Sinusitis, a very unpleasant story to tell (part 3 of 3: The recovery process)

Ini adalah bagian ke-3 dari tulisan saya tentang sinusitis. Tulisan pertama bercerita tentang bagaimana saya mendapatkan gejala penyakit ini, sedangkan tulisan kedua berkisah tentang pemeriksaan kondisi penyakit tersebut kepada dokter spesialis THT. Tulisan bagian akhir ini akan menceritakan tentang bagaimana proses penyembuhan selama mengkonsumsi obat dan bagaimana kondisi setelah pengobatan. So, stay tuned…

#SELAMA PENGOBATAN (SEMINGGU SETELAH PERIKSA KE DOKTER)

Apa saja obat yang saya terima?

Setelah berkonsultasi dengan sang dokter, saya diresepkan beberapa obat berikut untuk 1 minggu (saya kasih deh penjelasan ringkas tentang masing-masing obatnya ๐Ÿ˜‰

  • Klindamisin: merupakan suatu antibiotik (obat yang dapat membunuh bakteri/kuman) golongan linkosamid. Saya diresepkan obat ini karena, barangkali, saya mengalami infeksi pada rongga sinus sehingga timbul gejala dari penyakit sinusitis. Infeksi merupakan salah satu penyebab peradangan rongga sinus yang sangat umum. Selain infeksi, penyebab sinusitis yang lain adalah alergi dan juga kelainan struktural.
  • Rhinos SR (karena apoteknya nggak punya stok, maka obat tersebut kemudian diganti menjadi obat dengan merek Aldisa SR, komposisi obatnya sama kok): merupakan obat kombinasi yang mengandung loratadin dan pseudoefedrin. Loratadin adalah antihistamin (mirip dengan CTM tapi tanpa efek samping kantuk) sedangkan pseudoefedrin adalah dekongestan (untuk mengatasi hidung tersumbat). Awalnya saya agak kurang yakin apakah saya alergi sehingga dikasih antihistamin, ternyata belakangan saya sudah dapat menyimpulkan bahwa saya memang mengidap alergi terutama terhadap debu (barangkali ini adalah kenang-kenangan akibat pernah menderita sinusitis). Trus, hidung tersumbat? pastinya.
  • Ambroksol: adalah suatu mukolitik, yaitu obat yang dapat mengencerkan sputum (dahak maupun ingus). Obat ini juga membantu dalam mengatasi sumbatan pada hidung akibat lendir yang kental. Sebagai informasi tambahan, obat ini sering diberikan kepada pasien batuk berdahak. Kebetulan sekali bahwa saya juga mengalami batuk berdahak sewaktu memeriksakan diri ke dokter.

Bagaimana tanggapan saya terhadap obat yang saya terima?

Dalam status saya sebagai seorang pasien, saya (dan juga anda sebagai pasien) semestinya patuh terhadap instruksi pengobatan untuk keberhasilan terapi. Namun dalam status saya sebagai apoteker, saya punya beberapa tanggapan, unek-unek atau barangkali penjelasan tambahan terkait dengan obat yang saya terima. Mungkin sebelumnya juga pernah saya tulis bahwa dokter adalah ahli dalam mendiagnosis penyakit dan tidak ada profesi lain yang mempunyai kompetensi yang lebih baik daripada dokter dalam mendiagnosis penyakit, sedangkan apoteker adalah ahli obat dan bertugas dalam memastikan bahwa obat yang diterima oleh pasien adalah obat yang efektif dan aman sehingga diharapkan apoteker dapat mencegah, mengidentifikasi, dan memecahkan semua permasalahan yang berhubungan dengan obat. Dengan demikian, semestinya pasien berkonsultasi dengan apoteker terkait dengan obat/pengobatan yang diterima oleh pasien tersebut.

