut, akan tetapi terjadi ketika obat tersebut sudah disetujui untuk dipasarkan dan sudah digunakan oleh masyarakat dan dalam pelayanan kesehatan publik. Hal ini sangat mungkin terjadi karena kondisi pengujian pada tahap clinical trial tidak sepenuhnya mewakili kondisi masyarakat yang sangat bervariasi, baik secara genetis maupun non-genetis. Oleh karena itu, proses pelaporan efek samping ini menjadi sangat penting untuk melengkapi data suatu obat. Di Amerika Serikat, FDA sudah mempunyai sistem pelaporan tentang efek-efek merugikan dari suatu obat yang mereka sebut dengan MedWatch. Di Indonesia, sebenarnya sudah ada jgua sistem yang agak mirip dengan ini, namanya MESO (Monitoring Efek Samping Obat) *progressnya sudah seperti apa ya…

“Tanpa Efek Samping”, Betulkah…?

Dalam iklan dan promosi obat-obat tertentu (terutama obat-obat tradisional), kita sering mendengar slogan “aman” atau “tanpa efek samping”. Biasanya klaim seperti ini sengaja dimunculkan supaya ketertarikan calon pembeli menjadi lebih tinggi terhadap pilihan obat yang dipromosikan ini, karena diharapkan mereka tidak perlu khawatir terhadap efek-efek buruk yang terjadi. Namun, ada satu hal yang harus anda sadari bahwa:

Ketika suatu obat tidak punya efek samping, maka boleh jadi obat tersebut memang sama sekali tidak mempunyai efek.

Jadi secara logika sederhana, nyaris semua obat mempunyai efek samping. Hanya saja ada efek samping tersebut yang terasa mengganggu sehingga menyebabkan ketidaknyamanan, atau ada juga efek samping yang dapat ditoleransi/diabaikan oleh tubuh sehingga seolah-olah tidak terjadi efek samping yang merugikan. Namun, obat “tanpa efek samping”, pikir-pikir dulu… boleh jadi obat tersebut memang sama sekali tidak mempunyai efek.

READ ALSO:  The World No Tobacco Day: Kita harus berbuat

Mengapa saya membuat tulisan tentang efek samping ini…?

Dalam praktek kesehatan di lapangan, banyak kita temukan masyarakat yang enggan meminum obat karena khawatir akan efek samping obat. Atau juga karena munculnya tren kembali ke alam yang kadangkala menjadi salah kaprah. Keengganan masyarakat untuk mengkonsumsi obat karena alasan ini merupakan hal yang menyedihkan jika penyakit yang diderita adalah penyakit yang tingkat keberhasilan dalam penyembuhannya cukup tinggi, atau secara teoritis bisa dikatakan bahwa dengan meminum obat tersebut hampir dapat dipastikan bahwa dia akan sembuh. Dan hal ini menjadi lebih menyedihkan ketika penyakit yang diderita adalah penyakit yang cukup berbahaya jika tidak diobati.

Selain itu, penting untuk mengkampanyekan kepada masyarakat bahwa mereka berhak dan perlu tahu segala sesuatu tentang obat yang mereka gunakan. Bahkan dalam undang-undang kita, masyarakat sebagai konsumen kesehatan mempunyai banyak hak dalam hal pelayanan kesehatan, khususnya tentang obat yang mereka terima. Sebagai contoh, seorang pasien sebenarnya berhak diberikan informasi tentang:

  • apa obat yang ia terima
  • apa fungsi obat tersebut dan keuntungan apa yang akan mereka dapatkan dari obat tersebut
  • mengapa ia diberikan obat tersebut
  • apa efek samping yang mungkin muncul akibat penggunaan obat tersebut
  • dll

dan juga pasien berhak untuk menolak suatu pengobatan dengan alasan tertentu (misalnya karena harganya terlalu mahal, padahal ada obat yang sama dengan harga yang lebih murah). Karena sangat kompleksnya dunia tentang obat-obatan dan kesehatan, maka tidak salah kiranya jika saat ini begitu gencarnya kampanye “Ask your pharmacist” (Tanya apoteker anda) baik secara global maupun secara nasional. Tanyakan kepada apoteker anda segala sesuatu tentang obat yang anda terima.

Yori Yuliandra
Follow me

Yori Yuliandra

A lecturer and researcher in the Faculty of Pharmacy, Andalas University, majoring pharmacology "the study of drugs" | A blogger (and webmaster at RankMudo.Net) | An enthusiast in higher education
Yori Yuliandra
Follow me

Latest posts by Yori Yuliandra (see all)

33 thoughts on “Efek Samping Obat

  1. maaf ni mau tanya, kalo obat kan cra penyimpanannya berbeda”, naah kalo obat” dirumah itu disimpen di kotak obat sendiri n itu cmpur” obatnya, apa itu nggak jadi masalah sama reaksi obatnya ??

