Kalau layak, mengapa menolak?

Adzan Zuhur baru saja selesai berkumandang saat saya bersama beberapa orang kolega sampai di rumah makan kenamaan di daerah Padang Panjang tersebut. Setelah turun dari mobil, kami langsung masuk dan segera membooking tempat di pojok yang sepertinya asri sekali. Mejanya cukup untuk kami berempat, ditambah lagi dengan pemandangan sekumpulan ikan di dalam kolam persis di bawah lesehan tempat kami duduk.

Karena memang sudah waktunya untuk shalat, kami memutuskan untuk shalat terlebih dahulu sebelum menikmati santap siang. Musholla yang sederhana, kecil dan bersih, seperti kebanyakan musholla di rumah makan ternama lainnya, menjadi lengkap dengan airnya yang sejuk.

Selesai berwudhu, langsung saja kulangkahkan kaki ini ke dalam musholla. Hmm… kosong, tidak ada orang. Mungkin karena azan baru saja selesai dikumandangkan di masjid sekitar. Terlintas pikiran untuk memulai saja sholat Zuhur sendirian, syukurnya, bisikan ini segera terkikis dan tidak sempat singgah dalam waktu yang cukup untuk mempengaruhi diri. Rasanya agak ‘mubazir’ saja kalau shalat sendiri, padahal 27 itu jauuuuuuuuuuuh lebih besar dibandingkan 1. Betul bukan…?

Akhirnya, seorang bapak paruh baya itu masuk juga. Muka dan tangannya yang masih basah menandakan bahwa ia baru saja selesai berwudhu. Buru-buru, sebelum ia mengangkat tangannya untuk ber-takbiratul ikram, langsung saja saya labrak

Saya            : Pak, sholat jama’ah wak pak…? –> Pak, sholat jama’ah kita yuk Pak
Sang Bapak  : Hmm… Jadih… –> Hmm… baiklah
(seraya menurunkan tangannya yang sudah setengah diangkat untuk memulai shalat)

Akhirnya kami bersiap untuk shalat jamaah, berdua saja (sampai kemudian ada seorang jama’ah perempuan yang ikut). Sebelum saya mengumandangkan iqomah, sang Bapak mempersilahkan saya untuk menjadi imam dengan memberikan isyarat tangannya. Merasa agak segan karena beliau sepertinya adalah orang yang tinggal tidak jauh dari sana *yang jika demikian tentu lebih berhak untuk mengimami (atau mungkin malah pengelola musholla *garin), saya pun membalas isyarat tangannya dengan isyarat yang sama hingga kemudian beliau maju ke depan untuk menjadi imam.

READ ALSO:  Statistik oh statistik...
Belajar shalat itu harus dimulai sejak kecil

“Allahuakbar…”
Takbir pun dimulai… Saya awali shalat dengan niat ikhlas di hati; membaca bacaan shalat sebagaimana biasa.

Tiba-tiba, alangkah tersentaknya hati ini ketika kemudian dari bibir sang imam terdengar bacaan yang cukup nyaring.
“Bismillaahirrohmaanirrohiim…
“Alhamdulillahirobbil ‘alamin…”
…dst

*gedubrak…

Setelah menyelesaikan Al Fatihah dengan suara yang lantang, sang bapak melanjutkan bacaannya dengan salah satu surat pendek dengan bacaan khas orang lagi belajar ngaji *banyak salahnya… Innaalillahi…

Perasaan saya sudah campur aduk dari awal shalat ketika mendengarkan irama “Bismillahirrohmanirrohim” khas shalat maghrib, isya, atau subuh. Sepertinya sang Bapak tidak tau kalau bacaan shalat Dzhuhur adalah di-sir-kan (tidak dijaharkan/tidak dibaca dengan suara yang dapat didengar oleh orang lain). Dan Bapak ini sepertinya juga tidak tau bahwa ketika bangkit dari rukuk, bacaannya adalah “Sami’allhu li man hamidah”, bukan “Allahuakbar”.