Pertama, tentang obat klindamisin yang saya terima. Oh ya, obat antiinfeksi (seperti klindamisin ini) sering digolongkan ke dalam pengobatan kausatif, yaitu pengobatan yang menghilangkan/mengatasi penyebab penyakit. Awalnya saya agak ragu dengan obat ini, karena saya tidak menemukan klindamisin sebagai salah satu obat pilihan dalam literatur standar terapi terhadap infeksi rongga sinus. Malah saya mendapati beberapa tulisan dan literatur yang menekankan bahwa antibiotik pada umumnya tidak diperlukan dalam pengobatan sinusitis. Jadi bingung kan??? Namun atas dasar mengedepankan keahlian diagnosis dari sang dokter yang tidak saya miliki, maka secara profesional saya memilih untuk tetap mengkonsumsi obat antibiotik tersebut. Selain itu, tulisan-tulisan di internet (apalagi jika bukan tulisan ilmiah) memang tidak dapat dijadikan sandaran utama, apalagi memposisikannya di atas pemeriksaan personal dari sang dokter.

READ ALSO:  What keeps me up at night?

Kedua, tentang obat lain selain klindamisin (yaitu: antihistamin, dekongestan, dan mukolitik), dimana obat-obat ini dikategorikan ke dalam pengobatan simtomatis, yaitu pengobatan yang meredakan/mengatasi gejala penyakit (gejala, bukan penyebab penyakit). Berbeda dengan pengobatan kausatif dimana obatnya harus diminum sampai habis, obat-obat pada pengobatan simtomatis hanya digunakan ketika gejala penyakitnya ada. Anda tidak perlu meminum obat pengencer dahak ketika batuk berdahak anda sudah tidak ada gejala lagi. Anda tidak perlu meminum obat untuk mengatasi hidung tersumbat ketika hidung anda memang tidak tersumbat. Kira-kira begitu.

Nah, kembali ke obat yang saya terima, sebenarnya saya berharap akan diresepkan obat antinyeri karena rasa sakit kepala yang saya rasakan memang sangat menyakitkan dan terjadi dalam waktu yang lama dan kadang berbilang jam. Namun ternyata tidak satupun obat yang diresepkan oleh dokter adalah obat antinyeri. Meskipun demikian, saya tetap tidak meminta secara khusus supaya diresepkan antinyeri. Mengapa? Karena tidak setiap gejala penyakit yang mengharuskan pasiennya menerima obat yang khusus mengatasi masing-masing gejala penyakit tersebut. Contohnya rasa sakit/nyeri yang saya alami dimana tidak ada obat yang diresepkan khusus untuk mengatasi nyeri. Atau gejala pusing yang juga tidak diberikan obat khususnya. Secara umum, gejala-gejala penyakit hilang dengan sendirinya sejalan dengan pengobatan kausatif. Wajar saja, karena penyebab sakitnya sudah diobati, maka otomatis gejala penyakitnya juga berangsur teratasi.

Apakah saya patuh terhadap pengobatan?

Tentang antibiotik klindamisin, ada beberapa alasan yang pada awalnya sempat membuat saya ragu untuk meminum obat ini:

