Ada apa dengan antibiotik?

*What’s special in antibiotic

Di antara beberapa kelas obat yang digunakan di dalam dunia kesehatan hari ini, obat antibiotik bisa dikatakan sebagai obat yang paling populer dan paling banyak mendapat sorotan. Dibandingkan dengan teman-temannya yang lain, obat antibiotik selalu mendapat perhatian lebih. Bahkan tahun 2011 ini, Badan Kesehatan Dunia (WHO) kembali menegaskan bahwa penggunaan obat antibiotik harus kembali “diperketat” karena penyakit infeksi kembali menjadi ancaman berat bagi kelangsungan hidup manusia.

Mungkin banyak di antara kita yang bertanya-tanya mengapa obat antibiotik ini sering menjadi pembahasan, atau mengapa ia begitu spesial. Padahal obat-obat lain juga tak kalah pentingnya, seperti antikanker, analgetik, antidepresan, dan banyak lagi. Simak penjabaran berikut ini.

Penyakit infeksi dan antibiotik: tinjauan sejarah ringkas

Sebelum dimulainya penggunaan obat-obat antiinfeksi oleh ras manusia, penyakit infeksi merupakan penyakit yang sangat mematikan dan nyaris tanpa peluang kesembuhan. Konon, pada zaman dahulu pernah terjadi wabah penyakit infeksi yang menyebabkan kematian pada 1/5 dari populasi manusia di bumi karena sifat penyakit infeksi yang dapat menular melalui berbagai cara. Bahkanย  karena dahsyatnya akibat yang dimunculkan oleh penyakit ini, masyarakat pada waktu itu meyakini bahwa penyakit tersebut adalah kutukan dari para dewa dan pasti berujung kematian.

Sampai kemudian dimulailah usaha manusia untuk memerangi penyakit infeksi. Pada awalnya, manusia menggunakan tanaman dan herba tertentu untuk mengobati penyakit ini. Beberapa jenis jamur juga pernah digunakan untuk tujuan ini. Perkembangan terbesar dalam usaha mengobati penyakit infeksi ini terjadi pada abad 20 ketika Alexander Fleming berhasil mengidentifikasi suatu senyawa yang dihasilkan oleh suatu mikroorganisme yang menyebabkan penghambatan terhadap pertumbuhan mikroorganisme lainnya pada suatu media, dimana zat/senyawa ini kemudian dikenal dengan istilah antibiotik. Perkembangan berarti berikutnya adahal keberhasilan pembuatan antibiotik sintetis, yaitu antibiotik yang tidak berasal dari mikroorganisme seperti jamur, melainkan dibuat oleh manusia secara kimiawi. Dan sampai saat ini, sudah ada belasan kelas antibiotik yang efektif dalam mengatasi penyakit infeksi dan digunakan dalam pelayanan kesehatan secara global. Mungkin tidak berlebihan rasanya kalau ada yang mengatakan

Penemuan dan perkembangan obat antibiotik adalah suatu keajaiban yang menyelamatkan kelangsungan hidup ras manusia dari berbagai penyakit infeksi yang mematikan dan bisa memusnahkan peradaban manusia di muka bumi.

Apa yang spesial pada antibiotik?

READ ALSO:  Sinusitis, a very unpleasant story to tell (part 1 of 3: Bakti Farmasi, and what it brings)
antibiotik resisten
gak mempan tuh...

Satu hal yang sangat spesifik pada obat antibiotik adalah dikenalnya istilah “resistensi” pada penggunaannya. Resistensi merupakan terjadinya kekebalan pada bakteri terhadap obat antibiotik. Artinya suatu obat antibiotik yang sebelumnya sangat ampuh dalam membunuh suatu bakteri penyebab penyakit akan menjadi tidak mempan lagi ketika sudah terjadi resistensi pada bakteri tersebut. Terjadinya resistensi ini menjadi sangat menakutkan karena hal-hal berikut ini:

Jika terjadi resistensi terhadap antibiotik –> pada awalnya diperlukan dosis obat yang lebih besar untuk dapat membunuh suatu bakteri yang sudah mulai mengalami resistensi –> lama kelamaan obat sama sekali tidak berpengaruh terhadap bakteri patogen tersebut –> dibutuhkan obat antibiotik golongan lain yang ampuh terhadap bakteri tersebut

Kalau obat lain yang ampuh terhadap bakteri tersebut masih ada, maka penyakit tersebut akan masih bisa disembuhkan. Namun bagaimana jika ternyata tidak ada satupun obat antibiotik lain yang dapat membunuh bakteri patogen tersebut? Jika demikian halnya, maka ras manusia hidup di bawah ancaman kepunahan akibat penyakit infeksi jika para ahli farmasi tidak segera menemukan dan membuat obat antibiotik baru yang dapat membunuh bakteri penyebab penyakit infeksi tersebut untuk menyelamatkan peradaban manusia.

Mengapa obat antibiotik bisa mengalami resistensi sedangkan obat lain tidak?

