Kita dan HIV/AIDS: Seberapa Dekat?

Dalam salah satu video yang diunggah di YouTube beberapa hari yang lalu, ada berita bagus dari dunia penelitian terkait dengan pengobatan HIV/AIDS. Singkatnya, kita semakin dekat dengan penemuan obat yang bisa digunakan untuk mencegah penularan dan menyembuhkan AIDS. Setiap tahun selalu ada kemajuan dan perkembangan dalam upaya ini. Saya tentunya sangat bergembira dengan perkembangan tersebut dan berharap kemajuan ini hendaknya semakin pesat dan signifikan

Di balik upaya yang besar di dalam penemuan pengobatan HIV/AIDS, kita sering lupa bahwa mencegah penularannya mungkin jauh lebih krusial dan lebih possible dibandingkan dengan pengobatannya. Data menunjukkan bahwa kecepatan penularan HIV dan kecepatan daya bunuhnya jauh melampaui kecepatan perkembangan pengobatannya.

Anyway, HIV/AIDS semakin menjadi concern saya sejak beberapa bulan belakangan. Meskipun sebenarnya saya sudah mengasuh mata kuliah yang salah satu bab-nya adalah tentang pengobatan HIV sejak beberapa tahun yang lalu, namun intensitas saya ngurusin penyakit yang satu ini baru saya rasakan belakangan ini. Adalah semenjak terlibat di dalam penelitian evaluasi obat antiretroviral yang digunakan oleh pasien HIV/AIDS dan kajian sosialnya, kemudian menyajikan hasil penelitiannya di dalam suatu seminar internasional beberapa bulan yang lalu, dan terakhir menulis artikel ilmiah yang akan terbit bulan ini dan dijadwalkan online bulan Desember nanti. Rasanya agak tertohok saja mengetahui bahwa saat ini kita hidup sangat dekat dengan penyakit ini. Betul, penyakit ini tanpa kita sadari sering menyelinap di dalam kehidupan kita sehari-hari, beredar di pasar-pasar yang sering kita singgahi (mungkin), atau barangkali juga singgah di beberapa orang kerabat yang kita kenal. Yapp, semua asumsi ini lahir begitu saja di dalam pikiran saya pasca membaca banyak hal tentang HIV/AIDS secara global dan lokal dan kemudian menyelesaikan penulisan artikel ilmiah tersebut.

READ ALSO:  Global warming: a controversy

Berikut adalah beberapa important shocking facts yang menjadi temuan kami tim peneliti terkait dengan fenomena ini. Dan temuan ini bersifat lokal, khususnya di Sumatera Barat:

  1. Bahwa PSK itu memang ada, dan kita tidak perlu tutup mata akan hal ini dan bertindak seolah-olah daerah kita adalah daerah bersyariah dan bebas dari PSK. Semakin kita tutup mata akan fakta ini, semakin susahlah pengendalian penularan HIV/AIDS. PSK memang ada sih, tapi menyampaikan statemen ini di bumi Minangkabau mungkin bakal banyak yang protes. Sekali lagi saya sampaikan “PSK di Sumbar memang ada, dan mayoritas penularan HIV/AIDS adalah berasal dari mereka”. Masih mau tutup mata?
  2. Bahwa gay sex (LSL) itu memang ada, dan hal ini menempati ranking ke-3 sebagai penyebab penularan HIV. Parahnya lagi, gaya seks menyimpang ini menjangkiti remaja usia sekolah. Wahai orang tua, kemana aja? *LSL means lelaki seks lelaki (dalam akronim bahasa Inggris disebut MSM, dengan arti yang sama).
  3. Bahwa anak-anak gadis kita lebih berisiko tertular HIV, dan bahwa perlu usaha ekstra untuk menjaga mereka dari penyakit pandemic ini. Perempuan muda, dengan segala properti dan karakteristiknya memang lebih fragile untuk urusan ini, mungkin. Sekali tertular, hidup tak lagi normal, penyakit dan maut jaraknya dari sehasta menjadi sejengkal
  4. Bahwa pacaran adalah salah satu faktor risiko penularan HIV, dan saya sepakat dengan ulama yang memfatwakan bahwa pacaran adalah haram. Dan mungkin ada perempuan yang tertular HIV dari pacar lelakinya yang sepertinya lelaki baik-baik dan berpendidikan. Dan mungkin sang perempuan muda ini tidak tau bahwa ia sudah tertular. Parahnya lagi, mungkin sang pacar si cowok yang sepertinya lelaki baik-baik juga tidak sadar bahwa ia sudah tertular dan ia sudah menulari si perempuan.
READ ALSO:  Minuman antioksidan dari gambir

Fakta-fakta yang diuraikan di atas tentu membuat Anda bertanya “Dari mana kesimpulan tersebut diperoleh?” Data lengkap beserta ulasan kami sebagai tim peneliti bisa dibaca pada artikel ilmiah yang akan dapat diakses secara online pada pertengahan Desember nanti.

Anyway, sebagai penutup, kiranya hidup di jalan yang benar dan nggak neko-neko adalah solusi paling jitu untuk bisa hidup jauh dari HIV/AIDS. Tutuplah pintu-pintu masuknya HIV. Nggak usah pacaran or maen perempuan, nggak usah temenan dengan pengguna obat-obatan tak bermasa depan. Saat ini kita memang dekat dengan HIV/AIDS, we just don’t notice it. However, semakin dekat dengan Allah SWT adalah solusi terbaik. Wallahu a’lam bisshowaab…

Yori Yuliandra
Follow me

Yori Yuliandra

A lecturer and researcher in the Faculty of Pharmacy, Andalas University, majoring pharmacology "the study of drugs" | A blogger (and webmaster at RankMudo.Net) | An enthusiast in higher education
Yori Yuliandra
Follow me

One thought on “Kita dan HIV/AIDS: Seberapa Dekat?

  1. Ami says:

    Udah lama nggak baca blogpost-nya Da 🙂 sangat bermanfaat dan relevan. Jadi penasaran dengan artikel ilmiahnya..

Don't forget to give comment and questions :)