  • Sebagaimana yang diuraikan di atas, bahwa penggunaan antibiotik dalam pengobatan sinusitis memang kurang lumrah, tapi bukan berarti tidak ada. Faktanya saya waktu itu memang sedang mengalami infeksi, dan hal ini bisa pastikan meskipun tanpa menjalani pemeriksaan laboratorium (misalnya dari gejala demam, batuk berdahak, dahak yang pekat, dll)
  • Klindamisin tidak termasuk ke dalam pilihan utama dalam mengatasi infeksi rongga sinus. Hal ini saya ketahui dari buku text book dan juga dari literatur internet, dimana tidak satu pun di antaranya yang mencantumkan obat antibiotik golongan linkosamid sebagai pilihan dalam mengatasi infeksi rongga sinus. Namun saya tetap mempercayakan hasil assessment dari dokter yang mungkin secara spesifik memang telah melihat ciri-ciri infeksi yang saya alami dan kemudian berkesimpulan bahwa bakteri penginfeksi tersebut dapat dibunuh oleh klindamisin.
  • Klindamisin mempunyai efek samping yang sangat mengganggu: radang tenggorokan. Betul-betul sangat mengganggu dan bahkan menyebabkan rasa tidak nyaman ketika minum apalagi makan. Namun, karena harapan yang sangat tinggi untuk terlepas dari penyakit sinusitis, maka saya tetap mengesampingkan efek samping tersebut. Hmm… “mengesampingkan efek samping” sepertinya merupakan suatu frasa yang sangat bagus. *Saya patenkan :mrgreen:
  • Sampai pada hari ke-3 atau 4 pengobatan, saya masih merasakan gejala pusing dan sakit kepala dengan intensitas yang tidak jauh berbeda dibandingkan dengan masa sebelum pengobatan. Hal inilah yang paling membuat saya tergoda untuk menghentikan pengobatan tersebut dan menganggap bahwa obat yang dipilihkan dokter tidak tepat sasaran. Namun, berdasarkan literatur yang saya pelajari, kebanyakan di antaranya memang menekankan bahwa semua gejala akan hilang ketika bakteri penyebab infeksinya sudah terbunuh. Makanya karena bakterinya belum sepenuhnya terbunuh, maka proses “pembunuhannya” tetap saya lanjutkan –> obat klindamisin saya habiskan sesuai dengan anjuran.
READ ALSO:  Butuh perspektif yang lebih baik

Tentang obat Aldisa SRย (loratadin dan pseudoefedrin)

Obat ini merupakan kombinasi dari suatu antihistamin dan dekongestan yang bertujuan untuk mengurangi gejala alergi dan hidung tersumbat. Pada hari pertama dimana obat ini saya minum, setelahnya saya menjadi susah tidur. Pada malam berikutnya, ketika meminum obat ini ternyata muncul lagi gejala susah tidur yang sama. Akhirnya saya sadar bahwa efek jantung berdebar yang membuat saya susah tidur tersebut adalah efek samping dari pseudoefedrin. Ya, pseudoefedrin adalah suatu obat simpatomimetik (yang meningkatkan aktivitas saraf simpatis), sehingga dapat menyebabkan efek samping berupa peningkatan aktivitas jantung. Akhirnya obat ini tidak saya minum dengan 2 alasan utama:

  • Alasan 1: obat ini termasuk ke dalam pengobatan simtomatis, yaitu obat yang bertujuan untuk mengurangi/mengatasi gejala penyakit. Artinya, obat ini tidak “wajib” saya minum meskipun konsekuensinya adalah gejala penyakit yang tidak teratasi oleh obat. Namun, saya memutuskan untuk menghentikannya karena saya menganggap bahwa gejala alergi/hidung berair dan hidung tersumbat yang saya alami lumayan bisa saya toleransi dan tidak terlalu mengganggu.
  • Alasan 2: efek samping dari obat ini sangat mengganggu, khususnya mengganggu istirahat saya. Berdasarkan pertimbangan “risk and benefit factor”, akhirnya saya memutuskan bahwa menghindari efek samping ini adalah lebih utama dibandingkan dengan mengambil manfaat antialergi dan dekongestan dari obat tersebut

Tentang ambroksol, obatnya tetap saya minum sampai sekira 3 hari, karena dahak dan lendir pada saluran pernafasan saya sudah mulai membaik dan hilang setelah 3 hari. Pada hari ke-4 obat ini saya hentikan.

#SETELAH MENGHABISKAN SEMINGGU MASA PENGOBATAN

READ ALSO:  Sinusitis, a very unpleasant story to tell (part 1 of 3: Bakti Farmasi, and what it brings)

Allahuakbar… itulah kalimat yang sudah terkumpul dalam perasaan kesyukuran saya kepada Allah SWT.

Selama 3 minggu menderita gejala sinusitis, saya sudah lupa bagaimana rasanya sehat. Saya lupa bagaimana rasanya berjalan tanpa merasa pusing, dan lupa bagaimana rasanya punya kepala yang tidak menanggung rasa nyeri. Kembali merasakan nikmat sehat membuat saya seolah-olah merasa hidup kembali. Inilah titik dimana saya sangat menyadari betapa besarnya nikmat sehat itu.

