Akibat ciptaan sendiri

* a souvenir from International Symposium on Disaster Mitigation 2011 (ISDM2011).

Ada satu hal menarik yang bisa saya simpulkan dari acara simposium international mitigasi bencana 2011, yaitu bahwa

Manusia akan lebih cenderung menjadi korban bencana akibat ciptaannya dibandingkan oleh bencana itu sendiri.

Kejadian bencana seperti gempa dan tsunami merupakan faktor yang tidak dapat dimodifikasi oleh manusia. Ia adalah gejala alam yang terjadi sebagai manifestasi dari hukum alam itu sendiri. Karenanya, jika mau disalahkan, maka kejadian gempa dan tsunami tidak akan pernah bisa disalahkan. Oleh karena itu untuk meminimalisir dampak dari suatu bencana diperlukan adanya konsep mitigasi bencana, yaitu semua usaha yang dapat mengurangi dampak dari suatu kejadian bencana yang dapat dilakukan sebelum terjadinya bencana, saat terjadinya bencana, dan setelah terjadinya bencana <– Ini teorinya πŸ™‚

Kembali ke judul, bahwa mungkin sedikit manusia yang meninggal akibat gempa itu sendiri, akan tetapi banyak manusia yang meninggal dan menjadi korban akibat terhimpit bangunan di saat gempa, yaitu rumah dan bangunan yang mereka dirikan asal-asalan dan tidak mengikuti kaidah pembangunan di daerah yang rawan gempa; atau akibat reruntuhan rumah yang sudah tidak layak huni akibat gempa sebelumnya yang tetap mereka tinggali; mungkin sedikit manusia yang menjadi korban oleh gempa itu sendiri, tetapi tidak sedikit manusia yang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas akibat gempa, yaitu mereka yang tidak mematuhi konsep mitigasi bencana di saat gempa yang meminta pengendara kendaraan bermotor untuk berhenti; atau mereka yang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas pada saat menyelamatkan diri dari ancaman tsunami karena tidak mematuhi konsep mitigasi bencana gempa dimana menyelamatkan diri dari ancaman tsunami haruslah dengan berjalan kaki, bukan dengan menggunakan kendaraan; dan contoh-contoh lainnya.

Dengan demikian, dapat kita sadari bahwa manusia lebih banyak meninggal akibat ciptaan dan perbuatan mereka sendiri dibandingkan oleh gempa itu sendiri.

20.000 berbanding 100.000

Coba bandingkan korban jiwa yang muncul pada tsunami di Jepang pada awal 2011 dibandingkan dengna korban jiwa pada tsunami Aceh pada akhir 2004 –> 20.000 jiwa berbanding lebih dari 100.000 jiwa. Dengan demikian, secara hitungan kasarnya, negara Jepang dengan konsep mitigasi bencana yang sangat baik berhasil menyelamatkan puluhan ribu nyawa. Oleh karena itu, konsep mitigasi bencana adalah solusi dalam menghadapi bencana dan bangsa kita harus bersiap untuk mengaplikasikan konsep ini secara menyeluruh dengan melibatkan pemerintah, swasta, dan masyarakat. Semoga…!

bukan gempanya tapi bangunannya

(picture taken from here)

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++

ISDM 2011 dilaksanakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Andalas pada 1 Mei 2011 di Siti Nurbaya Hall, Basko Hotel Padang. Symposium ini menghadirkan beberapa nara sumber:

  1. Prof. Tetsuya Hiraishi (Professor, Ujikawa Open Laboratory, Disaster Prevention Research Institute, Kyoto University)
  2. Ir. Harmensyah (Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatera Barat)
  3. Budi Suharso, M.Si (Badan Nasional Penanggulangan Bencana Pusat)
  4. Dr. Febrin Anas Ismail (Pusat Studi Bencana Universitas Andalas)
  5. Tommy Susanto, ST (Komunitas Siaga Tsunami)
  6. Edi Kurniawan (Badan Eksekutif Mahasiswa, Keluarga Mahasiswa Universitas Andalas)

dan dimoderatori oleh Yori Yuliandra (eh, narsis terselubung terang-terangan…). Btw, galeri simposiumnya ada di sini, di sini, dan di sini πŸ™‚

Yori Yuliandra
Follow me

Yori Yuliandra

A lecturer and researcher in the Faculty of Pharmacy, Andalas University, majoring pharmacology "the study of drugs" | A blogger (and webmaster at RankMudo.Net) | An enthusiast in higher education
Yori Yuliandra
Follow me

43 thoughts on “Akibat ciptaan sendiri

  1. purwanto says:

    betul mas, manusia itu banyak yang rusak karena ulahnya sendiri, banyak yang mati karena ulahnya sendiri juga, bencana hanyalah faktor pencetus saja.
    salam kenal