Dan rakaat kedua pun kami lalui dengan kondisi yang sama: Alfatihah yang nyaring, bacaan surat pendek yang juga nyaring dan salah-salah, plus bacaan Allahuakbar yang menggantikan posisi “Sami’allahu li man hamidah”. Dan sebelum shalat usai, saya sangat khawatir kalau sang imam akan membuat kesalahan yang lain: menambah rakaat menjadi 5, mungkin. Waduh…

Akhirnya, sepanjang shalat saya sibuk menyalahkan…
Bukan menyalahkan sang bapak yang masih harus sangat banyak belajar tentang shalat *khususnya tentang shalat jama’ah.
Bukan pula menyalahkan keadaan
Tapi MENYALAHKAN DIRI SENDIRI… Ya, diri ini…

READ ALSO:  Berapa modem yang anda punya?

Na’udzubillahi…
Faghfirlii Yaa Rahmaan…

++++++31 Juli 2010, dalam suatu perjalanan Padang-Bukittinggi
+++++sumber gambar

Yori Yuliandra
Follow me

Yori Yuliandra

A lecturer and researcher in the Faculty of Pharmacy, Andalas University, majoring pharmacology "the study of drugs" | A blogger (and webmaster at RankMudo.Net) | An enthusiast in higher education
Yori Yuliandra
Follow me

Latest posts by Yori Yuliandra (see all)

141 thoughts on “Kalau layak, mengapa menolak?

  1. Pondok Print says:

    haduh selesai sholat berdikusi aja dengan si bapak tentang sholat berjamaah mungkin dia jadi tau….

    1. Hmm… betul juga ya. Tapi beliau keknya buru-buru kali. :mrgreen:

  2. Si bapak itu apa sebelumnya tidak pernah ikut berjamaah shalat Zhuhur dan Ashar di masjid ya, Bang? Jika memang sudah, tentu bisa mencontoh bagaimana cara menjadi imam shalat. Jika memang belum, kok mau ya ketika diberi isyarat untuk menjadi imam?

  3. vinnn says:

    yg udah terjadi tak perlu disesali juga

  4. menyedihkan. luarbiasa. itu sebagian kecil potret umat islam di negeri kita. entah tdk ada ustadz di sana atau memang bapak tua itu yg malas belajar atau malas ke pengajian.
    Semoga saja setelah itu, Yori memberitahu kesalahannya pada si bapak tua itu. tidak membiarkan sesuatu yg salah terus terjadi. sebab jika dibiarkan tanpa memberitahu, maka jika terulang lagi, yori akan ditanya pertanggujawabannya atas ilmu yang dimiliki……
    salam…:) met puasa ya…:)

  5. fashion says:

    Manusia tak luput dari lupa, tidak tahu, salah. Semoga di sholat yang berikutnya tidak salah lagi. 🙂

  6. saya pernah mengalami hal yang sama, menjadi makmum sholat asar yang imamnya men-jahr-kan bacaan al fatihah

  7. baca ini saya senyum-senyum sendiri. ngearasa gimanaaaaa gitu…. 😀

  8. Septri Jayanti says:

    Ado diinge’an Apak tu, Da??? Jangan-jangan uda cuma tersenyum cengengesan abis sholat berjama’ah Dzuhur khas Bapak itu….^^

    Kisah yang……….banget…

  9. Zico Alviandri says:

    Speechless. Saya sering diimamin orang yang bacaannya salah. Pernah juga pas sholat yang harusnya bacaannya jahr, malah di-sirri kan. Dan saat itu bingung, apa harus membatalkan sholat? Atau sholat lagi setelah ini?? ga ngerti..