#SETELAH PENGOBATAN SAMPAI SEKARANG (2 BULAN SETELAHNYA)

Setelah menyelesaikan pengobatan dan mengklaim diri sembuh dari gejala pusing dan sakit kepala akibat sinusitis, maka saya lebih berhati-hati dan memberikan perhatian ekstra terhadap kondisi kesehatan sendiri. Misalnya:

  • Menghindari begadang, dan tidur lebih awal di waktu malam (paling lambat jam 11). Biasanya saya suka tidur larut malam hampir jam 1, bangun subuh, berangkat untuk beraktivitas di siang hari, dan pulang sebelum maghrib. Demikianlah rata-rata aktivitas harian saya. Rasanya agak wajar juga kalau saya dikasih “warning” berupa penyakit.
  • Menghindari hujan-hujanan dan penyebab lain yang bisa memancing flu, demam, sakit kepala, atau batuk.
  • Mengurangi intensitas berkendaraan untuk jarak yang cukup jauh. Semenjak dinyatakan sakit sampai hari ini, saya tidak pernah lagi pulkam dengan menggunakan sepeda motor. Apalagi mengingat bahwa jalur yang harus saya tempuh adalah jalur yang hampir selalu ada hujannya.
  • Berusaha untuk menghindari debu, asap kendaraan, asap rokok, dan juga orang yang sedang merokok :mrgreen:

Apakah ada yang berbeda saat ini?

Ya, ada satu hal yang sangat berbeda hari ini: salah satu hidung saya, eh, maksudnya salah satu lubang hidung saya selalu mampet (kalau nggak kiri ya kanan). Tapi alhamdulillah nggak dua-duanya. Selalu ada salah satunya yang lapang dan tidak tersumbat. Sepertinya ini adalah kenang-kenangan yang menjadi remembrance bagi saya pribadi. Overall, alhamdulillah.

foto salah satu rumah gonjong di daerah Kab. Solok Selatan, 4 jam perjalanan darat dari Padang (Perjalanan terjauh saya pasca sinusitis)
Gambar salah satu rumah gonjong di daerah Kab. Solok Selatan, 4 jam perjalanan darat dari Padang (Perjalanan terjauh saya pasca sinusitis)

++++++++++++++++

Peringatan: kisah dan pengalaman dalam tulisan ini tidak sepenuhnya dapat anda jadikan referensi dalam menggantikan tindakan profesional yang seharusnya hanya dapat diputuskan oleh profesional kesehatan yang berkompeten. Terima kasih.

Yori Yuliandra
Follow me

Yori Yuliandra

A lecturer and researcher in the Faculty of Pharmacy, Andalas University, majoring pharmacology "the study of drugs" | A blogger (and webmaster at RankMudo.Net) | An enthusiast in higher education
Yori Yuliandra
Follow me

Latest posts by Yori Yuliandra (see all)

18 thoughts on “Sinusitis, a very unpleasant story to tell (part 3 of 3: The recovery process)

  1. Agus says:

    Ya Allah ceritanya sangat menginspirasi untuk kesembuhan ,Subhanallah mba yori saya elergi cefixime dan levofloxaxin,,,,alhamdulillah saya tidak elergi ofloxaxin dan clindamycine

  2. rossandy says:

    wah….. pengalamannya hampir sama seperti saya, namun saya penderita Sinusitis plus Rhinitis, kalo kambuh dan kompakan sakitnya sampe nyesek banget nafasnya. itu semua karena deviasi septum alias kelainan dinding hidung. walau sudah dioperasi namun tetap saja suka kambuh. suka takut kalau bawa motor sendiri, tau2 pusing seperti mau jatuh