  2. Prima says:

    Wah, wah, bener banget mas, saya baru ngeh juga ya… kita emang harus banyak belajar dari pengalaman… apalagi kita rawan bencana begini, tapi sampe sekarang belum pernah ikutan sosialisasi tentang ini di lingkungan sini… πŸ™

  3. semua jabaran di atas cocok dengan ayat berikut:
    “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Rum 41)

    semoga bangsa Indonesia bisa belajar dari kejadian-kejadian bencana masa lampau. termasuk juga bencana Tsunami tahun 2004 di Aceh dan bencana Tsunami yang baru-baru ini terjadi di Jepang. semoga kita mampu menjaga bumi dan laut dan langit kita ini agar tetap asri, selaras, indah berseri sehingga kedamaian selalu menaungi kita dalam setiap lekuk hidup kita.

    btw, sayang acaranya jauh sekali dari tempat saya tinggal saat ini (meski acaranya sudah selesai). semoga bermanfaat untuk orang-orang yang hadir dan juga bermanfaat untuk bangsa. amin

  4. Ade Truna says:

    ada yg menarik, komentarnya bundamahes ada benarnya.
    Komentarnya isnuansa, mungkin basko udah memenuhi standar anti gempa :mrgreen: *okedeh mas yuri artikelnya referentif wajib di bookmark utk membuka wawasan ttg mitigasi, baru dengar istilah ini. Sukses ya?!

    1. Padahal waktu gempa september 2009 lalu, basko hotel itu baru selesai dibangung, baru selesai di launching tapi menjadi rusak sedikit sehingga memerlukan beberapa minggu perbaikan sampai kemudian baru bisa digunakan lagi

  5. yanrmhd says:

    begitulah keadaan sebenarnya, paling banyak koran gempa karena faktor eksternal, bangunan yang tidak memungkinkan bertahan atau meloloskan diri, ditambah kepanikan massal yang kita tidak siap dalam kondisi darurat… πŸ™

    “bersahabat dengan alam, alam pun akan bersahabat dengan kita”. πŸ™‚

  6. fitrimelinda says:

    bener banget, yang bikin banyak korban tuh karena ketimbun runtuhan bangunan, bukan karena gempanya..
    makanya skg digalakkan bangunan yang tahan gempa..

  7. uraeka says:

    memang ada banyak hal yang ikut berpartisipasi dalam kesalahan manusia ini…

  8. Akasia says:

    ada satu hal yang patut jadi perhatian….bagaimana mengubah budaya masyarakat Indonesia….

    itu saja….^^

    1. Mengubah budaya masyarakat memerlukan effort yang lebih dari sekedar konsep “mitigasi bencana”

  9. giewahyudi says:

    Bencana biasanya cuma dihadapi dan dirasakan akibatnya..
    Belum ada konseep yang meminimalisir jauh sebelum bencana itu datang..

    1. lho, mas ini gimana sehh… ini yang namanya konsep “mitigasi bencana”, yaitu semua usaha yang dapat dilakukan untuk meminimalisir bencana yang dapat dilakukan sebelum bencana, di saat bencana, dan setelah terjadinya bencana.

      Konsepnya bagus, pelaksanaannya yang agak penuh tantangan…

  10. ysalma says:

    berarti bangunanya harus serasi dengan alam πŸ™‚

    1. harus serasi dengan kondisi alam beserta geografisnya. Rumah di daerah rawan gempa harus dirancang tahan gempa, rumah di daerah rawan banjir harus dibikin lebih tinggi, rumah di daerah rawan longsor…? mending jangan bikin rumah di situ :mrgreen:

  11. yos says:

    kita dikasih hidup di bumi sudah selayaknya kita manjaga alamnynya agar tetap lestari, jangan smapai merusaknya, tahu sendiri betapa dahsayatnya jika alam sedang murka πŸ™

  12. lozz akbar says:

    yupz manusia berupaya meminimalisir.. Tuhan lah yang menentukan takdir.

  13. penuliscemen says:

    Dan ternyata nenek moyang kita lebih cerdas dalam hal bangunan. Lihat saja rumah2 tradisional masing2 daerah, rata2 rumah panggung yang dapat menghindari banjir. Dan bahannya pun adalah kayu, yang aman jika terjadi Gempa.

    1. ya that makes sense… Semuanya sesuai dengan peradaban masing-masing, mungkin πŸ™‚

  14. ded says:

    Keterlibatan pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam hal ini sangat diharapkan. Dan kita tidak bisa hanya bertumpu kepada pemerintah, diharapkan juga dunia kampus memberikan pembelajaran kepada masyarakat cara menangani suatu bencana, secara terus menerus….
    Ada atau tidak ada bencana, mungkin juga bisa dijadikan sebagai satu mata pelajaran khusus bagi anak-anak sekolah.