Resistensi obat bisa terjadi pada penggunaan antibiotik, dan secara umum mungkin tidak terjadi pada obat selain antiinfeksi (meskipun dalam keadaan tertentu hal tersebut bisa saja terjadi). Berbeda dengan golongan obat lainnya, obat antibiotik (dan juga obat-obat antiinfeksi lainnya seperti antijamur, antivirus, atau antiprotozoa) digunakan untuk mengobati penyakit akibat mikroorganisme seperti bakteri yang menginfeksi manusia dan kemudian dapat menyebabkan penyakit. Dengan kata lain, antibiotik digunakan untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri penyebab penyakit. Karena bakteri adalah makhluk hidup, maka ia pastilah mempunyai sistem pertahanan diri sebagaimana halnya manusia juga punya pertahanan diri terhadap serangan dari luar tubuh. Dengan berbagai cara, bakteri akan berusaha melindungi selnya dari serangan antibiotik yang dapat mematikan mereka. Misalnya melalui mekanisme produksi enzim yang dapat menon-aktifkan obat; atau melalui perubahan jalur metabolisme selnya. Akibat adanya mekanisme tersebut, bakteri membangun kekebalan terhadap obat antibiotik sehingga mungkin diperlukan dosis yang lebih besar atau justru penggantian obat dengan jenis obat antibiotik yang lain yang masih efektif terhadap bakteri tersebut.

READ ALSO:  Selamat Hari Blogger Nasional 2011
taken from http://www.honeymarkproducts.com/

 

Mungkin masih banyak pertanyaan lain terkait dengan antibiotik, misalnya

  1. Apakah resistensi bakteri terhadap antibiotik dapat dicegah?
  2. Apa saja yang termasuk obat antibiotik?
  3. Tidakan apa saja yang mempercepat terjadinya resistensi?
  4. Apa yang bisa kita lakukan untuk menghambat resistensi ini?
  5. dll

Tulisan berikutnya menyusul ๐Ÿ™‚

++++++++++++++++++++

Jadi, kembali ke judul, kalau pertanyaannya adalah “Ada apa dengan antibiotik?”, maka jawabannya adalah “ada resistensi bakteri terhadap obat antibiotik”. Jadi, sederhananya, jangan sampai masing-masing kita memperburuk keadaan dan mempercepat serta memperluas terjadinya resistensi bakteri terhadap antibiotik. Patuhilah aturan pakai obat anda, tanyakan juga pada apoteker anda “Apakah saya menerima obat antibiotik?”, dan jangan lupa mintalah informasi yang komprehensif tentang obat dan pengobatan anda.

Yori Yuliandra
Follow me

Yori Yuliandra

A lecturer and researcher in the Faculty of Pharmacy, Andalas University, majoring pharmacology "the study of drugs" | A blogger (and webmaster at RankMudo.Net) | An enthusiast in higher education
Yori Yuliandra
Follow me

33 thoughts on “Ada apa dengan antibiotik?

  1. ryanvian says:

    Makanya saya ga mau minum antibiotik

    1. Kepatuhan pasien sangat menentukan dalam keberhasilan terapi. Nyaris 100% dari kasus kegagalan pengobatan penyakit TBC adalah karena tingkat kepatuhan pasien rendah. Artinya, jika kita menerima resep yang ada antibiotiknya, maka menggunakannya harus patuh…

  2. hudaesce says:

    Semoga saya jangan sampai meminum obat antibiotik, cukup dengn sehat saja deh, ๐Ÿ˜†

  3. yg saya tahu
    jangan sembarangan minum antibiotik ๐Ÿ˜€

  4. Anugrha13 says:

    apakah analgesik termasuk antibiotik??
    soalnya sy selalu dpt obat itu klo lg sakit??

    1. analgesik = obat antinyeri = obat pereda nyeri = obat penghilang rasa sakit/nyeri, tidak dapat membunuh bakter/kuman

      analgesik jelas berbeda dengan antibiotik
      antibiotik = obat untuk membunuh bakteri penyebab penyakit, tidak menghilangkan rasa sakit

  5. guru rusydi says:

    jangan banyak2 pake antobiotik. kalo herbal dan imunitas tubuh bisa, ngapain juga pake antibiotik. gitu kan, gan?

  6. antibiotik dg imunisasi itu sama gk?

  7. isnuansa says:

    Saya sering malas ngabisin antibiotik yang dikasih dokter. Hmm, jadi resisten ya?

    1. Iya, tindakan kolektif seperti inilah yang menyebabkan terjadinya resistensi antibiotik. Yang dirugikan bukan hanya pasien sendiri, tapi dunia kesehatan global secara umum

  8. Kakaakin says:

    “Obat sepasang” biasanya dibeli warga kampungku di warung. Ampicillin dan AsMef. Belinya juga sebiji2 aja ๐Ÿ™

    1. lho… gimana tuh, bantuin dong warga kampungnya…

  9. yanrmhd says:

    semoga dunia pengobatan berkembang, obat makin aman dan tokcer ngatasi penyakit… ๐Ÿ™‚
    semangat! do the best… ๐Ÿ˜‰

  10. ladeva says:

    Katanya kalo antibiotik gak diminum sampai habis, kita justru jadi tambah sakit ya…betul?