  3. nurfaa says:

    assalamu’alaikum Pak, saya juga menderita sinusitis hampir 5 tahun setelah divonis oleh dokter kalau saya terkena sinus, dan mungkin gejala awalnya sama seperti yang Bapak rasakan, entahlah,lupa karena saking lamanya.. namun dari pertama kali konsultasi dengan dokter, dokter menyarankan untuk segera dioperasi karena dua2nya mengalami peradangan, namun karena saya takut, akhirnya tidak jadi, sampai saya konsultasi lagi beberapa waktu lamanya, saran dokter tetap sama, harus dioperasi dan dokter hanya memberikan pengobatan simtomatis. dari keterangan penderita sinus yg saya dengar, jika pernah operasi kmungkinan sinus dapat kambuh lagi, jadi bisa beberapa kali operasi dan saya mengambil spekulasi jika operasi itu tidak menyembuhkan. Hal yang sangat mengangganggu saya ketika kumat itu, hidung tersumbat dengan lendir yang sangat kental sehingga untuk mengeluarkan pun susah, kadang tenggorokan seperti ada sesuatu yang mengganjal, dan itu sangat menyiksa.Saat ini saya sedang mengkonsumsi rhinos SR, apa saya perlu juga untuk mengkonsumsi Ambroksol?

    1. Waalaykumussalam. 5 tahun sudah lumayan lama berarti yaa. By the way, untuk kondisi tertentu memang operasi adalah pilihan utama untuk mengatasi sinusitis. Tindakan operasi sebenarnya menyembuhkan, dengan catatan pemicu sinusitis tersebut dihindarkan (sebagaimana yang diuraikan di dalam tulisan, ada beberapa etiologi/ mekanisme penyebabnya)

      Lendir yang kental bisa diatasi dengan Ambroxol. Tapi perlu diketahui bahwa penyebab hidung tersumbat tidak hanya lendir, tapi dapat juga akibat radang atau pembengkakan dari rongga hidung maupun rongga sinus tersebut.

      Tenggorokan berasa ada yang mengganjal bisa disebabkan oleh radang pada tenggorokan. Ini juga lumrah pada sinusitis. Barangkali dari kondisi yang disampaikan ini, sdr Nurfaa perlu obat antiradang. Meskipun demikian saya tetap selalu menyarankan untuk memeriksakan diri ke dokter. Penggunaan obat tanpa resep dokter dan tanpa informasi penggunaan obat juga punya resiko tersendiri

      Anyway, perlu juga kiranya saya sampaikan bahwa sejak tulisan ini dibuat, saya sudah 2 kali periksa ke dokter tht lagi, kambuh soalnya. Saya bisa saja beli dan pilihkan obat untuk saya sendiri, tapi saya tetap sangat menghargai keahlian dokter yang tidak saya miliki.

      Salam

  4. ria says:

    Assalamualaikum pak yori,
    Terima kasih byk infonya, sangat mencerahkan.
    Boleh saya bertanya pak? Dr kuliah saya sering batuk n radang tebpnggorokan, cuman sering dikasih resep antibiotik dan obat batuk saja. Berbulan2 br sembuh.
    Selama Tahun 2013 hampir dipastikan saya batuk terus.
    Nah sejak kabut asap melanda riau, awal januari kemarin, saya gak tahan nyeri dikepala, ga tahan sinar, suara dll. Tiba2 dpt ilham n kepikiran ke dokter spesialis tht. Dokter bilang ada gejala sinusitis. Oleh dokter sy dikasi antibiotik cefixime 2xsehari, aldisa sr loratadine 5mg, 2x sehari dan paracetamol pyrex 3xsehari. Seminggu setelah minum udah jauh bekurang, tp seminggu lagi kambuh lagi. Jadi sy ke dokter yg sama lagi. Ada 2 kali lagi saya ke dokter, dengan resep obat yg sama. Sekarang sakit kepala lagi, sangat nyeri. Bulan ini kambuh lagi. Sy rada desperate ke dokter lg. Sy kepikiran beli ulang resep dokter tsb. Td br saya minum sekali dan alhamdulillah jauh berkurang *legabanget*.
    Yg saya tanyakan bisakah sy ulang resep dokter ini terus kl kambuh lagi pak? Apa ada efek samping?
    Terima kasih banyak pak yori. Semoga sukses selalu yaa ๐Ÿ™‚
    Salam
    Ria

