Sinusitis, a very unpleasant story to tell (part 2 of 3: Visiting a doctor)

Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan sebelumnya (part 1).

Jadi ceritanya saya sudah 2 minggu menderita gejala penyakit berupa sakit kepala, pusing, demam, batuk, hidung tersumbat, dll, sampai kemudian saya akhirnya memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis THT-KL (telinga, hidung, tenggorokan – kepala, leher).

Dengan sensasi setengah pusing dan sakit kepala, saya memaksakan diri untuk datang ke salah satu apotek/klinik yang juga merupakan tempat berprakteknya beberapa orang dokter dengan berbagai spesialisasi, termasuk dokter spesialis THT yang akan saya temui. Setelah mendaftarkan nama via phonecall pada sore harinya, akhirnya sekitar jam 19.30 saya sampai juga di lokasi yang dimaksud. Mendaftar ulang, mengantri, dan akhirnya panggilan itu datang juga: “Yori Yuliandra”.

Di dalam ruangan 3 x 3 m itu sudah menunggu seorang dokter yang kemudian segera menjawab salam saya. Dengan segera, beliau memulai percakapan dengan pertanyaan pembuka yang sangat umum untuk ditanyakan pada pasien.

Dokter : Sakit apa yang dirasakan?

Ternyata percakapan pembukanya tidak sama ya dengan percakapan apoteker dengan pasien dalam konseling dan pelayanan informasi obat. Hihi… baru tau, maklum ini adalah pertama kalinya saya mengunjungi dokter spesialis. Jadi begini, kalo kami sebagai apoteker, diajarkan pertama kali untuk memperkenalkan diri, misalnya “Selamat siang, perkenalkan saya adalah apoteker anda. Saya akan menyampaikan semua informasi yang perlu anda ketahui tentang obat yang anda terima supaya obat tersebut dapat digunakan dengan benar. Anda boleh menanyakan segala sesuatu tentang obat yang anda terima…”

Sebenarnya memperkenalkan diri bagi apoteker ini sangat penting mengingat eksistensinya yang masih kurang terasa sejauh ini. Kebanyakan masyarakat hanya mengenal apoteker sebatas orang yang bekerja di apotek; menyerahkan obat kepada pasien; memberitahu obat diminum sebelum dan sesudah makan; dan tidak lebih. Masyarakat pasti tidak tahu kalau apoteker juga belajar tentang fisiologi manusia, patofisiologi, farmakoterapi, bahkan juga interaksi obat, komunikasi informasi dan edukasi, dan lain sebagainya. Dan hampir dapat dipastikan bahwa masyarakat juga tidak tahu bahwa mereka berhak mendapatkan informasi tentang obat dan pengobatan yang mereka terima. Berdasarkan pengalaman saya pribadi sebagai seorang farmasis/apoteker, ada satu hal yang bikin ilfil dalam konsultasi obat dengan pasien: setelah diawali dengan perkenalan diri dan profesi apoteker, kemudian konsultasi obat, dan di akhir percakapan sang pasien tetap bilang “Makasih ya Dok…” Cape deeeh…

Kembali ke percakapan saya dengan dokter: Setelah menjelaskan gejala sakit kepala dan pusing yang saya alami hampir 2 minggu belakangan, kemudian beliau kembali bertanya

Dokter: Pusing yang dirasakan apakah pusing berputar atau pusing melayang?

Glek… saya yang dikasih pertanyaan seperti ini menjadi tambah pusing. Padalah tadinya saya sudah lupa kalau saya sedang pusing :mrgreen:

Saya: Lho, beda ya Dok? Saya kurang paham seperti apa perbedaannya. Boleh dijelaskan Dok???

Saya yang punya sifat pengen tau memang sering menteror seorang yang ahli di bidangnya untuk menjelaskan sesuatu yang saya ingin tau. Rasain tuh pak dokter :mrgreen:

Dokter: Kalau pusing berputar, setiap apa yang kita lihat seolah-olah berputar. Misalnya dinding ruangan ini akan terlihat seolah-olah berputar, padahal tidak. Sedangkan pusing melayang, kita tidak stabil dalam berdiri. Seolah-olah kita berjalan tidak menginjak lantai dan merasakan melayang, rasanya kita oleng dan akan jatuh.

Setelah saya pikir dan rasakan sensasi pusing ini dengan seksama, akhirnya saya memutuskan bahwa sensasi pusing yang saya alami adalah pusing melayang.