    1. kalo gak diminum sampai habis, penyakit bisa menjadi lebih kebal terhadap obat. So, kalo dikasih antibiotik harus dihabiskan meskipun seolah2 penyakitnya sudah sembuh

  11. dul rahman says:

    sampe sekarang aku ga pernah minum antibiotik ๐Ÿ™
    alhamdulillah kalo lagi sakit, cukup kerokan aja *gagal pencitraan*
    nyahahaaha

  12. Lidya says:

    saya meminimalkan penggunaan AB apalagi untuk anak2

    1. iya, antibiotik jangan dibeli sendiri. Antibiotik harus diperoleh berdasarkan resep dokter/setelah diperiksa oleh dokter sehingga penggunaannya berdasar, yaitu karena pasien butuh antibiotik untuk mengatasi infeksinya.

      Kaidahnya sama aja, baik bagi anak-anak maupun dewasa: hanya gunakan obat jika diperlukan, dan jika obat diperlukan maka gunakanlah obat

  13. Akhidul says:

    Nyimak dulu…tapi aku sih selalu mencoba menghindari minum antibiotik…mending pindah ke herbal…:)

    1. antibiotik hanya digunakan untuk pengobatan penyakit infeksi sehingga jika pasien diresepkan obat antibiotik ini (ketika pasien sedang menderita penyakit infeksi) maka penggunaannya harus tepat dan patuh. So, tidak ada urusan hindar-menghindari…

      Penggunaan obat-obat herbal yang belum teruji dalam mengatasi penyakit infeksi justru akan memperburuk keadaan

  14. micelia says:

    pemberian antibiotik rasional harus benar2 dipahami dokter, dan pasiennya harus dijelasin dulu.
    tapi susahnya ngontrol kepatuhan 2 pihak itu.
    *saat ini saya masih dipihak kedua, pasien yg tidak pernah menghabiskan antibiotiknya #pengakuandosa

    1. dokter tidak punya cukup waktu untuk berinteraksi lebih banyak dengan pasien terkait dengan obat yang mereka terima, semestinya apoteker mengambil perannya di sini, dan dokter alangkah lebih baiknya menyarankan kepada pasiennya: “konsultasikan segala sesuatu tentang obat yang anda terima dengan apoteker anda”

  15. nyimak dulu sambil memahami…. ๐Ÿ˜€

  16. Sya says:

    Makanya kalau minum antibiotik harus teratur dan sesuai petunjuk dokter ya.

  17. Nandini says:

    saya juga selalu menekankan untuk soal antibiotik ini.. apalagi sama pasien bandel yang memperlakukan antibiotik seperti analgesik ๐Ÿ˜ก

    1. Iya, antibiotik itu kan pengobatan kausatif, praktis berbeda dengan analgetik yang merupakan contoh penanganan simtomatis

  18. Merliza says:

    masih harus lebih banyak membaca tentang antibiotik ternyata saya nya nih ๐Ÿ™

  19. Sugeng says:

    Aku selalu berusaha menghabiskan antibiotik yang diberikan dokter. Tapi berapa banyak ukuran yang pas untuk mematikan suatu bakteri itu โ“ karena saya sendiri biasanya cuma dikasih 10 kaplet sedang anak saya diberi satu botol sirup yang harus diberi air matang dulu.

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    1. kalo jumlah pemberian antibiotik tentu sudah dipertimbangkan dokter sesuai dengan lama penggunaan yang dapat membunuh bakteri penyebab penyakit. Tapi secara umum, minimal antibiotik digunakan selama 3 hari meskipun ada juga pemakaian untuk 20 hari bahkan setengah tahun.

      Jadi, lama penggunaan antibiotik tergantung kepada jenis antibiotik yang diminum dan penyakit/bakteri penyebab penyakit tersebut.

  20. giewahyudi says:

    Tertarik dengan soal resistensinya karena penggunaan di masyarakat masih ada yang salah, orang biasanya berhenti menggunakan obat ketika gejala sudah berkurang..
    Baiklah menunggu ulasan berikutnya..

    1. Iya, meskipun kelihatannya penyakit yang diderita sudah sembuh tapi pasien tidak dapat mengetahui bahwa sebenarnya bakteri yang menginfeksi mereka belum mati sehingga obat antibiotik harus tetap diminum sesuai dengan jumlah yang diresepkan

  21. lovira137 says:

    antibiotik merupakan penemuan yang sangat penting, wah apalagi jika memang pernah menewaskan 1/5 manusia bumi, bisa2 alien yg nginap di bumi lagi ๐Ÿ˜€

  22. dhila13 says:

    emm… masih blum mudeng pas antibiotik itu. tapi aku tau-lah. kan pernah minum. *lho.. ga nyambung.. heheh

    PERTAMAAAAXX :mrgreen:

Don't forget to give comment and questions :)