  10. Lani says:

    busseeet udaa, ko yo bana tagalak lani baconyo daa, haha
    waah. entah kenapa tulisan ini yang benar2 membangkitkan semangat ngeblog. simply natural writing but something, gitu. tunggu kebangkitan lani da #eaa hha *amin

    1. Ayooo semangat Laniii…
      buseeet… cando ka iyo lo mah… But I’ll be waiting by the way

      1. Lani says:

        buseeet haha *semangaaatt > <9

  11. ehemmmm…kok bisa yahh…

  12. silvie yulia says:

    why you didn’t remember him by said “subhanallah”

  13. ayya says:

    astagfirullah… over confident si bpk..tpi salut meskipun gak tau bpkx tetap mau sholat. mgkn beliau muallaf baru bisa sholat

  14. astaghfirullah..baruuu lho sy dnger ada kejadian kaya gitu..
    kok bisa yaa??
    *tak habis pikir 🙁

  15. wahh,,,,sya juga pernah mengalami hal serupa Da, sama bapak2 berdua sama teman saya,,
    parahnya sholatnya 5 rakaat, waduhhhh….^^

    1. wah, ada rakaat bonusnya. Si Bapak diingatkan nggak…?

  16. bams says:

    ha ha ha ha..

  17. susisetya says:

    tapi saya salut juga sama si bapaknya PeDe-nya gede, atau emang dia tidak tahu alias tidak mengerti…?????

  18. fitrimelinda says:

    yah,,gimana lagi uda..udah terjadi..

  19. tidak perlu menyalahkan diri sendiri karena bisa jadi dari kejadian itu sang imam bisa semakin banyak dan mau belajar 🙂

  20. 'Ne says:

    wah parah juga ya salahnya, tapi mudah2an si bapak sekarang udah tahu dan lebih paham. jadi tidak melakukan kesalahan lagi.. kasian juga kan dianya kalo gak tahu terus.

  21. ehfazella says:

    sholat dzuhur di jahrkan. aku pernah hampir melakukan seperti itu karena lupa. Alhamdulillah keingat..

  22. lozz akbar says:

    menurut saya enggak mesti yang tertua yang jadi imam Bang Yori,tapi yang terfasih bahasanya meskipun muda dia bisa jadi imama buat yang lebih tua..

    jika ada perasaan ragu terhadap imam yang memimpin sholat jemaah kita, hem nurut saya sholat tersebut dianggap tidak sah..(semoga saya enggak khilah saat komen ini)

    tapi Allah Maha Pengampun kok, jadi tentulah ada pahala bagi sholat jamaah yang anda lakukan dengan bapak tersebut

  23. julie says:

    mari senantiasa belajar dan terus belajar supaya shalat kita tenang dan khusyuk

  24. paibiopai says:

    ndak papa mas, yg pnting tugas kita yg sudah tau itu adalah memberitau kpd yg lain, bukan didiamkan..

  25. yulisyafirah says:

    apakah sah sholatnya?

    1. Wallahua’lam…
      Kita serahkan saja pada Allah…

  26. waduhkayaknyabluemestielajar darisini……..
    salam hangat dari blue

    1. ya kita bisa belajar dari pengalaman siapa aja…
      salam….

  27. FathulAlvi says:

    waah, kejadian pernah dialami sepulang BF 09, di alahan panjang Da…

    si imam pake dzahar waktu 2 rakaat pertama…
    tapi alhamdulillah, i’tidalnya nda pake “allahuakbar”
    hee..

    Dan, yg lebih parahnya, si imam itu adalah jenggoters puanjaang dan pakek jubah pulak… (nda pake hijab mushalla nya jd kliyatan, hee)
    kesimpulannya : jenggot nda slalu menjamin…hihihi..
    (*kesimpulan ngasal)

    btw, ini komennya buat ini tulisan benyak bet yah Da..

    1. saia tidak berjenggot *haha…
      **kenatimpuk**

  28. okviyoandra says:

    wah…ribet juga klo gitu….
    tradisi “segan menyegani” berbuah buruk….
    pelajaran yang berharga,….