Saya: Ooo… Berarti saya pusing melayang Dok. Saya tidak merasakan sensasi berputar, tetapi yang jelas sekali saya rasakan adalah ketidakstabilan dalam berdiri. Jangankan berdiri, duduk bahkan tidur saja rasanya tidak nyaman sekali.

headlamp

Penjelasan berikutnya dari sang dokter ini yang membuat kecurigaan saya terhadap sinusitis menjadi semakin menjadi-jadi. Begitu juga dengan sang dokter yang kemudian menambahkan bahwa pusing melayang merupakan salah satu ciri dari gejala pusing akibat sinusitis. Tak lama kemudian, beliau memasang sebuah alat penerangan di kepalanya layaknya suatu topi (belakangan saya ketahui ternyata nama alatnya adalah headlamp), kemudian mengambil alat lainnya yang terbuat dari logam yang kemudian ia gunakan untuk memeriksa telinga saya kanan dan kiri. Busett, untung tabungan di telinga sudah saya keluarkan sehari sebelumnya… 😉 Oh ya, awalnya saya kira alat tersebut adalah gunting karena rupanya yang sedemikian, ternyata bukan. Setelah memeriksa telinga kanan dan kiri, beliau berkata

Dokter: Telinga sepertinya tidak ada masalah. Coba saya periksa hidung…

Kemudian sang dokter memasukkan alat seperti gunting tersebut ke dalam hidung saya, sambil meneranginya dengan senter yang ia kalungkan tepat di kepalanya. Sempat kepikiran juga apakah alatnya adalah alat yang tadi sudah masuk ke telinga atau alat yang baru lagi. Dari telinga, trus ke hidung. Akhh… Hihi…

Segera setelah memeriksa hidung yang kanan, beliau melanjutkan ke hidung yang kiri. Lho, hidung ada 2 ya??? Eh, maksud saya lubang hidung. Setelah memeriksa lubang hidung yang kiri, barulah beliau mengejutkan saya dengan

Dokter: Oh iya, ini ada rhinosinusitis.

Saya: Maksudnya sinusitis Dok?

Dokter: Iya, tapi terminologi mediknya adalah rhinosinusitis.

Setelah tanya berbalas jawab perihal definisi rhinosinusitis dan gejalanya, ia segera meletakkan beberapa medical devices yang baru saja ia gunakan, kemudian segera mengambil satu lembar kertas resep dan mengeluarkan pena dari sakunya.

Dokter: Hmm… saya resepkan antibiotik klindamisin ya. Mau yang generik atau yang bermerek?

Beliau memberikan saya opsi yang sangat “menarik”. Oh ya, di awal percakapan beliau juga menanyakan siapa saya, kuliah di mana, pekerjaannya apa. Pantas saja beliau terlihat nyaman berdiskusi dan bahkan memberikan saya opsi obat yang akan saya terima (begitu juga dengan saya). Setelah diberi pertanyaan seperti itu, saya spontan saja menjawab

Saya: Coba yang generik dulu dok :mrgreen:

Setelah menuliskan “Clindamycin” dengan kualitas tulisan di atas rata-rata “tulisan dokter” di lembaran resepnya, beliau kembali menuliskan beberapa obat lainnya sambil menyebutkan obatnya. Dokter yang baik, bela-belain menyebutkan nama obatnya supaya saya seolah-olah punya kesempatan untuk berkomentar atau bertanya tentang obat tersebut sambil ia menuliskannya.

READ ALSO:  Sinusitis, a very unpleasant story to tell (part 3 of 3: The recovery process)

Sebenarnya, saya mau saja berlama-lama dengan sang dokter. Pun ia sepertinya juga tidak keberatan melayani dan mendengarkan cerita saya tentang gejala penyakit yang saya rasakan. Tidak hanya itu, kami juga bercerita tentang tempat tinggal, pekerjaan, studi lanjut, dan lain sebagainya. Obrolan kami makin santai saja, karena saya yakin dokter tidak akan “mengusir” pasiennya dengan “Maaf ya, karena waktu saya terbatas jadi kita cukupkan sampai di sini”. Namun mengingat masih ada pasien di luar, saya segera bersiap untuk pamit.

Saya: Berapa biayanya Dok?