    1. Betul sekali. Kampus (termasuk mahasiswa) mempunyai peran yang sangat krusial dalam usaha mitigasi bencana yang tidak bisa diserahkan kepada pihak lain.

      Misalnya untuk mahasiswa, alangkah baiknya kalau mahasiswa dengan program studi tertentu (misalnya program studi teknik) mengarahkan tugas akhirnya kepada usaha-usaha mitigasi bencana.

      Badan Nasional Penanggulangan Bencana Pusat menjanjikan dana bantuan riset terhadap penelitian yang berhubungan dengan mitigasi bencana, tapi peneliti harus mengajukan proposalnya terlebih dahulu…

  15. hmmm bener juga itu

  16. Sya says:

    Indonesia emang kurang tanggap ya dalam menghadapi bencana, padahal kita rawan gempa, rawan gunung berapi.

    1. Pemerintah mungkin sudah berusaha, hanya saja sepertinya kurang maksimal dan mungkin tidak menyeluruh. Kita gak tau juga apakah dievaluasi dengan sungguh-sungguh atau jangan-jangan tidak sama sekali.

  17. Sepertinya kita ga pernah diajarin teori evakuasi dan simulasi gempa/ bencana. Akibatnya bingung dan panik.

    1. Itu sebenarnya adalah bagian dari konsep mitigasi bencana yang harus dilakukan sebelum bencana, misalnya dalam bentuk simulasi gempa, simulasi evakuasi dari tsunami pada berbagai keadaan dan lokasi. Misalnya ketika berada di sekolah, di kantor, di gedung bertingkat, di jalan raya, dan bagaimana cara penyelamatan diri ketika tsunami.

      Sebagian daerah tertentu sudah pernah melaksanakan simulasi ini, di Padang sudah pernah dilaksanakan beberapa kali πŸ™‚

  18. jadi ingat salah satu surah di al-qur’an,
    betapa rusak dan porak porandanya dunia ini karena ulah tangan manusia .
    salam

    1. Iya bun, Surat Ar Rum: 41

  19. kamal says:

    Makanya jadi manusia jangan usil..ntar semua yang dilakukan kita aka berakibat fatal bagi kia juga

  20. namakuananda says:

    kita juga harus belajar banyak dari negeri tetangga soal building code dan tidak mengurangi takaran yg ada πŸ™‚

    1. Iya juga… jangan ada takaran yang dikurangi. Tapi untuk urusan rumah tahan gempa tidak hanya masalah takaran, tetapi lebih penting dan mendasar adalah perihal konstruksinya

  21. Kakaakin says:

    Hmm… semoga manusia bisa lebih pandai dalam mengurangi efek bencana πŸ™‚

  22. isnuansa says:

    Acara-acara di Padang banyak diadain di Basko ya?

    1. Iya… secara hotel baru dan paling berbintang-bintang. akses ke sana sangat mudah dan kondisinya sangat mendukung

  23. Agry says:

    KOGAMI ikutan ya uda ?! waaah.. kalo iya, it takes me back, jaman masih (sok) aktif jadi interpreter serabutan πŸ˜€ hihi..

    Bisa dibilang “jangan panik berlebihan disaat bencana melanda”, gitu ya uda ?!

    1. agy, bukan “jangan panik berlebihan”, tapi jangan panik sama sekali gtu… :mrgreen: Yang harus dilakukan adalah menyelamatkan diri dari benda-benda di sekitar

  24. ikhwanisifa rawi says:

    yup..saya setuju banget…sesuai dengan pembahasan di makul psikologi bencana yang sedang saya ambil..(meski tugas intervensinya belum kelar juga.hhee)..

    1. aspek psikologi juga termasuk mitigasi bencana lho, terlebih pasca bencana

  25. bundamahes says:

    mungkin proyeknya dah bener bikin rumah tahan gempa, tapi pelaksanaannya yang masih banyak digigitin “tikus” πŸ˜₯

    1. kabarnya, diJepang, hal ini juga yang menyebabkan masih ada bangunan yang tetap rusak akibat gempa awal tahun 2011 kemaren, padahal semua bangunan di sana sudah mengikuti konsep mitigasi bencana, yaitu bahwa bangunan harus didisain untuk tahan gempa πŸ™‚

  26. Asop says:

    Mitigasi… kuliah yang pernah saya ambil di semester ketujuh silam. πŸ™‚

    1. wah mantap… ada kuliahnya juga ternyata…
      aplikasinya…?

      1. fitrimelinda says:

        kalo aku dulu ada mata kuliahnya..namanya matakuliahnya gempa..dulu sih matkul pilihan,tapi denger2 skg dah jd matkul wajib..

Don't forget to give comment and questions :)