    1. Makanya, dalam hal fiqih ya ikuti saja. Fiqh sebenarnya juga mempertimbangkan rasa ini bukan..?

  29. agoenk70 says:

    Hmmm masih heran dan speechless bacanya…
    sebuah pelajaran berharga, yang tua belum tentu yang berpengalaman dan yang lebih baik yah.. 🙂

    1. yang tua aja bisa begitu, yang mudanya kek mana dong???… 🙂 Mudah2an para pemuda care dengan permasalahan ini

  30. saya juga pernah merasa begitu pak, tapi ya sudah, dijalani dan sholat saja, setelah sholat banyak beristigfar seraya memohon ampun kenapa tidak saya saja imamnya, (kadang umur menjadi patokan seorang menjadi imam dikalangan masyarakat kita)

    1. Ya, dilema bukan…
      Pada akhirnya, kita tetap berharap pada keampunan ALlah…

  31. @helgaindra says:

    wah jadi imam itu amanahnya besar loh
    kalo menurut saya bapak itu masih blum terbiasa jadi imam solat
    jadinya ya kaya gitu

    1. ya, sepertinya…
      kita harus siap dan terbiasa untuk menjadi imam, karena pada dasarnya masing-masing kita adalah imam.
      Wallahua’lam

  32. hahahaha.. saya juga dulu sempat lo mas ngalamin kaya gitu pas sholat di Cikarang di mushola yang ada di terminal xixi 😀 sama sholat dzuhur juga kayanya di jaharkan wkwkw.. makmunya banyakan pada bingung 😀 aduh astagfirullah…

    1. kalo makmumnya rame ya nggak terlalu bingung, kan bingungnya dibagi rame-rame, hehe… tapi kalo cuma berdua sama imam yang bingung kan kita sendiri, bingung 100% gitu… 😆
      Astaghfirullah…

  33. assalamu’alaikum Mba Yori…??
    wah tertawa saya membaca alaur cerita tadi…
    hem,…
    sedikit ralat dari saya,tadi seharusnya Mba tidak perlu MEMBERHENTIKAN SAAT Bapak itu takbiratul ihram…
    yang ada seharusnya ikut saja dengan menepuk pundaknya secara perlahan.
    imam adalah orang yang diangkat secara sadar oleh makmum..
    jadi kurang setuju saya apabila Bapak itu disalahkan…
    memang shalat dzuhur ga di baca zahr sih.

    1. Yeee… horeeee… saya ketemu lagi dengan komentar yang manggil “mbak”
      *pasti belum baca halaman about, hehe….
      Nggak nggak, kita sama sekali tidak menyalahkan si Bapak, malah cenderung yang lebih salah adalah saya sendiri. Menepuk pundak??? Pada daerah dan tempat tertentu (misalnya di lingkungan mahasiswa), metode ini sudah cukup dikenal, tapi di daerah2 lain secara umum kadang bisa menyebabkan salah paham.
      Terima kasih atas masukannya, jangan “mba” lagi yaa… :mrgreen:

  34. lovira137 says:

    cerita kali ini benar2 mantap lah da
    judulnya sgt representatif
    haha, lain kali jadi imamnya gk usah pake tawar menawar lagi, siapa yg pantas… lgsg aja jd imamnya

    1. Tawar menawar kali sih enggak, cuma sekedar basa basi aja.. 🙂

  35. M Mursyid PW says:

    Setidaknya, si bapak masih mau mengerjakan sholat, karena di jaman skrg ini masih terlalu banyak mengaku Islam tetapi tidak sholat. Insya Allah niat yang tulus ikhlas akan tetap mendapatkan pahala Allah.

    1. Betul juga pak,
      liat aja pas waktu sholat masih banyak kok yang nggak ngeh dengan suara azan, padahal suara azan itu adalah panggilan Tuhan

  36. omiyan says:

    yang jelas ga berdosa mas … kan ditanggung sama Imamnya hahaha

    1. Haha… dosa sama pahala mah sebenarnya bukan hitung-hitungan kita, tapi perlu diketahui dong kapan kita bisa dapat pahala dan kapan kita bisa berdosa meskipun bukan dari perbuatan sendiri

  37. Sya says:

    Berarti besok-besok udah pede kalau disuruh jadi imam ya.