    1. Wa’alaykumussalam Mbak Ria…

      Saya turut bersimpati atas cobaan tsb ๐Ÿ™‚ Tiba-tiba saya jadi bernostalgia dengan kondisi serupa yang saya alami dulu ๐Ÿ˜‰

      Ada beberapa hal yang mungkin bisa saya sampaikan di sini, mungkin sekedar komentar atau bisa juga saran-saran sederhana.

      # Mengapa gejala muncul berulang (relaps)?

      gejala penyakit akan muncul jika penyebabnya ada. Pada kasus sinusitis, etiologi (penyebab) yang sudah sangat dipahami di antaranya adalah: alergi; infeksi; dan kelainan struktural. Etiologi ini lah yang semestinya kita tanyakan kepada dokter THT.
      – Jika penyebabnya adalah alergi, maka hindari penyebab alerginya (asap, debu, AC, dll), atau kemudian bantu dengan obat antialergi.
      – Jika penyebabnya adalah infeksi, maka cegah dengan meningkatkan imunitas tubuh misalnya dengan asupan makanan dan suplemen. Seandainya memang terjadi infeksi (berdasarkan pemeriksaan dokter), maka antibiotik adalah keharusan. Gunakan antibiotik dengan benar!

      Gejala yang muncul dapat diringankan dengan obat yang sesuai (pakai resep dokter ya…!)

      # Batuk terus…?
      Jelas sekali bahwa asap adalah salah satu pemicunya. Karena sudah terpicu, maka gejalanya muncul dengan otomatis. Do something with this…!

      # Obat dan swamedikasi
      – Sebaiknya hidari membeli obat sendiri (tanpa resep dokter), karena hal tersebut adalah salah satu modus utama terjadinya penggunaan obat yang tidak rasional (salah jenis obat, obat tidak sesuai dengan gejala sebenarnya, salah dosis, salah cara minum, dll). Meskipun sebelumnya obat-obat tersebut “sangat pas”, hal tersebut tidak selalu berlaku di setiap saat karena kondisi real kita juga tidak selalu sama setiap waktu.

      # Efek samping??
      Ada efek samping??? Hampir semua obat punya resiko efek samping. Misalnya: parasetamol bisa merusak hati; aldisa bisa meningkatkan kerja jantung; sefiksim bisa menyebabkan diare; dll. Ingat ya, ini resiko efek samping (possible side effects): bisa terjadi, bisa enggak…

      In conclusion: stay away from the trigger of your symptoms, so you might be free from drugs…

      May success be yours too. Cheers ๐Ÿ˜‰

  5. gadisa says:

    mksih atas ilmu yg bermanfaatnya,,,smoga slalu bertambah dan tetap berbagi?saya tertarik ttg cara membersihkan saluran pernafasan dg metode “neti pot”…bisa minta tolong gak kak untuk larutan yg digunakan?kl sy ga salah cmpurannya garam asli dan baking soda?apa itu benar?ada yg jual gak y di indonesia?trims

    1. Dalam beberapa tulisan di internet, memang memungkinkan bagi kita untuk membuat larutan ini. Tapi kalau menurut saya sebaiknya diskusikan dulu dengan dokter apakah teknik tersebut cocok dengan kondisi sinus kita.