Dokter: ******* ribu saja <–maaf, bagian ini saya sensor :mrgreen:

Setelah bersalaman dan pamit, saya segera menebus obat yang diresepkan. Pulang, minum obat, istirahat, dan…

Bagaimana hasil dari pengobatan saya? Apakah saya masih merasakan gejala sakit kepala dan pusing selama pengobatan? Berapa hari waktu yang diperlukan untuk sembuh dan terhindar dari gejala tersebut? Simak tulisan selanjutnya di part 3 (bagian terakhir). Stay tuned 😉

Bersambung…

__________________

Peringatan: saya sengaja menuliskan nama obat di sini karena ada beberapa hal yang ingin saya bahas terkait dengan obat tersebut. Meskipun saya diresepkan obat tersebut, bukan berarti obat itu juga menjadi pilihan bagi penyakit sinusitis pada orang lain.

Yori Yuliandra
Follow me

Yori Yuliandra

A lecturer and researcher in the Faculty of Pharmacy, Andalas University, majoring pharmacology "the study of drugs" | A blogger (and webmaster at RankMudo.Net) | An enthusiast in higher education
Yori Yuliandra
Follow me

23 thoughts on “Sinusitis, a very unpleasant story to tell (part 2 of 3: Visiting a doctor)

  1. zaskia says:

    thanks sob untuk postingannya…
    article yang menarik,saya tunggu article berikutnya yach.hehe..
    maju terus dan sukses selalu…
    salam kenal yach…
    kunjungi blog saya ya sob,banyak tuh article2 yang seru buat dibaca..
    http://chaniaj.blogspot.com/

  2. dino says:

    lanjut bang!!!!

    Rumah bernuansa danau dengan lokasi strategis, klik http://www.citralakesawangan.com/lake_area_gambar_pemandangan/

  3. fitria febriana s says:

    kalau contoh pelayanan informasi obat yang benar itu seperti apa ya ? mohon bantuannya

  4. nuke says:

    Trus gue harus menulis sambungan cerita ini sendiri??? capek banget… :p

  5. Bu'E says:

    menunggu tulisan ke-3 karena penderitaan yang sama… bedanya penulis tahu banyak tentang dunia kesehatan, sementara saya minim… bener2 pengen sharing…

    1. Heee… nice to hear that. Ok Bu, ini lagi ditulis, mdh2an segera dilaunching 😉

  6. Wanna Be a Clinical Pharmacist :P says:

    Kok belum ada kelajutan kisahnya Da? 😀

  7. Meski bersambung, semoga sakit kepalanya tidak bersambung ya, Mas, alias sudah sembuh.

  8. rangtalu says:

    wah.. pusing tujuh keliling ga masuk dalam salah satu pembagian pusing ya?

    1. pusing 7 keliling keknya lebih dekat ke “vertigo”

  9. lovira137 says:

    wah kirain cuma 2 episod ternyata ada lagi yang ke tiga -.-
    hehe

    1. Iye ra.. puanjang kali….
      bel;um selese selese

  10. ksatria2610 says:

    Haha. Kirain dokternya nanya pusing aja apa pusing banget. Wkwkw

    1. banget banget banget dok…

  11. micelia says:

    ya bg, biasanya emang ditanyakan pekerjaan apa dan dimana.
    kalo bagi kami mahasiswa fk untungnya itu, jadinya ga bayar biaya konsul kalo dah dokternya dah tau :), obat tetep bayar, kadang ada dokter yg nyuruh bikin resep sendiri.

    btw, alat yg dimasukin ke telinga dan hidung itu beda bg. dan untuk org berbeda jg dibersihkan dulu.

    udah sembuh skrg bg yori?

    1. hidup mahasiswa fk… #eh

      Alatnya beda ya.. syukurlah *I guessed

      Kasih tau g ea? Hmm… alhamdulillah sdh kembali beraktivitas dengan baik. It took 3 weeks for me to be freed from such disease.

      Wait for the last part 😉

  12. yisha says:

    cie cie cie………
    pusing melayang ni yeeeeeeeee……….

  13. Fanny Novia says:

    yyaaaahh…pake lanjutan lagi ternyata…huhuhuu…penasaran, ada apa dengan obatnya? 😀

    1. tunggu part 3 (habis)

  14. JHD Musa says:

    Oh, itu headlamp ya? Alias lampu kepala 🙂

Don't forget to give comment and questions :)