    1. Pedenya insyaallah sudah dari dulu, hehe… 🙂

  38. fitr4y says:

    Padang Panjang yaaaa …

    ingat sate mak syukuuurrrrr .. heheh 🙂

    1. Hehe… tekape cerita ini di rumah makan Pak Datuk, nggak jauh amat sama sate mak syukur 🙂

  39. Andhy says:

    Pernah kek gini, langsung imamnya saya tegur 😀
    dari pada salah kaprah hehe

    1. Itulah untungnya kalau imamnya mengerti tentang “teguran”, kalau tidak ya imamnya lanjut aja..

  40. syandrez says:

    g pp da, smua psti ada hikmahnya. smg bapak itu ttap diluruskan jalannya oleh Allah. lebih baik kan daripada ga sholat,.hiks. wallahu’alam… 🙂

    1. Iya ya… moga sholat kita yang mungkin jauh dari sempurna tetap diterima Allah SWT. AMin

  41. Kamal Hayat says:

    Sholat itu kewajiban kita, kita hendaknya harus rajin belajar tentang sholat dan pengetahuan agama islam

    1. harus dipelajari, dan orang tua adalah pihak yang semestinya bertanggung jawab untuk mengajari anaknya

  42. Gaphe says:

    hemm mungkin si bapak nggakk tahu kali.. namanya shalat jamaah anggapnya selalu imam bicara keras.

    yaa sudahlah, yang penting niatnya baik.
    innamal a’malu binniyaat kaan?

    1. Hee.. mungkin juga ya. Kek waktu kita masih anak-anak dulu pernah juga mikir begitu 🙂
      Amal tergantung niat, dan amal juga harus nyar’i

  43. Sugeng says:

    Aku pernah juga jamaah dengan teman yang sudah tua dan beranjak pensiun. Pas sholat dzuhur (jamaah bertiga)sudah kelebihan rakaat, saya sudah berucap “Subhanallah” dengan saya keraskan. Tapi dasar imamnya sangat bersemangat, ucapanku itu gak direspon. Dan herannya sang teman yang ikutan jadi makmum koq malah ikutan imam yang kelebihan rakaat.
    Setelah selesai sholat saya tanya teman yang jadi makmum, kenapa koq ngikut yang kelebihan. Jawaban nya koq enteng, imamnya berdiri aku juag berdiri (padahal dia tahu kalau kelebihan). **Geleng2 kepala aku

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    1. Hehe… kesalahannya jadi berjama’ah gitu ya. Mirip bapak-bapak kita di dewan, kan ada juga yang korupsinya rame-rame *oops.. 😳

  44. Agry says:

    Ngga melulu yang tua itu bener 🙂
    Semoga bapaknya bisa lebih bener lagi sholatnya, dan buat kita yang muda-muda ini, jangan berhenti belajar dan bersyukur 🙂

    1. Kalimat Arabnya mungkin seperti ini:

      Al hikmatu bi man shodaq, wa laa bi man sabaq…

      Hikmah itu terdapat pada orang yang benar, bukan pada orang yang lebih dahulu/lebih tua…
      Always be a learner… 🙂

  45. dheeasy says:

    pasti ada hikmahnya uda… 🙂

    1. ya, banyak sekali pelajaran di dalamnya 🙂

  46. salaam….

    astaghfirullah….
    mudah2an bisa dijadikan pelajaran buat kita semua…

    salaam mas Yori…

    1. Salam… ya pelajaran bagi saya, bagi si Bapak, dan bagi siapa saja yang membaca tulisan ini 🙂

  47. Rahad says:

    speechless deh 😕

    terus abis selesai sholat gmn?mas beritau gak bapaknya itu?

    1. Nggak… kitanya buru-buru karena mau ngelanjutin perjalanan ke Bukittinggi, dan si Bapak keknya buru-buru juga, dia keluar lebih dulu….