    1. Penyimpanan obat secara umum adalah sama: di tempat yang kering, di tempat yang terlindung dari cahaya, dan jauh dari jangkauan anak-anak. Obat-obat dengan karakteristik tertentu mungkin perlu penyimpanan terpisah supaya tidak mempengaruhi obat lain, atau sebaliknya supaya tidak terpengaruh oleh obat lain.

      Secara umum penyimpanannya sama saja. Tapi ingat, masing-masing obat haruslah dalam wadah tersendiri dan tidak dicampur dengan obat lain dalam satu wadah. Wadah yang asli dari pabrik biasanya adalah wadah yang sudah dirancang sesuai dengan sifat obat

  2. Yetiselopita says:

    Apa nama tempat pembuangan obat-obatan dan alat medis?

  3. norma07dp says:

    Beberapa hari yg lalu aku minum obat penghilang rasa sakit karna bisul, kok sampai sekarang aja efeknya msh ada, rasanya ngantuk banget…sampai2 air kencing pun berbau obat jg…minimal berapa hari efeknya itu hilang, pdhl udah 4 hari yg lalu. lho….

    Thanks ya, udah kasih ilmunya….(^_^)’

    1. Pertama, efek kantuknya kan belum tentu dari obat? Bisa iya bisa nggak…

      Meskipun demikian, durasi efek obat antara obat yang satu dengan obat yang lainnya adalah berbeda. Ada obat yang efeknya cuma dalam hitungan jam, ada yang sehari, ada yang bahkan seminggu untuk sekali minumnya. Boleh jadi obat yang anda minum adalah obat dengan masa kerja yang panjang. Trims 🙂

  4. yolaorvalho says:

    permisi uda…mhon pencerahannya…
    semejak masuk farmasi, yola lebih mengenal obat obatan, jujur…yola takut minum obat jadiny da…terutama di efek samping nya ini da..

    naahhh..yola mhon pencerahannya ni da.

    ex: kenapa obat batuk begitu banyak efek samping nya da? kalau kita batuk, lebih baik minum obat btuk atau ga?..
    pemikiran yola gini da, hanya unuk mengobati batuk, eehh..ginjal dkk pun kena…gmn da?

    tingkiuu ^^

    1. – Efek samping secara umum dapat diabaikan/sangat kecil dibandingkan dengan efek utama/khasiat dari suatu obat. Penggunaan obat yang rasional dan tepat dapat meminimalisir kejadian efek samping

      – Obat batuk yg mana yg banyak efek sampingnya? Pemilihan obat batuk juga tidak bisa sembarangan: tergantung pd jenis batuknya dan kondisi pasiennya. Dan kalaupun ada obat yang banyak efek sampingnya, maka penting untuk difahami bahwa tidak 100% semua efek samping tsb terjadi sekaligus. Dan kalaupun terjadi efek samping, maka ada pencegahan dan tindak lanjutnya.

      – Kalau dirasa perlu/sudah tidak tertanggulangi melalui usaha non-obat, maka obat adalah jawabannya. Dan jangan asal pilih obat batuk. Saya beranggapan bahwa obat batuk yang dapat kita beli bebas (tanpa resep dokter) yang mengandung beberapa komposisi obat cenderung penggunaannya tidak tepat dan tidak terkontrol. Jadi pastikan obat yg dipilih cocok dengan batuknya

      – Ginjal pun kena…? obatnya apa dulu dong…? Biasanya, obat-obat yang menyebabkan kerusakan ginjal adalah obat2 yang penggunaannya tidak sesuai dengan anjuran. Misalnya, obat yang berpotensi menyebabkan gangguan ginjal biasanya pasiennya diminta untuk minum air putih yang cukup/banyak untuk mencegah kerusakan ginjal. Jadi, adalah salah besar jika setiap kita meminum obat yang beresiko menyebabkan kerusakan ginjal maka otomatis ginjal kita pun kena jika obat tersebut kita minum. Efek buruk ini terjadi kalau pasiennya tidak mengikuti anjuran untuk minum air putih yang lebih banyak.

      Anyway… mengenai pertimbangan tentang mana yang lebih baik antara meminum obat kemudian penyakit sembuh tapi terjadi efek samping dibandingkan dengan tidak meminum obat dan tidak ada kejadian efek samping obat tetapi penyakit tidak sembuh, pertimbangan ini kita sebut dengan Risk and Benefit Factors
      Insyaallah nanti dibahas di sini….