      Larutan ini barangkali juga tersedia di apotek :mrgreen:

  6. Hai kak, nice post ttg sinusitis (1-3). btw saya jd pgn komen nih, sbg dokter, hehe. Antihistamin (loratadine) dan pseudoefedrin yg diberikan pada sinusitis bukan hanya utk mengurangi simtom seperti hidung tersumbat dan ingus, melainkan juga utk membantu terbukanya ‘pintu keluar’ sinus sehingga cairan mukus di dalam sinusnya bisa keluar dan penyembuhan bisa lebih cepat. pada penderita sinusitis, mukosa hidung serta ‘pintu keluar’ sinus mengalami bengkak sehingga pintu itu tertutup oleh bengkaknya, yg menyebabkan drainase cairan mukus di dalamnya tdk lancar. Nah drainase yg tidak lancar itulah yg menyebabkan radang dan bisa infeksi. Sedangkan si loratadine yg antihistamine itu kan diberikan utk mencegah pembengkakan mukosa si penutup pintu itu. Hehe maksud saya selain antibiotik, antihistamin juga sebaiknya diminum. Saya setuju efek samping pseudoefedrin sering cukup mengganggu bagi sbagian org, tp sptnya antihistamine bisa ditoleransi lah ya..
    Terus ttg antibiotik, betul sekali, sebagian besar sinusitis penyebabnya virus sehingga tidak perlu diberi antibiotik. Jd menurut saya sinusitis kakak 2 minggu pertama itu masih mungkin penyebabnya virus (yg jelas infeksi, krn tdapat demam. tapi belum pasti penyebabnya apakah virus/ bakteri). Tapi mengingat sudah 2 minggu lebih, pemberian antibiotik sgt wajar krn kmungkinannya sudah terjadi infeksi sekunder alias tubuh yg sudah terinfeksi virus kekebalannya melemah sehingga terinfeksi bakteri.
    Baiklah sekian komen saya, terima kasih atas artikel2nya yg menginspirasi ini.

    1. Hmm… penjelasan yang mencerahkan. Ya, beberapa antihistamin sering disebut juga sebagai drying agent, dan bisa membuka pintu keluar. Tapi saya memang sangat tidak bisa mentolerir efek samping dari obatnya: tremor dan takikardi, mulai dari pagi sampai malam karena obatnya SR.

      Yepp, infeksi sepertinya hampir bisa dipastikan meskipun tanpa pemeriksaan lab :mrgreen: Masing-masing kita pastinya mengetahui tubuh kita lebih baik, dan saya cukup dapat memahami bahwa warna, konsistensi, dan “rasa” sputum saya waktu itu *plus dengan malaise-nya* menandakan bahwa saya terinfeksi. Terima kasih juga komentarnya. Happy blogging… ๐Ÿ˜‰

  7. winnymarch says:

    senasib kita, saya menderita sinus, infeksi tenggrokan, amandel dari ekcil hingga sekarang

  8. Zura says:

    Aduh bg, aq kena sinus juga… *face palm*
    Ada yang nyaranin terapi infus selama +/- 3 bulan, apa bisa ya?
    Jadi infusnya diangetin dulu, terus ditetesin kehidung ntar keluarnya lewat mulut dilakukan +/- 10 kali.

    1. Ow… saya turut prihatin. Tapi mudah2an gejalanya tidak terlalu mengganggu.

      eniewei, penderita sinusitis memang disarankan untuk membersihkan rongga sinusnya. Mungkin kalau mau melihat tutorialnya coba googling aja “how to clear your sinuses”. Meskipun demikian saya tetap menganjurkan untuk melakukan pemeriksaan kepada dokter terlebih dahulu sebelum memutuskan langkah apa yang harus diambil.

  9. IP Camera says:

    artikelnya bagus dan bermanfaat

    salam kenal ya

  10. cepet sembuhh yaaaa ๐Ÿ™‚
    ga bs bayangin gimana sakitnya. mampet aja udah nyiksa.
    salam kenal

  11. Bu'E says:

    Hanya dicubit dipipi, mengingatkan untuk selalu bersyukur… mudah2an istiqomah…(masih berpikir dilanjutkan apa tidak strata 2 yg ditembuh dengan 12 jam perjalanan darat, membayangkannya begitu berat)

  12. Al-Mandawiy says:

    mantap tulisannyo.. ๐Ÿ™‚

  13. yisha says:

    wah, kaka abis jalan-jalan ya? makanya baru nyambungin post……. ๐Ÿ˜•

Don't forget to give comment and questions :)