  48. Herman says:

    Untung lah mas yori, khan sholat berjamma’ah punya keuntungan ganda, walaupun imam tidak khusuk tapi ketika makmum nya khusuk sama-sama diterima kok, ^_^, mangkanya lebih asyik sholat berjamaah ^_^

    1. lebih baik kalo 22nya khusyu’ ^_^
      Berjamaah bikin hidup lebih hidup 🙂

  49. ysalma says:

    jadi PR untuk Yori tuh,sebagai calon pemimpin berikutnya.

    1. PR Kita-kita yang paham.
      PR Ayah/Ibu untuk anak-anaknya.
      PR kita untuk keluarga.
      PR ulama terhadap umat.

  50. ceritabudi says:

    Pastinya akan mengganggu konsentrasinya ya mas…semoga si Bapak mendapat petunjuk untuk melakukan yang benar

    1. Rumit memang… lagi-lagi kita perlu banyak belajar, termasuk belajar menyikapi keadaan

  51. tunsa says:

    terus? si bapak mas kasih tau nggak?
    biar tidak lupa.
    masya Allah..yukk adik2 kita ajarin sholat yg benar..
    salam

    1. Bapakku itu sepertinya sudah tau, buktinya setelah selesai shalat dia bilang “lupa tadi”. Mungkin karena sesuatu dan lain hal jadinya kelupaan gitu.

      Ya, ajarin anak/adik kita dari masa kecil

      1. tunsa says:

        kalau lupa berarti bukan kesalahan si bapak. tp itu mmg biasa trjadi pd orang tua..

        1. Iya, lupa bisa terjadi sama siapa aja…

  52. masyhury says:

    Wew.. ganti theme lagi ya mas.. 😀
    Urusan Ibadah biarlah Tuhan yang menilai. Asal kita sudah melakukannya dengan ikhlas dan penuh keyakinan, maka gak ada yang sia-sia.. 😆

    1. Betul, serahkan kembali pada Allah; dan shalat ada rukun dan syaratnya yang harus kita penuhi.

  53. hihihi…. saya jugah jadi ikut bingung… hihihi

    ^___^ salam kenal….
    saya baru kunjung pertama di sini

    salam sore yang hangat yah

    -widya, jakarta-

    1. hehe… dilarang ikut-ikutan bingung 🙂
      Salam kenal juga, selamat datang…

  54. alamendah says:

    Mas Yori keknya sudah melalui prosedur yg bener ttg pemilihan imam. Bukan sekedar tua tapi berdasarkan pertimbangan ‘mukim’.
    kalau toh hasil itu kemudian kemudian mengecewakan, Saya yakin Allah lebih tahu. Semoga Allah mngampuni kekhilafan Mas Yori, ketidaktahuan Si bapak Tua yg jadi imam itu, dan kita semua.

    1. Horeeee… saya dapat dukungan :mrgreen:
      Ya betul, saya sebenarnya punya alasan tersendiri mengapa saya lebih mengutamakan beliau untuk menjadi imam (bukan hanya sekedar perihal usia, tapi juga kriteria lain yang mesti diutamakan)

      Ya, amin. Wallahu a’lam bishshowab…

  55. jasmineamira says:

    yah, mas 🙁 aku sedih bacanya. masa sih kayak gitu? sedih 😥

    1. Ceritanya menyedihkan, yang punya kisah tidak hanya sedih tapi malu pada diri sendiri. Makanya kita mesti belajar banyak

  56. Salam
    Maaf baru blogging lagi
    Dah beli novel Sahaja Cinta kan? (iklan hehe)

    Berjamaah itu lebih mengasyikan lho 🙂

    1. Yee… ada iklan 🙂 Btw, saya sedang berusaha mencintai membaca kisah fiksi. Sudah ada beberapa buah novel dikasih tmn, tapi masih dalam bungkusan plastiknya *belum dibuka :mrgreen:

      Berjama’ah lebih mengasyikkan dan lebih utama

  57. alisnaik says:

    selamat pagi.

    ternyata umur yang lebih tua belum tentu lebih paham tentang sholat berjamaah.

    makasih atas tulisannya 🙂

    1. Betul, makanya salah satu pertimbangan dalam memilih imam tidak hanya berdasarkan usia tetapi ada kriteria lain yang lebih diutamakan 🙂

  58. dmilano says:

    Saleum,
    Luar biasa pengalaman bang yori,. Semoga hikmahnya tetap bisa bang yori ambil dari peristiwa tersebut.
    semoga tidak terulang lagi.
    saleum dmilano

    1. Ya, pengalaman berharga sekali. Semoga jadi pelajaran juga bagi yang lain. Salam

  59. dhila13 says:

    hmm… kadang kita memang begitu, sadar mampu tetapi tidak mau tampil. wallau’alam.