      1. yolaorvalho says:

        oh gitu ya da, anyway, bukan ginjal uda, tapi hati (salah ketikan)

        efek sampingny: mengantuk, gangguan pencernaan, eksitasi, tremor, takikardia, aritmia, mulut kering, palpitasi, retensi urin, penggunaan dosis besar menyebabkan kerusakan hati.

        memang dalam dosis besar, barulah menyebabkan kerusakan hati, tapi kalau ditinjau dari efek samping lainnya banyak itu da,

        jadinya, yola pun mikir gini da..”ga usah minum aj”
        *dalam konteks pemikiran org awam da, maklum uda, mah thn p1

        kalau gitu, yola tunggu tulisan uda tentang “Risk and Benefit Factors”
        thanks buat penjelasan nya uda^^

        *dilarang melampirkan merek dagang da..hoho

  5. Kakaakin says:

    Setuju banget kalau apoteker atau AA menjelaskan apa saja fungsi suatu obat, nggak cuma ngasih tau 3×1-nya aja 🙂

    1. iya… perlu dukungan tuh dari sejawatnya…

  6. advertiyha says:

    malah yang serem nih, kakakku pernah minum obat yang berakhir gatal2 diseluruh tubuhnya Da,, hiks.. 🙁 ngeri banget deh…

  7. fitrimelinda says:

    aku minum obat kalo udah bener-bener terpaksa..

    selalu ada manfaat dan efek sampingnya ya..

  8. Anugrha13 says:

    owhh jadi semua obat ada efek samping nya yah…hehehe
    owiya mumpung ketemu apoteker nya ah, mau tanya, saya kan minum slah satu obat gitu trus *maaf* kencing saya jadi keruh gitu ini efek samping obat, atau karena penyakitnya terbawa saluran kencing atau apa yah???maaf rada OOT thx b4

    1. untuk menjawab pertanyaannya kita perlu tau beberapa hal berikut:
      – kata dokternya, sakitnya apa…?
      – obat yang diberikan apa…?
      … dan mungkin masih ada beberapa pertanyaan susulannya

      dari kasus ini kita dapat melihat betapa pasien tidak mendapatkan informasi yang cukup (atau bahkan sama sekali tidak diberikan informasi) tentang obat dan pengobatan yang mereka terima… 🙁

  9. rime says:

    saya belakangan ini sangat menghindari obat kimia sintetis pak..

    kecuali untuk obat yang benar2 penting (seperti antibiotik pasca cabut gigi). bahkan saya rela bersakit-sakit ria daripada minum pain killer.

    saya meyakini bahwa efek samping yang kecil-kecil tapi sering itu akan berakibat besar di kemudian hari *agak sotoy mode on* 🙂

    1. komentar yg lebih tepat:

      saya belakangan ini sangat menghindari sakit buk..

      hehe…. *peace mbak rim..

      Tubuh kita punya kemampuan untuk menahan rasa sakit, sayangnya kemampuan ini sangat terbatas. Buktinya, ketika operasi, meskipun pasiennya diberikan anastesi umum sehingga dia tidak sadar dan tidak merasakan sakit sedikit pun, tapi sang pasien tetap diberikan obat analgetik (antinyeri) yang kuat seperti morfin.

      Usul: kalo misalnya nyerinya masih bisa ditahan, gak terlalu masalah untuk tidak minum obat pain killer. Tapi kalo sudah kelewatan kan kasihan juga tubuhnya. Ntar jatuhnya ke “menzholimi diri sendiri lagi” *syerem amir… :mrgreen:

  10. Ade Truna says:

    obat sama dengan pelipur atau penawar ya saya mah percaya saja sesuai makna harfiahnya….tapi yg generik ya… bukan yg resep dokter, suka mahal 🙄

    1. Heheh….
      Yang resep dokter ada juga yang generik kok 🙂

  11. Jubaida Cubi says:

    Keren Deh..
    jadi betah aje ni..

  12. mantab da artikelnya. suka banget. apalagi tntg kampanye “ask your pharmacist” 😀
    kayaknya udah mengarah ke klinis ini ya da atau patient oriented..

  13. Aha Gambreng says:

    Menarik nie yang ‘tanpa efek samping’,,, tapi untungnya belum nemu obat yang ‘tanpa efek utama’ gan,,, hehehe… salam…

  14. isnuansa says:

    Berguna! Saya minum obat jika dirasa memang perlu, tapi tidak dikit dikit minum obat. Soal efek sampingnya, jarang saya pelajari dan pikirkan, karena satu yang terpikir ketika minum obat adalah kesembuhan penyakit.

  15. kezedot says:

    aku dan blue suka postingan ini
    salam persahabatan

  16. Ifan Jayadi says:

    Sebagai masyarakat awam aku juga kadang tidak berdaya menolak takkala dokter memberi obat ini dan itu, padahal aku berpikir bhw obat2 tsb pastilah selain memiliki efek menyembuhkan juga ada efek negatifnya utk tubuh

    1. Mungkin tidak perlu menolak, yang lebih penting adalah bertanya sebab pasien mempunyai hak untuk hal tersebut

  17. ysalma says:

    ada penyakit, ada obatnya,,
    ada khasiat, ada efek sampingnya juga..

  18. alamendah says:

    (Maaf) izin mengamankan PERTAMAX dulu. Boleh, kan?!
    Saya sendiri selalu percaya dengan hukum kesetimbangan. Ada seneng ada baik. Ada manfaat pasti ada efek. Entah terasa atau tidak.

Don't forget to give comment and questions :)