  60. Ya Allah, semoga si bapak sadar akan kesalahannya, dan diberi petunjuk agar bisa lebih baik lagi.
    dr sini kita bisa belajar banyak, bahwa belajar agama memang hrs dr kecil, agar benar2 faham ya Yori
    salam

    1. Betul Bun, belajar agama memang harus dari kecil. Karena agama butuh pengamalan, semakin lama ia dipelajari dan diamalkan, niscaya akah semakin paham 🙂

  61. Ifan Jayadi says:

    Wah, pastinya nggak khusyu banget sholatnya karena memikirkan kesalahan demi kesalahan yang terjadi. Ya, kalau sudah begitu serahkan saja semuanya kepada Allah SWT dan berdoa semoga kita dan bapak itu diberi petunjuk agar kedepannya lebih baik lagi

    1. Ya, darimana bisa khusyu’nya.. rasanya maluuu sekali. Kita perlu petunjuk memang

  62. Rusa says:

    tak ada salahnya masa sampeyan mendiskusiakn kepada bapak ttg itu
    pasti bapak nanti akan mengerti
    dan bangga sama sampeyan

    1. Betul juga, saya tidak menyempatkan diri untuk ngobrol bareng si Bapak, karena kitanya harus buru-buru dan si Bapak keknya buru-buru juga.

      Kadang, perlu pendekatan khusus untuk berbicara dengan orang yang lebih tua supaya tidak terkesan menggurui, apalagi sama orang yang belum kita kenal. Tapi, saya semestinya mencoba waktu itu…

  63. semoga setelah kejadian ini, si Bapak ada yang ngasih tahu & akan tahu tata cara Sholat. Bagaimana seandainya jika dia bapakku?:cry: Ya Allah, beri kami tambahan ilmu.

    1. ya, semoga si Bapak tambah faham dan semakin banyak belajar. pun kita…

  64. cenya95 says:

    subhanallah….

  65. mardiyanto says:

    wah posisi yg sulit dan serba gak enak.tapi kebenaran harus disampaikan walau pahit.mungkin benar si bapak itu muallaf, pelajaran yg tak terlupa.

    1. Pada dasarnya si Bapak keliatannya tau kok. Buktinya setelah selesai shalat, sebelum keluar dari musholla, beliau bilang “Lupa”

  66. cenya95 says:

    subhanallah…

  67. Lidya says:

    harusnya jujur saja ya

    1. Ya harusnya jujur saja…
      Tapi jujur itu kadang susah dan menyakitkan.
      Tapi di akhir shalat Bapakku ini bilang “Tadi lupa” *nyengir…

  68. namakuananda says:

    Subhanallah Allahu Akbar

  69. kikiriska28 says:

    masya allah,, separah itukah salah bapak itu???
    pasti solad jadi bener gag khusuk 🙁

    1. Maafkan bapakku itu ya… :mrgreen:

  70. inilah. kadang kita itu terlaru mendahulukan yang tua secara usia saja. memang benar bahwa yang lebih tua usianya itu lebih baik, tapi lebih utama lagi yang bacaan dan ia mengerti tata cara shalat. saya sendiri kadang masih suka menghindar. namun, pada akhirnya, saya selalu siap!

    seharusnya, Mas Yori pun memperingatkannya ”Barangsiapa yang terganggu oleh sesuatu dalam sholatnya, hendaklah ia mengucapkan ‘subhanalloh’. Sesungguhnya bertepuk tangan adalah bagi wanita sedangkan bertasbih adalah bagi laki-laki.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan An Nasa’i) Nah, ketika imam salah sebagaimana kasus di atas, maka sebaiknya mengikuti apa yang dimaksudkan hadits ini. Jika sang imam tersendat dalam sebuah aayat, maka setelah membaca tasbih dilanjutkan dengan membaca ayat yang dikelirukan oleh imam itu. kalau imam sudah lancar kembali kita diam kembali. Saya juga pernah waktu SMA, hanya kerana beliau lebih tua, jadi kita ikut lah jadi makmu, eh, pas zuhur, malah dikeraskan, dan parahnya ketika kita peringatkan dengan tasbih, yang bersangkutan malah nggak paham rupanya, jadi terus saja.

    Wa Allaahu A’lam, pada akhirnya, jika memang tidak bisa diingatkan ”Sesungguhnya telah dijadikan imam untuk diikuti.” (HR. Bukhori)

    1. Sepakat
      – ada ketentuan tentang siapa yang lebih berhak menjadi imam
      – pas si imam ditegur, ternyata nggak mudeng kalo beliau itu lagi ditegur jadinya lanjut aja..

      jazakumullah mas usup 🙂

  71. lia sikupu says:

    Menjaharkan bacaan shalat ketika berjamaah bukannya hanya untuk shalat subuh, magrib, dan isya ya?

    Allah Maha Tahu, Bang.

    1. Iya, betul…
      tapi si Bapak lupa kali, pas diingetin dia juga nggak ngerti

  72. lenfit says:

    nah, bsk2 klo ada yg nawarin jd imamsegera aja yori..

    1. jarang-jarang lho nolak jadi imam, tapi karena waktu itu status kita adalah pendatang tentu ada pertimbangan, ternyata keputusan dan pertimbangannya kurang matang

  73. bundamahes says:

    hmmm.. ga bisa komen! speechless sayanya 😯

    1. sayanya yang lebih speechless…
      Rasanya mau antukinpalakedinding *untung nggak jadi :mrgreen:

  74. ikhwanisifa rawi says:

    :)..Kali ini Asertif nya kurang tepat kali ya..loh..hehe

  75. niQue says:

    selalu harus ada yang jadi pertama kali,
    dan dengan kejadian ini pertama kalinya di hidup mas yori, menjadikan pelajaran agar lain kali tidak usah sungkan karena ada yang lebih tua, karena jumlah usia tidak bisa dijadikan patokan untuk ukuran kemampuan seseorang menjadi imam sholat 🙂

    1. Sebenarnya ada beberapa syarat dan ketentuan tentang siapa yang lebih berhak menjadi imam. Salah satunya adalah pribumi atau penguasa di daerah tersebut. Kalau kualitas bacaan kan nggak bisa ditebak

  76. choirul says:

    ya Allah… yang sami’allahu liman hamidah itu yang sungguh heran saya…

    semoga kita semakin rajin lagi untuk belajar agama….

    1. Heran juga, super heran malah…
      Iya, belajar agama itu harus dan penting, dan mendesak

  77. rangtalu says:

    ha ha…
    iyo mantap abang mah, ndak ba agiah isyarat bahwa inyo salah..?

    1. ada, dikasih isyarat kok…
      tapi dasar Bapakku ini kagak ngerti, yo wess lanjut aja…

  78. Asop says:

    Masya Allah…. saya bisa merasakan bagaimana perasaan Mas Yori… 😐
    Serba salah. “Jikalau tahu begini, biar aku saja yang jadi imamnya,” atau “kalau tahu belum lancar sholat, mengapa tidak menolak?” terpikirkan oleh saya. 😐

    Jadi, apakah bapak itu… seorang muallaf?

    1. Mualaf…? keknya nggak.
      daripada Asop, mending saya aja.. hehe..

  79. monda says:

    jadi,gimana? sholatnya diulang?

    1. *speechless…
      **bingung

Don't forget to give comment and questions :)